Minggu, 05 Agustus 2012

Liefde

Ahh.. Senangnya bisa seperti ini. Puas sekali bisa memandangi wajahnya sedekat ini. Tak ada gadis seberuntungku detik ini. Pikiranku melayang bebas diotakku sambil sesekali tersenyum dibalik mug yang sedari tadi kuletakkan didekat wajahku berpura-pura menghirup coffe agar tidak terlalu kentara kalau aku sedang memperhatikannya. Ulp.. Dia menengok kearahku. Dan detik ini wajahku terlihat seperti idiot dengan mug digenggaman tanganku dan wajah melongo melihat ke-cool-an wajahnya. Aku jadi salah tingkah saat kurang lebih lima detik dia menatapku yang seperti idiot dengan menaikkan alis sebelah kirinya. Tapi detik berikutnya dia menghirup tehnya dan meneguknya sampai kandas tak bersisa. Dan selanjutnya dia kembali mengobrol dengan orang-orang yang berada disekitarku. Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku kearah kepalaku, dengan maksud membodohi diri sendiri untuk kedua kalinya mungkin. Membuat orang-orang disekitarku terheran-heran melihatku. "Lo kenapa Bel??" Pertanyaan Raina mengejutkanku, membuat aku menghentikan aksi bodohku dan terlihat semakin bodoh dengan telunjuk dikepalaku dan kepalaku miring 60 derajat kearah kanan. Aku tahu pasti semua orang yang saat ini melihatku akan menganggap bahwa aku adalah orang yang kabur dari rumah sakit jiwa dan sedang dalam masa pencarian. "Oh.. Eh.. Gue gak apa apa kok." Jawabku sambil membetulkan posisi dudukku. Dan orang yang pertama kali kulihat adalah Raihan. Tapi aku bersyukur dia sedang asyik mengobrol dengan yang lainnya. Dan aku berjanji tidak akan memperlihatkan kebodohanku lagi didepan orang yang kusukai. Ohya, namaku Bella Ragazza. Nama yang aneh menurutku dan nama yang bagus menurut Raina. Nama yang diambil dari bahasa Itali yang berarti Gadis Cantik. Cantik menurut papa dan akan berakibat buruk untuk temanKtemanku jika kuberitahu arti namaku. Dan tentu saja aku tahu apa maksud papa memberiku nama ini. Jika nama adalah doa orangtua, berarti papa berdoa agar aku kelak menjadi Gadis yang Cantik. Saat ini dengan berat tubuhku yang hanya 40kg dan tinggi badanku yang semampai membuatku dijuluki tiang listrik oleh teman-temanku. Tinggi, jangkung, kurus dan sama sekali tidak menarik. Ditambah lagi ada tiga jerawat di pipi kananku, dan satu jerawat di pipi kiriku juga tiga jerawat membentuk segitiga bermuda di dahiku sama sekali membuatku tidak sesuai harapan papa agar menjadi gadis yang cantik. Berbeda 180 derajat dengan Raina. Tubuhnya tinggi semampai dengan badan yang ideal. Aku sangat envy melihatnya. Tapi aku mempunyai selera tinggi tentang cowok dan Raihan adalah cowok yang lolos masuk kehatiku. Saat ini aku dan teman-teman sekelasku sedang menghadiri acara perayaan ulang tahun Yaya, teman sekelasku, di coffe shop dekat sekolah. Raina asyik sekali bisa mengobrol dengan Raihan, murid yang baru masuk dikelas kami tiga hari yang lalu dan tega membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku hanya bisa memandangi mereka dari balik mug yang sedari tadi bertengger digenggamanku. Aku yang pada saat mempunyai kesempatan untuk menamparkan senyum ke Raihan malah berpose seperti anak idiot. Huhh.. Menyebalkan sekali. "Huaa.. Surga sekali ini!!" teriakku dalam hati. Aku tersenyum memandangi Raihan yang duduk di sebelah serong kananku. Saat Bu Sarah selesai mengumumkan pembagian kelompok belajar. Dan yang kumaksud dengan surga adalah aku satu kelompok dengan Raihan. Huhh.. Saat ini aku sibuk sekali berpikir apa yang harus kugunakan saat akan kerumah Raihan nanti. Program kelompok belajar harus segera dilaksanakan karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas tiba, dan Raihan adalah ketua kelompok kami. Untuk awal belajar maka sesuai perjanjian belajar akan dimulai dirumah sang ketua. Aku mengaduk-aduk lemari pakaianku. Mencari potongan yang pas untuk kupakai. Aku ingin terlihat cantik saat kerumah Raihan nanti. Aku menyukai Raihan si cowok macho anak baru dikelasku, otomatis aku pasti ingin tampil cantik di pertama kali kerumahnya. Ini kusebut dengan kunjungan perdana. Dirumahku susah sekali mencari nasihat dari perempuan setelah mama meninggal 7 tahun lalu saat aku berusia 9tahun. Saat ini tak ada lagi yang menasihati tentang kepribadian perempuan untukku selain Mbok Yem. Tok!! Tok!! Tokk!! Kudengar suara ketukan pintu dan selanjutnya suara Mbok Yem. "Mbak, ada mbak Raina nih dibawah." suara halus dengan nada bahasa jawa yang medok milik mbok Yem kudengar dari depan pintu kamar. "Iya mbok. Suruh masuk kesini aja." Aku tak berhenti mengaduk-aduk lemari pakaianku sambil menjawab sahutan mbok Yem barusan. Tak sampai lima menit suara derakan kudengar dari arah pintu. Dan aku sudah tahu siapa yang masuk. Raina dengan celana jeans pendek berwarna hitam dan hoodie kebesaran berwarna ungu terlihat berjalan kearah tempat tidurku. Terlihat imut sekali dengan darah Jepang mengalir ditubuhnya tampak ia seperti gadis imut dari negeri ginseng, Korea Selatan. "Hoii.. Kok bengong lo??" sapanya mengibaskan tangan tepat didepan wajahku. "Lo kok belum selesai sih??" lanjutnya lagi sambil menyilangkan kedua kakinya. "Gue bingung mau pake apaan. Gue kan mau kelihatan cantik didepan Raihan. Ulp.." aku segera membekap mulut, aku keceplosan bicara. "Lo naksir Raihan Bel?? Hahaha.." Kan, sudah kuduga pasti Raina akan menertawaiku habis-habisan jika tahu kalau aku naksir Raihan. "Apaan sih lo??" aku menjawab sewot untuk menutupi salah tingkahku yang semakin menjadi. "Yahh.. Nggak apa-apa kali. Itu berarti lo normal ada kemajuan. Gue kira lo gak normal karna gak pernah naksir cowok. Gue janji kok gak bakalan bilang ke siapa-siapa." ucapnya sambil cengengesan, tapi membuatku lega. "Eh.. Rok siapa nih??" lanjutnya sambil mengacungkan sebuah rok mini hitam dihadapanku. "Rok gue." jawabku sambil mengaduk lemari lagi. "Pake ini aja . Keren lagi." anak idiot itu kini kurasa sudah gila menyuruhku memakai rok mini yang sudah pasti tak akan menutupi lututku. "Lo gila yah. Bisa mati karna ketawa tuh semua orang yang ada disana kalo ngeliat gue pake rok mini." Aku mengomel kearah Raina yang sedang tertawa. "Yah.. Kalo lo gak pede lo kan bisa pake stocking ini." Kali ini Raina mengacungkan stocking berwarna soft pink yang sedari tadi dipegangnya. "Cute. Baru kali ini gue liat lo cantik banget."komentar Raina saat aku selesai mengenakan potongan-potongan yang diusulkannya tadi. Aku dengan takut menghadap kearah kaca didekat tempat tidurku. Aku tak percaya kalau ini adalah aku. Seperti maju beberapa abad dari penampilanku sebelumnya. "Yuk berangkat.." Aku menyelipkan kaki-kaki mungilku disepatu berwarna pink cerah pemberian Yaya di ulangtahunku yang ke 16. Tingg !! Tongg !! Aku memencet bel rumah Raihan. Disampingku Yaya dan Raina sibuk memainkan handphonenya masing-masing. "Mana sih orangnya?? Lama banget. Mana panas lagi." Gerutuan Raina terdengar sampain telingaku. Aku mencoba memencet bel sekali lagi. Seseorang yang memakai tank top hitam dan celana pendek muncul dari balik pintu. "Hmm.. Siapa ya??" tanyanya sambil menamparkan senyum kepada kami bertiga. "Maaf kak. Raihannya ada??" tanya Raina sambil mengusap-usap lengannya yang seperti akan terbakar karena panas sekali. Dan sepertinya gadis cantik didepan kami ini menyadari kegelisahan Raina. "Eh.. Masuk deh." ucapnya sambil membuka pintu lebar-lebar. "Rey!!! Ada yang nyariin nih!!" teriak gadis itu sambil menuju masuk mencari Raihan. Tak lama kemudian si cowok macho Raihan muncul dari belakang. "Eh.. Udah lama nungguin??. Sori ya." ucapnya sambil duduk diatas sofa bergabung bersama kami. "Enggak kok baru aja dateng." aku buru-buru menjawab sambil memandangi Raihan yang sumpah keren banget. "Ohh.. Gitu. Yaudah deh kita mau langsung belajar atau gimana nih??" tanyanya lagi dan tersenyum kepadaku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. "Aldo sama Vino kan belum dateng Rey. Kita tunggu mereka aja dulu." ucap Raina. "Ohh. Yaudah deh. Aku ambil..." belum selesai Raihan bicara tiba-tiba gadis tadi turun dari tanggal sambil memanggil Raihan. "Reeyy!! Kakak pergi dulu yah. Itu susunya udah kakak buatin di atas meja makan. Jangan lupa diminum loh. Entar mama marah lagi. Yaudah yaa.. Kakak pergi dulu." "Susu??" Yaya bertanya sambil memandangi aku dan Raina secara bergantian. Raihan salah tingkah mendengar ucapan Yaya. Plukk.. Gadis itu mencium pipi Raihan membuat Raihan semakin salah tingkah. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. "Kamu berani kan dirumah sampai mama pulang?? Mama tadi telpon katanya agak maleman pulangnya." lanjut gadis itu lagi. "Iya udah kakak pergi aja cepetan." Raihan mendorong tubuh gadis itu kearah pintu. Tampaknya ia sudah sangat malu ditambah lagi Yaya menggumamkan kata susu tadi. "Iya iya kakak pergi ya. Dahh!!" gadis itu melambai ke arah kami dan Raihan dan menghilang dibalik pintu. *** "Bel, kamu yakin naksir sama anak mami gitu??" Raina bertanya sambil tertawa. "Yah enggaklah." jawabku ikutan tertawa bersama Raina dan Yaya. "Aku nggak nyangka deh orang se-macho Raihan ternyata anak mami dan masih minum susu pula." Yaya membuat tertawaan kami semakin keras dan nyaris membuatku mati karena terlalu banyak tertawa. kami terlarut dalam suasana dan aku bersyukur untungnya aku tidak terlalu menyukai Raihan. Jadi aku tidak terlalu menyesal karenanya. -END- -Rizka Salsabila Zain 16Mei 2012 11.30 @sunshiners3424

Sad Love Story

Namaku Jihan Safila. Aku terlahir sebagai seorang gadis cacat bermata buta ditengah-tengah hiruk pikuknya orang-orang miskin. Saat ini aku berumur 14 tahun. Dan satu hal yang membuatku sedih adalah AKU TIDAK BERSEKOLAH. Di kota kecilku ini mana ada sekolah luar biasa untuk orang-orang cacat sebangsaku. Karena aku tidak bersekolah otomatis aku tidak mempunyai teman. Saat aku ingin berteman dengan orang-orang sebayaku didekat pemukimanku, mereka malah bilang, "Jihan, berteman denganmu itu merepotkan. Mana bisa kamu main lompat tali, main masak-masakan, mandi dikali bersama kami. Jika kami berteman denganmu, kamu hanya akan membuat kami susah saja. Sudah sana pergi. Merepotkan." begitulah kira-kira cemoohan orang-orang sebayaku saat aku hendak mengajak mereka bermain bersama. Saat ini temanku hanya Rey. Seorang anak lelaki normal yang tinggal tak jauh dari rumahku. Rey adalah anak sekolah. Sungguh indah pikirku. Tapi tidak dengan Rey saat aku bilang kepadanya bahwa sekolah itu menyenangkan. "Rey, sudah pulang?" sapaku saat Rey menyentuh pundakku saat aku terduduk diatas kursi didepan rumahku tempo hari. Seperti kebiasaannya, agar aku mengenalinya. "Sudah Ji." jawabnya singkat. Aku merasakan dia duduk tepat disebelahku. "Bagaimana sekolahnya? Menyenangkan bukan?" tanyaku sambil menyunggingkan seulas senyum. "Menyenangkan apanya? Wong, pelajaran disekolah itu sulit." sahutnya sambil mendesis sebal. Mendengar logat jawanya yang kental aku tertawa lebar. "Eh, Ji. Mbok yo ora ngguyu ngopo toh?" ucapnya sebal. Aku tahu Rey sangat tidak suka ditertawakan, dalam hal apapun itu. Aku masih terus tertawa sementara Rey sudah kupastikan merasa geram melihat perlakuanku. "Rey, aku tidak mengerti bahasamu." sahutku sambil masih terus tertawa. "Oh iya aku lupa Ji." jawabnya sambil tertawa kecil. Tiba-tiba... "Hai, Rey!!" sapa seseorang kearah Rey yang masih duduk disebelahku. "Oh, hai. Krystal."Rey menjawab sapaannya. Sepertinya dia seorang gadis, bisa kudengar dari suaranya. "Rumahmu yang mana? Kita jadi pergi kan?" kudengar dari suara hentakan sepatunya mengarah kearah kami. Sepertinya itu suara sepatu mahal. Tidak sepertiku yang selalu 'nyeker' kemanapun kakiku melangkah. "Rumahku disana Ry. Sebentar ya, aku bersiap-siap dulu." sahut Rey menjauh dariku. Kudengar sepertinya gadis itu duduk disebelahku sambil menunggu Rey. "Hai." sapanya kearahku. Aku menolehkan wajahku kearah sumber suara. Tapi tidak dengan mataku. "Hai." aku mencoba melambaikan tanganku. "Kamu temannya Rey?" tanyanya padaku. "Iya. Aku berteman dengannya sudah 9tahun lamanya." kuulaskan sebuah senyum dibibirku. "oh. Kenalkan namaku Princess Krystal." "nama yang bagus. Seperti nama-nama di dongeng." kukulum sebuah senyum lagi dibibirku. "Aku Jihan. Jihan Safila." "Rey itu orang yang baik ya Jihan." sepertinya Krystal membuka percakapan kepadaku. "iya, baik banget. Selama ini nggak ada yang mau berteman denganku. Tapi tidak dengan Rey, dia tidak enggan untuk berteman denganku dengan keadaan buta sekalipun." sahutku bangga. "Wahh.. Nggak salah dong aku suka dengan dia. Kuutarakan saja nanti." Krystal bertepuk tangan girang, tanpa memperdulikanku. Memperdulikan hatiku. Seperti ada sebuah sembilu menohok ulu hatiku. Aku yang sudah bertahun-tahun menyukainya, menyayanginya dan mencintainya, sama sekali tak berani mengutarakan perasaanku. Karena aku tahu aku seorang yang buta. Aku cacat ! Tidak mungkin Rey mau menerimaku sebagai kekasihnya. "Rey, udah siap?" dapat kurasakan Krystal berdiri dan menghampiri Rey. "Sudah. Ayo kita pergi." sahut Rey. "Ji. Kami pergi dulu ya." lanjut anak laki-laki itu lagi. Aku hanya menyunggingkan sebuah kuluman senyum kecil ditengah-tengah hatiku yang membara tak mau padam. Perasaanku semakin bergejolak mengingat apa yang akan dikatakan Rey kepadaku sepulangnya nanti. Butiran-butiran bening merembes keluar dari mataku. Agaknya kali ini tak mau berhenti. "Rey, kita mau kemana?" Krystal menorehkan wajahnya ke arah Rey, disela-sela kegiatan menyetirnya. "Ry, temeni aku ke Jl. Cemara ya. Aku mau beli sesuatu untuk Jihan." Krystal sedikit menganga mendengarnya tapi buru-buru dia menguasai diri. "Oke." sambutnya sambil tersenyum. Dia tak mau terlihat bego didepan orang yang disukainya. - "Ji, kenapa? Matamu sembab." wanita paruh baya itu menyentuh pundakku. Wajahnya kalem menyiratkan kedamaian. Padahal aku tidak dapat melihatnya, tapi aku dapat merasakannya. "Ji nggak apa-apa bu." sahutku halus sebelum ibuku menanyakan macam-macam kepadaku. "yasudah Ji. Ibu mau berangkat dulu ya. Kamu nggak apa-apa kan dirumah sendirian? Rey kemana? Biasanya jam segini dia ada disini." ibuku seperti membangkitkan lagi sesuatu yang sudah sedikit kulupakan tadi. "Rey pergi." jawabku singkat. "oh yasudah. Ibu pergi ya Ji." ibu membuka pintu, dan menghilang dibalik pintu yang ditutupnya kembali. Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Melepas penatnya lelah karena menangis tadi. Tapi aku sama sekali tak bisa menikmati rehatku. Aku malah memikirkan kata-kata Krystal tadi. Aku tak sanggup jika harus mendengar ocehan Rey tentang hubungannya dengan Krystal sepulangnya nanti. - "Ji,, Jihan.. Ini aku Rey." kudengar sayup-sayup suara Rey mengetuk pintu. Memang pada akhirnya aku tertidur karena aku benar-benar lelah. Kuraba-raba dinding-dinding rumahku untuk memudahkanku berjalan kearah pintu. "Ji, matamu sembab. Habis menangis?" Rey memegangi pipiku. "Ji enggak apa-apa Rey. Jangan sentuh Ji." sahutku menepis tangan Rey dari wajahku. "Ji, kenapa? Kok aneh?" Rey mungkin jadi salah tingkah melihat perlakuanku. "Oh iya Ji, tadi aku...." aku buru-buru menyela. Tak mau mendengar apapun yang keluar dari mulutnya. "Ji nggak mau tau. Sekarang Rey pulang saja. Ji lelah." ucapku sambil mendorong dada bidang Rey dan menutup pintu. "Tapi Ji, aku mau bilang kalo aku tadi..." "Rey! Sudah. Ji nggak mau dengar." aku sedikit berteriak mengusirnya. Tapi dapat kurasakan Rey mendesis heran. Dan pada akhirnya dia mengalah untuk keluar. Aku berjongkok dilantai dibalik pintu yang sudah tertutup. Aku tahu Rey belum pulang. Tapi jika merasakan dia ada didekatku aku akan semakin mencintainya. -sementara dibalik pintu- Rey juga berjongkok memegangi ranselnya. Padahal ada sesuatu yang ingin diberikan kepada Jihan. Tapi anak perempuan itu kepalang salah paham. Dan Rey tidak tahu letak kesalahpahaman itu ada dimana? - Sudah hampir dua hari aku menjauhi Rey. Sebenarnya hatiku sakit, tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu satu-satunya cara agar aku menghapus rasa cintaku terhadap Rey. Dan sebenarnya juga tak ingin mendengar celotehan Rey tentang hubungannya dengan Krystal. Aku sebenarnya sedikit ragu dengan keputusanku. Belum tentu Rey menerima ungkapan Krystal. Tapi setelahnya aku yakin Rey pasti menerima Krystal. Dapat kurasakan kalau Krystal itu seorang gadis yang cantik. Buktinya saat dia duduk disebelahku harum shampo-nya menyruak masuk ke hidungku. Juga saat aku bersalaman dengannya dapat kurasakan tangannya yang halus lembut. Mana mungkin Rey mau menolak keanggunan Krystal yang sudah pasti menyukainya. Aku dilanda kegalauan yang luar biasa. Menghindari Rey sama dengan membunuh diriku secara tidak langsung. Aku mencintainya. Sungguh. - "Ji, Rey didepan tuh. Katanya mau ketemu kamu." ibu membuka pintu kamarku dan mendapatiku yang sedang berbaring di atas kasur. "dan oh iya Ji. Sepertinya Rey membawa sesuatu untukmu." Aku tersentak. Sesuatu? Sesuatu apa? - "Mau apa Rey kesini. Ji sibuk." ketus. Itulah yang kuucapkan saat menghampiri Rey yang sudah hampir 2 menungguku untuk keluar dari kamar. "Ji.. Kenapa? Akhir-akhir ini kok ngehindar?" Rey balik bertanya kepadaku. "Nggak apa-apa. Sudah cepat Ji sibuk. Mau apa kesini?" sahutku ketus. "Kok Ji aneh sih. Aku cuma mau bilang, kemarin itu aku sama Krystal..." "Stop!" aku menyela. Kecewa. Itulah yang kurasakan saat ini. Tega sekali Rey. Mau menceritakan kisah romannya dengan Krystal kepadaku. "Kenapa?" tanya Rey heran. Aku menggigit bibir bawahku. Menahan air yang merebak keluar dari mataku. "Aku sudah tau Rey. Kamu nggak perlu bilang lagi." "tahu apa?" tanya Rey padaku. Aku menghembuskan nafas kuat. "kamu..." ucapanku terhenti. Sepertinya air itu sudah keluar membasahi kedua pipiku. "Aku? Kenapa denganku?" ucapnya heran. "Rey, sudah pacaran dengan Krystal kan?" air mata itu semakin deras. Tetes demi tetes berubah menjadi aliran. Seperti aliran sungai. Aku takut. Takut kalau yang kukatakan barusan benar. "sudah puas nangisnya?" tanya Rey setelah kurang lebih sepuluh menit aku menangis. Aku hanya diam. "Ji yang kamu bilang tadi itu nggak benar. Aku mau bilang kalo aku mau ngasih ini sama kamu." Rey mengeluarkan kotak yang lumayan besar dari balik tubuhnya, aku dapat mendengarkan suara berisiknya. "ini kemarin aku beli bareng Krystal." lanjutnya lagi. Agaknya kali ini aku melakukan hal bodoh. Hal terbodoh didunia. Kesalah pahaman yang tidak penting. Sama sekali tidak penting. "Apa ini?" tanyaku sambil meraba-raba isi kotak itu. Terasa lembut. "kalo kamu mau nerima itu berarti kamu cinta sama aku. Kalo kamu balikin itu ke aku berarti kamu cuma nganggap aku temanmu. Sekarang kamu pilih yang mana?" Rey menembakku tepat dijantung. Perasaan membuncah menari-nari di hatiku. Aku memeluk isi kotak itu. Seperti sebuah boneka lucu. Dapat kurasakan Rey berpindah tampat duduk menjadi disebelahku. Detik berikutnya aku merasakan tubuhku berada didalam rengkuhannya yang kuat, tetapi terasa nyaman dan hangat. Tanpa kusadari ujung bibirku tertarik keatas mengulum sebuah senyuman. Senyuman kebahagiaan. :) -Rizka Salsabila Zain 1Agustus 2012 10.20 @Sunshiners3424

[FlashFiction] Suatu Hari Nanti...

"Suatu hari nanti,,
aku tau..
Kau pasti akan bersamaku..
Kembali padaku..
Dengan penuhnya cintamu untukku"

Frustasi.
Itulah yang anak laki-laki itu rasakan saat ini. Sudah lama ia tak bertemu dengan seseorang yang dicintainya. Terpisah jarak dan waktu yang membebani pikirannya.

Tak jarang ia memanjatkan doa. Agar kelak bertemu dengan orang itu. Orang pengisi mimpinya.

"apa kabar" hanya itu yang dapat dia ucapkan. Saat bertemu orang itu. Orang yang selama ini menjadi objek pikirannya.

Tapi orang itu hanya tersenyum dengan wajah berseri penuh kemilau cahaya. Saat dia hendak menyentuh wajahnya. Setumpuk pasir terhempas di dekat kakinya.

Kringgg...
Dia terbangun dari mimpinya. Tak ayal penyebabnya adalah ponselnya yang berbunyi.
"Halo.."
"kamu ke rumahnya sekarang. Datanglah. Dia sudah tiada."
selanjutnya..
Sambungan itu mati tanpa meninggalkan suara sedikitpun. Saat ini yang ia dengar hanyalah suara degup jantungnya yang sepertinya sedang marathon. Mengalami percepatan gila-gilaan.

Dia yakin. Ini ada hubungannya dengan mimpinya barusan.

Orang itu..

Sudah tiada..



-Rizka Salsabila
3 Agustus 2012
9.25 :)
@Sunshiners3424

Bonjour & Welcome

Bestfriends

Minggu, 05 Agustus 2012

Liefde

Ahh.. Senangnya bisa seperti ini. Puas sekali bisa memandangi wajahnya sedekat ini. Tak ada gadis seberuntungku detik ini. Pikiranku melayang bebas diotakku sambil sesekali tersenyum dibalik mug yang sedari tadi kuletakkan didekat wajahku berpura-pura menghirup coffe agar tidak terlalu kentara kalau aku sedang memperhatikannya. Ulp.. Dia menengok kearahku. Dan detik ini wajahku terlihat seperti idiot dengan mug digenggaman tanganku dan wajah melongo melihat ke-cool-an wajahnya. Aku jadi salah tingkah saat kurang lebih lima detik dia menatapku yang seperti idiot dengan menaikkan alis sebelah kirinya. Tapi detik berikutnya dia menghirup tehnya dan meneguknya sampai kandas tak bersisa. Dan selanjutnya dia kembali mengobrol dengan orang-orang yang berada disekitarku. Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku kearah kepalaku, dengan maksud membodohi diri sendiri untuk kedua kalinya mungkin. Membuat orang-orang disekitarku terheran-heran melihatku. "Lo kenapa Bel??" Pertanyaan Raina mengejutkanku, membuat aku menghentikan aksi bodohku dan terlihat semakin bodoh dengan telunjuk dikepalaku dan kepalaku miring 60 derajat kearah kanan. Aku tahu pasti semua orang yang saat ini melihatku akan menganggap bahwa aku adalah orang yang kabur dari rumah sakit jiwa dan sedang dalam masa pencarian. "Oh.. Eh.. Gue gak apa apa kok." Jawabku sambil membetulkan posisi dudukku. Dan orang yang pertama kali kulihat adalah Raihan. Tapi aku bersyukur dia sedang asyik mengobrol dengan yang lainnya. Dan aku berjanji tidak akan memperlihatkan kebodohanku lagi didepan orang yang kusukai. Ohya, namaku Bella Ragazza. Nama yang aneh menurutku dan nama yang bagus menurut Raina. Nama yang diambil dari bahasa Itali yang berarti Gadis Cantik. Cantik menurut papa dan akan berakibat buruk untuk temanKtemanku jika kuberitahu arti namaku. Dan tentu saja aku tahu apa maksud papa memberiku nama ini. Jika nama adalah doa orangtua, berarti papa berdoa agar aku kelak menjadi Gadis yang Cantik. Saat ini dengan berat tubuhku yang hanya 40kg dan tinggi badanku yang semampai membuatku dijuluki tiang listrik oleh teman-temanku. Tinggi, jangkung, kurus dan sama sekali tidak menarik. Ditambah lagi ada tiga jerawat di pipi kananku, dan satu jerawat di pipi kiriku juga tiga jerawat membentuk segitiga bermuda di dahiku sama sekali membuatku tidak sesuai harapan papa agar menjadi gadis yang cantik. Berbeda 180 derajat dengan Raina. Tubuhnya tinggi semampai dengan badan yang ideal. Aku sangat envy melihatnya. Tapi aku mempunyai selera tinggi tentang cowok dan Raihan adalah cowok yang lolos masuk kehatiku. Saat ini aku dan teman-teman sekelasku sedang menghadiri acara perayaan ulang tahun Yaya, teman sekelasku, di coffe shop dekat sekolah. Raina asyik sekali bisa mengobrol dengan Raihan, murid yang baru masuk dikelas kami tiga hari yang lalu dan tega membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku hanya bisa memandangi mereka dari balik mug yang sedari tadi bertengger digenggamanku. Aku yang pada saat mempunyai kesempatan untuk menamparkan senyum ke Raihan malah berpose seperti anak idiot. Huhh.. Menyebalkan sekali. "Huaa.. Surga sekali ini!!" teriakku dalam hati. Aku tersenyum memandangi Raihan yang duduk di sebelah serong kananku. Saat Bu Sarah selesai mengumumkan pembagian kelompok belajar. Dan yang kumaksud dengan surga adalah aku satu kelompok dengan Raihan. Huhh.. Saat ini aku sibuk sekali berpikir apa yang harus kugunakan saat akan kerumah Raihan nanti. Program kelompok belajar harus segera dilaksanakan karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas tiba, dan Raihan adalah ketua kelompok kami. Untuk awal belajar maka sesuai perjanjian belajar akan dimulai dirumah sang ketua. Aku mengaduk-aduk lemari pakaianku. Mencari potongan yang pas untuk kupakai. Aku ingin terlihat cantik saat kerumah Raihan nanti. Aku menyukai Raihan si cowok macho anak baru dikelasku, otomatis aku pasti ingin tampil cantik di pertama kali kerumahnya. Ini kusebut dengan kunjungan perdana. Dirumahku susah sekali mencari nasihat dari perempuan setelah mama meninggal 7 tahun lalu saat aku berusia 9tahun. Saat ini tak ada lagi yang menasihati tentang kepribadian perempuan untukku selain Mbok Yem. Tok!! Tok!! Tokk!! Kudengar suara ketukan pintu dan selanjutnya suara Mbok Yem. "Mbak, ada mbak Raina nih dibawah." suara halus dengan nada bahasa jawa yang medok milik mbok Yem kudengar dari depan pintu kamar. "Iya mbok. Suruh masuk kesini aja." Aku tak berhenti mengaduk-aduk lemari pakaianku sambil menjawab sahutan mbok Yem barusan. Tak sampai lima menit suara derakan kudengar dari arah pintu. Dan aku sudah tahu siapa yang masuk. Raina dengan celana jeans pendek berwarna hitam dan hoodie kebesaran berwarna ungu terlihat berjalan kearah tempat tidurku. Terlihat imut sekali dengan darah Jepang mengalir ditubuhnya tampak ia seperti gadis imut dari negeri ginseng, Korea Selatan. "Hoii.. Kok bengong lo??" sapanya mengibaskan tangan tepat didepan wajahku. "Lo kok belum selesai sih??" lanjutnya lagi sambil menyilangkan kedua kakinya. "Gue bingung mau pake apaan. Gue kan mau kelihatan cantik didepan Raihan. Ulp.." aku segera membekap mulut, aku keceplosan bicara. "Lo naksir Raihan Bel?? Hahaha.." Kan, sudah kuduga pasti Raina akan menertawaiku habis-habisan jika tahu kalau aku naksir Raihan. "Apaan sih lo??" aku menjawab sewot untuk menutupi salah tingkahku yang semakin menjadi. "Yahh.. Nggak apa-apa kali. Itu berarti lo normal ada kemajuan. Gue kira lo gak normal karna gak pernah naksir cowok. Gue janji kok gak bakalan bilang ke siapa-siapa." ucapnya sambil cengengesan, tapi membuatku lega. "Eh.. Rok siapa nih??" lanjutnya sambil mengacungkan sebuah rok mini hitam dihadapanku. "Rok gue." jawabku sambil mengaduk lemari lagi. "Pake ini aja . Keren lagi." anak idiot itu kini kurasa sudah gila menyuruhku memakai rok mini yang sudah pasti tak akan menutupi lututku. "Lo gila yah. Bisa mati karna ketawa tuh semua orang yang ada disana kalo ngeliat gue pake rok mini." Aku mengomel kearah Raina yang sedang tertawa. "Yah.. Kalo lo gak pede lo kan bisa pake stocking ini." Kali ini Raina mengacungkan stocking berwarna soft pink yang sedari tadi dipegangnya. "Cute. Baru kali ini gue liat lo cantik banget."komentar Raina saat aku selesai mengenakan potongan-potongan yang diusulkannya tadi. Aku dengan takut menghadap kearah kaca didekat tempat tidurku. Aku tak percaya kalau ini adalah aku. Seperti maju beberapa abad dari penampilanku sebelumnya. "Yuk berangkat.." Aku menyelipkan kaki-kaki mungilku disepatu berwarna pink cerah pemberian Yaya di ulangtahunku yang ke 16. Tingg !! Tongg !! Aku memencet bel rumah Raihan. Disampingku Yaya dan Raina sibuk memainkan handphonenya masing-masing. "Mana sih orangnya?? Lama banget. Mana panas lagi." Gerutuan Raina terdengar sampain telingaku. Aku mencoba memencet bel sekali lagi. Seseorang yang memakai tank top hitam dan celana pendek muncul dari balik pintu. "Hmm.. Siapa ya??" tanyanya sambil menamparkan senyum kepada kami bertiga. "Maaf kak. Raihannya ada??" tanya Raina sambil mengusap-usap lengannya yang seperti akan terbakar karena panas sekali. Dan sepertinya gadis cantik didepan kami ini menyadari kegelisahan Raina. "Eh.. Masuk deh." ucapnya sambil membuka pintu lebar-lebar. "Rey!!! Ada yang nyariin nih!!" teriak gadis itu sambil menuju masuk mencari Raihan. Tak lama kemudian si cowok macho Raihan muncul dari belakang. "Eh.. Udah lama nungguin??. Sori ya." ucapnya sambil duduk diatas sofa bergabung bersama kami. "Enggak kok baru aja dateng." aku buru-buru menjawab sambil memandangi Raihan yang sumpah keren banget. "Ohh.. Gitu. Yaudah deh kita mau langsung belajar atau gimana nih??" tanyanya lagi dan tersenyum kepadaku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. "Aldo sama Vino kan belum dateng Rey. Kita tunggu mereka aja dulu." ucap Raina. "Ohh. Yaudah deh. Aku ambil..." belum selesai Raihan bicara tiba-tiba gadis tadi turun dari tanggal sambil memanggil Raihan. "Reeyy!! Kakak pergi dulu yah. Itu susunya udah kakak buatin di atas meja makan. Jangan lupa diminum loh. Entar mama marah lagi. Yaudah yaa.. Kakak pergi dulu." "Susu??" Yaya bertanya sambil memandangi aku dan Raina secara bergantian. Raihan salah tingkah mendengar ucapan Yaya. Plukk.. Gadis itu mencium pipi Raihan membuat Raihan semakin salah tingkah. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. "Kamu berani kan dirumah sampai mama pulang?? Mama tadi telpon katanya agak maleman pulangnya." lanjut gadis itu lagi. "Iya udah kakak pergi aja cepetan." Raihan mendorong tubuh gadis itu kearah pintu. Tampaknya ia sudah sangat malu ditambah lagi Yaya menggumamkan kata susu tadi. "Iya iya kakak pergi ya. Dahh!!" gadis itu melambai ke arah kami dan Raihan dan menghilang dibalik pintu. *** "Bel, kamu yakin naksir sama anak mami gitu??" Raina bertanya sambil tertawa. "Yah enggaklah." jawabku ikutan tertawa bersama Raina dan Yaya. "Aku nggak nyangka deh orang se-macho Raihan ternyata anak mami dan masih minum susu pula." Yaya membuat tertawaan kami semakin keras dan nyaris membuatku mati karena terlalu banyak tertawa. kami terlarut dalam suasana dan aku bersyukur untungnya aku tidak terlalu menyukai Raihan. Jadi aku tidak terlalu menyesal karenanya. -END- -Rizka Salsabila Zain 16Mei 2012 11.30 @sunshiners3424

Sad Love Story

Namaku Jihan Safila. Aku terlahir sebagai seorang gadis cacat bermata buta ditengah-tengah hiruk pikuknya orang-orang miskin. Saat ini aku berumur 14 tahun. Dan satu hal yang membuatku sedih adalah AKU TIDAK BERSEKOLAH. Di kota kecilku ini mana ada sekolah luar biasa untuk orang-orang cacat sebangsaku. Karena aku tidak bersekolah otomatis aku tidak mempunyai teman. Saat aku ingin berteman dengan orang-orang sebayaku didekat pemukimanku, mereka malah bilang, "Jihan, berteman denganmu itu merepotkan. Mana bisa kamu main lompat tali, main masak-masakan, mandi dikali bersama kami. Jika kami berteman denganmu, kamu hanya akan membuat kami susah saja. Sudah sana pergi. Merepotkan." begitulah kira-kira cemoohan orang-orang sebayaku saat aku hendak mengajak mereka bermain bersama. Saat ini temanku hanya Rey. Seorang anak lelaki normal yang tinggal tak jauh dari rumahku. Rey adalah anak sekolah. Sungguh indah pikirku. Tapi tidak dengan Rey saat aku bilang kepadanya bahwa sekolah itu menyenangkan. "Rey, sudah pulang?" sapaku saat Rey menyentuh pundakku saat aku terduduk diatas kursi didepan rumahku tempo hari. Seperti kebiasaannya, agar aku mengenalinya. "Sudah Ji." jawabnya singkat. Aku merasakan dia duduk tepat disebelahku. "Bagaimana sekolahnya? Menyenangkan bukan?" tanyaku sambil menyunggingkan seulas senyum. "Menyenangkan apanya? Wong, pelajaran disekolah itu sulit." sahutnya sambil mendesis sebal. Mendengar logat jawanya yang kental aku tertawa lebar. "Eh, Ji. Mbok yo ora ngguyu ngopo toh?" ucapnya sebal. Aku tahu Rey sangat tidak suka ditertawakan, dalam hal apapun itu. Aku masih terus tertawa sementara Rey sudah kupastikan merasa geram melihat perlakuanku. "Rey, aku tidak mengerti bahasamu." sahutku sambil masih terus tertawa. "Oh iya aku lupa Ji." jawabnya sambil tertawa kecil. Tiba-tiba... "Hai, Rey!!" sapa seseorang kearah Rey yang masih duduk disebelahku. "Oh, hai. Krystal."Rey menjawab sapaannya. Sepertinya dia seorang gadis, bisa kudengar dari suaranya. "Rumahmu yang mana? Kita jadi pergi kan?" kudengar dari suara hentakan sepatunya mengarah kearah kami. Sepertinya itu suara sepatu mahal. Tidak sepertiku yang selalu 'nyeker' kemanapun kakiku melangkah. "Rumahku disana Ry. Sebentar ya, aku bersiap-siap dulu." sahut Rey menjauh dariku. Kudengar sepertinya gadis itu duduk disebelahku sambil menunggu Rey. "Hai." sapanya kearahku. Aku menolehkan wajahku kearah sumber suara. Tapi tidak dengan mataku. "Hai." aku mencoba melambaikan tanganku. "Kamu temannya Rey?" tanyanya padaku. "Iya. Aku berteman dengannya sudah 9tahun lamanya." kuulaskan sebuah senyum dibibirku. "oh. Kenalkan namaku Princess Krystal." "nama yang bagus. Seperti nama-nama di dongeng." kukulum sebuah senyum lagi dibibirku. "Aku Jihan. Jihan Safila." "Rey itu orang yang baik ya Jihan." sepertinya Krystal membuka percakapan kepadaku. "iya, baik banget. Selama ini nggak ada yang mau berteman denganku. Tapi tidak dengan Rey, dia tidak enggan untuk berteman denganku dengan keadaan buta sekalipun." sahutku bangga. "Wahh.. Nggak salah dong aku suka dengan dia. Kuutarakan saja nanti." Krystal bertepuk tangan girang, tanpa memperdulikanku. Memperdulikan hatiku. Seperti ada sebuah sembilu menohok ulu hatiku. Aku yang sudah bertahun-tahun menyukainya, menyayanginya dan mencintainya, sama sekali tak berani mengutarakan perasaanku. Karena aku tahu aku seorang yang buta. Aku cacat ! Tidak mungkin Rey mau menerimaku sebagai kekasihnya. "Rey, udah siap?" dapat kurasakan Krystal berdiri dan menghampiri Rey. "Sudah. Ayo kita pergi." sahut Rey. "Ji. Kami pergi dulu ya." lanjut anak laki-laki itu lagi. Aku hanya menyunggingkan sebuah kuluman senyum kecil ditengah-tengah hatiku yang membara tak mau padam. Perasaanku semakin bergejolak mengingat apa yang akan dikatakan Rey kepadaku sepulangnya nanti. Butiran-butiran bening merembes keluar dari mataku. Agaknya kali ini tak mau berhenti. "Rey, kita mau kemana?" Krystal menorehkan wajahnya ke arah Rey, disela-sela kegiatan menyetirnya. "Ry, temeni aku ke Jl. Cemara ya. Aku mau beli sesuatu untuk Jihan." Krystal sedikit menganga mendengarnya tapi buru-buru dia menguasai diri. "Oke." sambutnya sambil tersenyum. Dia tak mau terlihat bego didepan orang yang disukainya. - "Ji, kenapa? Matamu sembab." wanita paruh baya itu menyentuh pundakku. Wajahnya kalem menyiratkan kedamaian. Padahal aku tidak dapat melihatnya, tapi aku dapat merasakannya. "Ji nggak apa-apa bu." sahutku halus sebelum ibuku menanyakan macam-macam kepadaku. "yasudah Ji. Ibu mau berangkat dulu ya. Kamu nggak apa-apa kan dirumah sendirian? Rey kemana? Biasanya jam segini dia ada disini." ibuku seperti membangkitkan lagi sesuatu yang sudah sedikit kulupakan tadi. "Rey pergi." jawabku singkat. "oh yasudah. Ibu pergi ya Ji." ibu membuka pintu, dan menghilang dibalik pintu yang ditutupnya kembali. Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Melepas penatnya lelah karena menangis tadi. Tapi aku sama sekali tak bisa menikmati rehatku. Aku malah memikirkan kata-kata Krystal tadi. Aku tak sanggup jika harus mendengar ocehan Rey tentang hubungannya dengan Krystal sepulangnya nanti. - "Ji,, Jihan.. Ini aku Rey." kudengar sayup-sayup suara Rey mengetuk pintu. Memang pada akhirnya aku tertidur karena aku benar-benar lelah. Kuraba-raba dinding-dinding rumahku untuk memudahkanku berjalan kearah pintu. "Ji, matamu sembab. Habis menangis?" Rey memegangi pipiku. "Ji enggak apa-apa Rey. Jangan sentuh Ji." sahutku menepis tangan Rey dari wajahku. "Ji, kenapa? Kok aneh?" Rey mungkin jadi salah tingkah melihat perlakuanku. "Oh iya Ji, tadi aku...." aku buru-buru menyela. Tak mau mendengar apapun yang keluar dari mulutnya. "Ji nggak mau tau. Sekarang Rey pulang saja. Ji lelah." ucapku sambil mendorong dada bidang Rey dan menutup pintu. "Tapi Ji, aku mau bilang kalo aku tadi..." "Rey! Sudah. Ji nggak mau dengar." aku sedikit berteriak mengusirnya. Tapi dapat kurasakan Rey mendesis heran. Dan pada akhirnya dia mengalah untuk keluar. Aku berjongkok dilantai dibalik pintu yang sudah tertutup. Aku tahu Rey belum pulang. Tapi jika merasakan dia ada didekatku aku akan semakin mencintainya. -sementara dibalik pintu- Rey juga berjongkok memegangi ranselnya. Padahal ada sesuatu yang ingin diberikan kepada Jihan. Tapi anak perempuan itu kepalang salah paham. Dan Rey tidak tahu letak kesalahpahaman itu ada dimana? - Sudah hampir dua hari aku menjauhi Rey. Sebenarnya hatiku sakit, tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu satu-satunya cara agar aku menghapus rasa cintaku terhadap Rey. Dan sebenarnya juga tak ingin mendengar celotehan Rey tentang hubungannya dengan Krystal. Aku sebenarnya sedikit ragu dengan keputusanku. Belum tentu Rey menerima ungkapan Krystal. Tapi setelahnya aku yakin Rey pasti menerima Krystal. Dapat kurasakan kalau Krystal itu seorang gadis yang cantik. Buktinya saat dia duduk disebelahku harum shampo-nya menyruak masuk ke hidungku. Juga saat aku bersalaman dengannya dapat kurasakan tangannya yang halus lembut. Mana mungkin Rey mau menolak keanggunan Krystal yang sudah pasti menyukainya. Aku dilanda kegalauan yang luar biasa. Menghindari Rey sama dengan membunuh diriku secara tidak langsung. Aku mencintainya. Sungguh. - "Ji, Rey didepan tuh. Katanya mau ketemu kamu." ibu membuka pintu kamarku dan mendapatiku yang sedang berbaring di atas kasur. "dan oh iya Ji. Sepertinya Rey membawa sesuatu untukmu." Aku tersentak. Sesuatu? Sesuatu apa? - "Mau apa Rey kesini. Ji sibuk." ketus. Itulah yang kuucapkan saat menghampiri Rey yang sudah hampir 2 menungguku untuk keluar dari kamar. "Ji.. Kenapa? Akhir-akhir ini kok ngehindar?" Rey balik bertanya kepadaku. "Nggak apa-apa. Sudah cepat Ji sibuk. Mau apa kesini?" sahutku ketus. "Kok Ji aneh sih. Aku cuma mau bilang, kemarin itu aku sama Krystal..." "Stop!" aku menyela. Kecewa. Itulah yang kurasakan saat ini. Tega sekali Rey. Mau menceritakan kisah romannya dengan Krystal kepadaku. "Kenapa?" tanya Rey heran. Aku menggigit bibir bawahku. Menahan air yang merebak keluar dari mataku. "Aku sudah tau Rey. Kamu nggak perlu bilang lagi." "tahu apa?" tanya Rey padaku. Aku menghembuskan nafas kuat. "kamu..." ucapanku terhenti. Sepertinya air itu sudah keluar membasahi kedua pipiku. "Aku? Kenapa denganku?" ucapnya heran. "Rey, sudah pacaran dengan Krystal kan?" air mata itu semakin deras. Tetes demi tetes berubah menjadi aliran. Seperti aliran sungai. Aku takut. Takut kalau yang kukatakan barusan benar. "sudah puas nangisnya?" tanya Rey setelah kurang lebih sepuluh menit aku menangis. Aku hanya diam. "Ji yang kamu bilang tadi itu nggak benar. Aku mau bilang kalo aku mau ngasih ini sama kamu." Rey mengeluarkan kotak yang lumayan besar dari balik tubuhnya, aku dapat mendengarkan suara berisiknya. "ini kemarin aku beli bareng Krystal." lanjutnya lagi. Agaknya kali ini aku melakukan hal bodoh. Hal terbodoh didunia. Kesalah pahaman yang tidak penting. Sama sekali tidak penting. "Apa ini?" tanyaku sambil meraba-raba isi kotak itu. Terasa lembut. "kalo kamu mau nerima itu berarti kamu cinta sama aku. Kalo kamu balikin itu ke aku berarti kamu cuma nganggap aku temanmu. Sekarang kamu pilih yang mana?" Rey menembakku tepat dijantung. Perasaan membuncah menari-nari di hatiku. Aku memeluk isi kotak itu. Seperti sebuah boneka lucu. Dapat kurasakan Rey berpindah tampat duduk menjadi disebelahku. Detik berikutnya aku merasakan tubuhku berada didalam rengkuhannya yang kuat, tetapi terasa nyaman dan hangat. Tanpa kusadari ujung bibirku tertarik keatas mengulum sebuah senyuman. Senyuman kebahagiaan. :) -Rizka Salsabila Zain 1Agustus 2012 10.20 @Sunshiners3424

[FlashFiction] Suatu Hari Nanti...

"Suatu hari nanti,,
aku tau..
Kau pasti akan bersamaku..
Kembali padaku..
Dengan penuhnya cintamu untukku"

Frustasi.
Itulah yang anak laki-laki itu rasakan saat ini. Sudah lama ia tak bertemu dengan seseorang yang dicintainya. Terpisah jarak dan waktu yang membebani pikirannya.

Tak jarang ia memanjatkan doa. Agar kelak bertemu dengan orang itu. Orang pengisi mimpinya.

"apa kabar" hanya itu yang dapat dia ucapkan. Saat bertemu orang itu. Orang yang selama ini menjadi objek pikirannya.

Tapi orang itu hanya tersenyum dengan wajah berseri penuh kemilau cahaya. Saat dia hendak menyentuh wajahnya. Setumpuk pasir terhempas di dekat kakinya.

Kringgg...
Dia terbangun dari mimpinya. Tak ayal penyebabnya adalah ponselnya yang berbunyi.
"Halo.."
"kamu ke rumahnya sekarang. Datanglah. Dia sudah tiada."
selanjutnya..
Sambungan itu mati tanpa meninggalkan suara sedikitpun. Saat ini yang ia dengar hanyalah suara degup jantungnya yang sepertinya sedang marathon. Mengalami percepatan gila-gilaan.

Dia yakin. Ini ada hubungannya dengan mimpinya barusan.

Orang itu..

Sudah tiada..



-Rizka Salsabila
3 Agustus 2012
9.25 :)
@Sunshiners3424

Contact Me!

Young Lady behind the Scenes

Young Lady behind the Scenes

Recent Posts

    Blog List

    Advertisement

    Translate

    Facebook

    Blogger templates

    About

    Pages - Menu