A Young Lady ~♥

Welcome to Sabil's blog. A blog about random things to share!

Liefde

By 01.47

Ahh.. Senangnya bisa seperti ini. Puas sekali bisa memandangi wajahnya sedekat ini. Tak ada gadis seberuntungku detik ini. Pikiranku melayang bebas diotakku sambil sesekali tersenyum dibalik mug yang sedari tadi kuletakkan didekat wajahku berpura-pura menghirup coffe agar tidak terlalu kentara kalau aku sedang memperhatikannya. Ulp.. Dia menengok kearahku. Dan detik ini wajahku terlihat seperti idiot dengan mug digenggaman tanganku dan wajah melongo melihat ke-cool-an wajahnya. Aku jadi salah tingkah saat kurang lebih lima detik dia menatapku yang seperti idiot dengan menaikkan alis sebelah kirinya. Tapi detik berikutnya dia menghirup tehnya dan meneguknya sampai kandas tak bersisa. Dan selanjutnya dia kembali mengobrol dengan orang-orang yang berada disekitarku. Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku kearah kepalaku, dengan maksud membodohi diri sendiri untuk kedua kalinya mungkin. Membuat orang-orang disekitarku terheran-heran melihatku. "Lo kenapa Bel??" Pertanyaan Raina mengejutkanku, membuat aku menghentikan aksi bodohku dan terlihat semakin bodoh dengan telunjuk dikepalaku dan kepalaku miring 60 derajat kearah kanan. Aku tahu pasti semua orang yang saat ini melihatku akan menganggap bahwa aku adalah orang yang kabur dari rumah sakit jiwa dan sedang dalam masa pencarian. "Oh.. Eh.. Gue gak apa apa kok." Jawabku sambil membetulkan posisi dudukku. Dan orang yang pertama kali kulihat adalah Raihan. Tapi aku bersyukur dia sedang asyik mengobrol dengan yang lainnya. Dan aku berjanji tidak akan memperlihatkan kebodohanku lagi didepan orang yang kusukai. Ohya, namaku Bella Ragazza. Nama yang aneh menurutku dan nama yang bagus menurut Raina. Nama yang diambil dari bahasa Itali yang berarti Gadis Cantik. Cantik menurut papa dan akan berakibat buruk untuk temanKtemanku jika kuberitahu arti namaku. Dan tentu saja aku tahu apa maksud papa memberiku nama ini. Jika nama adalah doa orangtua, berarti papa berdoa agar aku kelak menjadi Gadis yang Cantik. Saat ini dengan berat tubuhku yang hanya 40kg dan tinggi badanku yang semampai membuatku dijuluki tiang listrik oleh teman-temanku. Tinggi, jangkung, kurus dan sama sekali tidak menarik. Ditambah lagi ada tiga jerawat di pipi kananku, dan satu jerawat di pipi kiriku juga tiga jerawat membentuk segitiga bermuda di dahiku sama sekali membuatku tidak sesuai harapan papa agar menjadi gadis yang cantik. Berbeda 180 derajat dengan Raina. Tubuhnya tinggi semampai dengan badan yang ideal. Aku sangat envy melihatnya. Tapi aku mempunyai selera tinggi tentang cowok dan Raihan adalah cowok yang lolos masuk kehatiku. Saat ini aku dan teman-teman sekelasku sedang menghadiri acara perayaan ulang tahun Yaya, teman sekelasku, di coffe shop dekat sekolah. Raina asyik sekali bisa mengobrol dengan Raihan, murid yang baru masuk dikelas kami tiga hari yang lalu dan tega membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku hanya bisa memandangi mereka dari balik mug yang sedari tadi bertengger digenggamanku. Aku yang pada saat mempunyai kesempatan untuk menamparkan senyum ke Raihan malah berpose seperti anak idiot. Huhh.. Menyebalkan sekali. "Huaa.. Surga sekali ini!!" teriakku dalam hati. Aku tersenyum memandangi Raihan yang duduk di sebelah serong kananku. Saat Bu Sarah selesai mengumumkan pembagian kelompok belajar. Dan yang kumaksud dengan surga adalah aku satu kelompok dengan Raihan. Huhh.. Saat ini aku sibuk sekali berpikir apa yang harus kugunakan saat akan kerumah Raihan nanti. Program kelompok belajar harus segera dilaksanakan karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas tiba, dan Raihan adalah ketua kelompok kami. Untuk awal belajar maka sesuai perjanjian belajar akan dimulai dirumah sang ketua. Aku mengaduk-aduk lemari pakaianku. Mencari potongan yang pas untuk kupakai. Aku ingin terlihat cantik saat kerumah Raihan nanti. Aku menyukai Raihan si cowok macho anak baru dikelasku, otomatis aku pasti ingin tampil cantik di pertama kali kerumahnya. Ini kusebut dengan kunjungan perdana. Dirumahku susah sekali mencari nasihat dari perempuan setelah mama meninggal 7 tahun lalu saat aku berusia 9tahun. Saat ini tak ada lagi yang menasihati tentang kepribadian perempuan untukku selain Mbok Yem. Tok!! Tok!! Tokk!! Kudengar suara ketukan pintu dan selanjutnya suara Mbok Yem. "Mbak, ada mbak Raina nih dibawah." suara halus dengan nada bahasa jawa yang medok milik mbok Yem kudengar dari depan pintu kamar. "Iya mbok. Suruh masuk kesini aja." Aku tak berhenti mengaduk-aduk lemari pakaianku sambil menjawab sahutan mbok Yem barusan. Tak sampai lima menit suara derakan kudengar dari arah pintu. Dan aku sudah tahu siapa yang masuk. Raina dengan celana jeans pendek berwarna hitam dan hoodie kebesaran berwarna ungu terlihat berjalan kearah tempat tidurku. Terlihat imut sekali dengan darah Jepang mengalir ditubuhnya tampak ia seperti gadis imut dari negeri ginseng, Korea Selatan. "Hoii.. Kok bengong lo??" sapanya mengibaskan tangan tepat didepan wajahku. "Lo kok belum selesai sih??" lanjutnya lagi sambil menyilangkan kedua kakinya. "Gue bingung mau pake apaan. Gue kan mau kelihatan cantik didepan Raihan. Ulp.." aku segera membekap mulut, aku keceplosan bicara. "Lo naksir Raihan Bel?? Hahaha.." Kan, sudah kuduga pasti Raina akan menertawaiku habis-habisan jika tahu kalau aku naksir Raihan. "Apaan sih lo??" aku menjawab sewot untuk menutupi salah tingkahku yang semakin menjadi. "Yahh.. Nggak apa-apa kali. Itu berarti lo normal ada kemajuan. Gue kira lo gak normal karna gak pernah naksir cowok. Gue janji kok gak bakalan bilang ke siapa-siapa." ucapnya sambil cengengesan, tapi membuatku lega. "Eh.. Rok siapa nih??" lanjutnya sambil mengacungkan sebuah rok mini hitam dihadapanku. "Rok gue." jawabku sambil mengaduk lemari lagi. "Pake ini aja . Keren lagi." anak idiot itu kini kurasa sudah gila menyuruhku memakai rok mini yang sudah pasti tak akan menutupi lututku. "Lo gila yah. Bisa mati karna ketawa tuh semua orang yang ada disana kalo ngeliat gue pake rok mini." Aku mengomel kearah Raina yang sedang tertawa. "Yah.. Kalo lo gak pede lo kan bisa pake stocking ini." Kali ini Raina mengacungkan stocking berwarna soft pink yang sedari tadi dipegangnya. "Cute. Baru kali ini gue liat lo cantik banget."komentar Raina saat aku selesai mengenakan potongan-potongan yang diusulkannya tadi. Aku dengan takut menghadap kearah kaca didekat tempat tidurku. Aku tak percaya kalau ini adalah aku. Seperti maju beberapa abad dari penampilanku sebelumnya. "Yuk berangkat.." Aku menyelipkan kaki-kaki mungilku disepatu berwarna pink cerah pemberian Yaya di ulangtahunku yang ke 16. Tingg !! Tongg !! Aku memencet bel rumah Raihan. Disampingku Yaya dan Raina sibuk memainkan handphonenya masing-masing. "Mana sih orangnya?? Lama banget. Mana panas lagi." Gerutuan Raina terdengar sampain telingaku. Aku mencoba memencet bel sekali lagi. Seseorang yang memakai tank top hitam dan celana pendek muncul dari balik pintu. "Hmm.. Siapa ya??" tanyanya sambil menamparkan senyum kepada kami bertiga. "Maaf kak. Raihannya ada??" tanya Raina sambil mengusap-usap lengannya yang seperti akan terbakar karena panas sekali. Dan sepertinya gadis cantik didepan kami ini menyadari kegelisahan Raina. "Eh.. Masuk deh." ucapnya sambil membuka pintu lebar-lebar. "Rey!!! Ada yang nyariin nih!!" teriak gadis itu sambil menuju masuk mencari Raihan. Tak lama kemudian si cowok macho Raihan muncul dari belakang. "Eh.. Udah lama nungguin??. Sori ya." ucapnya sambil duduk diatas sofa bergabung bersama kami. "Enggak kok baru aja dateng." aku buru-buru menjawab sambil memandangi Raihan yang sumpah keren banget. "Ohh.. Gitu. Yaudah deh kita mau langsung belajar atau gimana nih??" tanyanya lagi dan tersenyum kepadaku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. "Aldo sama Vino kan belum dateng Rey. Kita tunggu mereka aja dulu." ucap Raina. "Ohh. Yaudah deh. Aku ambil..." belum selesai Raihan bicara tiba-tiba gadis tadi turun dari tanggal sambil memanggil Raihan. "Reeyy!! Kakak pergi dulu yah. Itu susunya udah kakak buatin di atas meja makan. Jangan lupa diminum loh. Entar mama marah lagi. Yaudah yaa.. Kakak pergi dulu." "Susu??" Yaya bertanya sambil memandangi aku dan Raina secara bergantian. Raihan salah tingkah mendengar ucapan Yaya. Plukk.. Gadis itu mencium pipi Raihan membuat Raihan semakin salah tingkah. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. "Kamu berani kan dirumah sampai mama pulang?? Mama tadi telpon katanya agak maleman pulangnya." lanjut gadis itu lagi. "Iya udah kakak pergi aja cepetan." Raihan mendorong tubuh gadis itu kearah pintu. Tampaknya ia sudah sangat malu ditambah lagi Yaya menggumamkan kata susu tadi. "Iya iya kakak pergi ya. Dahh!!" gadis itu melambai ke arah kami dan Raihan dan menghilang dibalik pintu. *** "Bel, kamu yakin naksir sama anak mami gitu??" Raina bertanya sambil tertawa. "Yah enggaklah." jawabku ikutan tertawa bersama Raina dan Yaya. "Aku nggak nyangka deh orang se-macho Raihan ternyata anak mami dan masih minum susu pula." Yaya membuat tertawaan kami semakin keras dan nyaris membuatku mati karena terlalu banyak tertawa. kami terlarut dalam suasana dan aku bersyukur untungnya aku tidak terlalu menyukai Raihan. Jadi aku tidak terlalu menyesal karenanya. -END- -Rizka Salsabila Zain 16Mei 2012 11.30 @sunshiners3424

You Might Also Like

0 komentar

Minggu, 05 Agustus 2012

Liefde

Ahh.. Senangnya bisa seperti ini. Puas sekali bisa memandangi wajahnya sedekat ini. Tak ada gadis seberuntungku detik ini. Pikiranku melayang bebas diotakku sambil sesekali tersenyum dibalik mug yang sedari tadi kuletakkan didekat wajahku berpura-pura menghirup coffe agar tidak terlalu kentara kalau aku sedang memperhatikannya. Ulp.. Dia menengok kearahku. Dan detik ini wajahku terlihat seperti idiot dengan mug digenggaman tanganku dan wajah melongo melihat ke-cool-an wajahnya. Aku jadi salah tingkah saat kurang lebih lima detik dia menatapku yang seperti idiot dengan menaikkan alis sebelah kirinya. Tapi detik berikutnya dia menghirup tehnya dan meneguknya sampai kandas tak bersisa. Dan selanjutnya dia kembali mengobrol dengan orang-orang yang berada disekitarku. Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku kearah kepalaku, dengan maksud membodohi diri sendiri untuk kedua kalinya mungkin. Membuat orang-orang disekitarku terheran-heran melihatku. "Lo kenapa Bel??" Pertanyaan Raina mengejutkanku, membuat aku menghentikan aksi bodohku dan terlihat semakin bodoh dengan telunjuk dikepalaku dan kepalaku miring 60 derajat kearah kanan. Aku tahu pasti semua orang yang saat ini melihatku akan menganggap bahwa aku adalah orang yang kabur dari rumah sakit jiwa dan sedang dalam masa pencarian. "Oh.. Eh.. Gue gak apa apa kok." Jawabku sambil membetulkan posisi dudukku. Dan orang yang pertama kali kulihat adalah Raihan. Tapi aku bersyukur dia sedang asyik mengobrol dengan yang lainnya. Dan aku berjanji tidak akan memperlihatkan kebodohanku lagi didepan orang yang kusukai. Ohya, namaku Bella Ragazza. Nama yang aneh menurutku dan nama yang bagus menurut Raina. Nama yang diambil dari bahasa Itali yang berarti Gadis Cantik. Cantik menurut papa dan akan berakibat buruk untuk temanKtemanku jika kuberitahu arti namaku. Dan tentu saja aku tahu apa maksud papa memberiku nama ini. Jika nama adalah doa orangtua, berarti papa berdoa agar aku kelak menjadi Gadis yang Cantik. Saat ini dengan berat tubuhku yang hanya 40kg dan tinggi badanku yang semampai membuatku dijuluki tiang listrik oleh teman-temanku. Tinggi, jangkung, kurus dan sama sekali tidak menarik. Ditambah lagi ada tiga jerawat di pipi kananku, dan satu jerawat di pipi kiriku juga tiga jerawat membentuk segitiga bermuda di dahiku sama sekali membuatku tidak sesuai harapan papa agar menjadi gadis yang cantik. Berbeda 180 derajat dengan Raina. Tubuhnya tinggi semampai dengan badan yang ideal. Aku sangat envy melihatnya. Tapi aku mempunyai selera tinggi tentang cowok dan Raihan adalah cowok yang lolos masuk kehatiku. Saat ini aku dan teman-teman sekelasku sedang menghadiri acara perayaan ulang tahun Yaya, teman sekelasku, di coffe shop dekat sekolah. Raina asyik sekali bisa mengobrol dengan Raihan, murid yang baru masuk dikelas kami tiga hari yang lalu dan tega membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku hanya bisa memandangi mereka dari balik mug yang sedari tadi bertengger digenggamanku. Aku yang pada saat mempunyai kesempatan untuk menamparkan senyum ke Raihan malah berpose seperti anak idiot. Huhh.. Menyebalkan sekali. "Huaa.. Surga sekali ini!!" teriakku dalam hati. Aku tersenyum memandangi Raihan yang duduk di sebelah serong kananku. Saat Bu Sarah selesai mengumumkan pembagian kelompok belajar. Dan yang kumaksud dengan surga adalah aku satu kelompok dengan Raihan. Huhh.. Saat ini aku sibuk sekali berpikir apa yang harus kugunakan saat akan kerumah Raihan nanti. Program kelompok belajar harus segera dilaksanakan karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas tiba, dan Raihan adalah ketua kelompok kami. Untuk awal belajar maka sesuai perjanjian belajar akan dimulai dirumah sang ketua. Aku mengaduk-aduk lemari pakaianku. Mencari potongan yang pas untuk kupakai. Aku ingin terlihat cantik saat kerumah Raihan nanti. Aku menyukai Raihan si cowok macho anak baru dikelasku, otomatis aku pasti ingin tampil cantik di pertama kali kerumahnya. Ini kusebut dengan kunjungan perdana. Dirumahku susah sekali mencari nasihat dari perempuan setelah mama meninggal 7 tahun lalu saat aku berusia 9tahun. Saat ini tak ada lagi yang menasihati tentang kepribadian perempuan untukku selain Mbok Yem. Tok!! Tok!! Tokk!! Kudengar suara ketukan pintu dan selanjutnya suara Mbok Yem. "Mbak, ada mbak Raina nih dibawah." suara halus dengan nada bahasa jawa yang medok milik mbok Yem kudengar dari depan pintu kamar. "Iya mbok. Suruh masuk kesini aja." Aku tak berhenti mengaduk-aduk lemari pakaianku sambil menjawab sahutan mbok Yem barusan. Tak sampai lima menit suara derakan kudengar dari arah pintu. Dan aku sudah tahu siapa yang masuk. Raina dengan celana jeans pendek berwarna hitam dan hoodie kebesaran berwarna ungu terlihat berjalan kearah tempat tidurku. Terlihat imut sekali dengan darah Jepang mengalir ditubuhnya tampak ia seperti gadis imut dari negeri ginseng, Korea Selatan. "Hoii.. Kok bengong lo??" sapanya mengibaskan tangan tepat didepan wajahku. "Lo kok belum selesai sih??" lanjutnya lagi sambil menyilangkan kedua kakinya. "Gue bingung mau pake apaan. Gue kan mau kelihatan cantik didepan Raihan. Ulp.." aku segera membekap mulut, aku keceplosan bicara. "Lo naksir Raihan Bel?? Hahaha.." Kan, sudah kuduga pasti Raina akan menertawaiku habis-habisan jika tahu kalau aku naksir Raihan. "Apaan sih lo??" aku menjawab sewot untuk menutupi salah tingkahku yang semakin menjadi. "Yahh.. Nggak apa-apa kali. Itu berarti lo normal ada kemajuan. Gue kira lo gak normal karna gak pernah naksir cowok. Gue janji kok gak bakalan bilang ke siapa-siapa." ucapnya sambil cengengesan, tapi membuatku lega. "Eh.. Rok siapa nih??" lanjutnya sambil mengacungkan sebuah rok mini hitam dihadapanku. "Rok gue." jawabku sambil mengaduk lemari lagi. "Pake ini aja . Keren lagi." anak idiot itu kini kurasa sudah gila menyuruhku memakai rok mini yang sudah pasti tak akan menutupi lututku. "Lo gila yah. Bisa mati karna ketawa tuh semua orang yang ada disana kalo ngeliat gue pake rok mini." Aku mengomel kearah Raina yang sedang tertawa. "Yah.. Kalo lo gak pede lo kan bisa pake stocking ini." Kali ini Raina mengacungkan stocking berwarna soft pink yang sedari tadi dipegangnya. "Cute. Baru kali ini gue liat lo cantik banget."komentar Raina saat aku selesai mengenakan potongan-potongan yang diusulkannya tadi. Aku dengan takut menghadap kearah kaca didekat tempat tidurku. Aku tak percaya kalau ini adalah aku. Seperti maju beberapa abad dari penampilanku sebelumnya. "Yuk berangkat.." Aku menyelipkan kaki-kaki mungilku disepatu berwarna pink cerah pemberian Yaya di ulangtahunku yang ke 16. Tingg !! Tongg !! Aku memencet bel rumah Raihan. Disampingku Yaya dan Raina sibuk memainkan handphonenya masing-masing. "Mana sih orangnya?? Lama banget. Mana panas lagi." Gerutuan Raina terdengar sampain telingaku. Aku mencoba memencet bel sekali lagi. Seseorang yang memakai tank top hitam dan celana pendek muncul dari balik pintu. "Hmm.. Siapa ya??" tanyanya sambil menamparkan senyum kepada kami bertiga. "Maaf kak. Raihannya ada??" tanya Raina sambil mengusap-usap lengannya yang seperti akan terbakar karena panas sekali. Dan sepertinya gadis cantik didepan kami ini menyadari kegelisahan Raina. "Eh.. Masuk deh." ucapnya sambil membuka pintu lebar-lebar. "Rey!!! Ada yang nyariin nih!!" teriak gadis itu sambil menuju masuk mencari Raihan. Tak lama kemudian si cowok macho Raihan muncul dari belakang. "Eh.. Udah lama nungguin??. Sori ya." ucapnya sambil duduk diatas sofa bergabung bersama kami. "Enggak kok baru aja dateng." aku buru-buru menjawab sambil memandangi Raihan yang sumpah keren banget. "Ohh.. Gitu. Yaudah deh kita mau langsung belajar atau gimana nih??" tanyanya lagi dan tersenyum kepadaku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. "Aldo sama Vino kan belum dateng Rey. Kita tunggu mereka aja dulu." ucap Raina. "Ohh. Yaudah deh. Aku ambil..." belum selesai Raihan bicara tiba-tiba gadis tadi turun dari tanggal sambil memanggil Raihan. "Reeyy!! Kakak pergi dulu yah. Itu susunya udah kakak buatin di atas meja makan. Jangan lupa diminum loh. Entar mama marah lagi. Yaudah yaa.. Kakak pergi dulu." "Susu??" Yaya bertanya sambil memandangi aku dan Raina secara bergantian. Raihan salah tingkah mendengar ucapan Yaya. Plukk.. Gadis itu mencium pipi Raihan membuat Raihan semakin salah tingkah. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. "Kamu berani kan dirumah sampai mama pulang?? Mama tadi telpon katanya agak maleman pulangnya." lanjut gadis itu lagi. "Iya udah kakak pergi aja cepetan." Raihan mendorong tubuh gadis itu kearah pintu. Tampaknya ia sudah sangat malu ditambah lagi Yaya menggumamkan kata susu tadi. "Iya iya kakak pergi ya. Dahh!!" gadis itu melambai ke arah kami dan Raihan dan menghilang dibalik pintu. *** "Bel, kamu yakin naksir sama anak mami gitu??" Raina bertanya sambil tertawa. "Yah enggaklah." jawabku ikutan tertawa bersama Raina dan Yaya. "Aku nggak nyangka deh orang se-macho Raihan ternyata anak mami dan masih minum susu pula." Yaya membuat tertawaan kami semakin keras dan nyaris membuatku mati karena terlalu banyak tertawa. kami terlarut dalam suasana dan aku bersyukur untungnya aku tidak terlalu menyukai Raihan. Jadi aku tidak terlalu menyesal karenanya. -END- -Rizka Salsabila Zain 16Mei 2012 11.30 @sunshiners3424
Posting Komentar