A Young Lady ~♥

Welcome to Sabil's blog. A blog about random things to share!

Sad Love Story

By 01.43

Namaku Jihan Safila. Aku terlahir sebagai seorang gadis cacat bermata buta ditengah-tengah hiruk pikuknya orang-orang miskin. Saat ini aku berumur 14 tahun. Dan satu hal yang membuatku sedih adalah AKU TIDAK BERSEKOLAH. Di kota kecilku ini mana ada sekolah luar biasa untuk orang-orang cacat sebangsaku. Karena aku tidak bersekolah otomatis aku tidak mempunyai teman. Saat aku ingin berteman dengan orang-orang sebayaku didekat pemukimanku, mereka malah bilang, "Jihan, berteman denganmu itu merepotkan. Mana bisa kamu main lompat tali, main masak-masakan, mandi dikali bersama kami. Jika kami berteman denganmu, kamu hanya akan membuat kami susah saja. Sudah sana pergi. Merepotkan." begitulah kira-kira cemoohan orang-orang sebayaku saat aku hendak mengajak mereka bermain bersama. Saat ini temanku hanya Rey. Seorang anak lelaki normal yang tinggal tak jauh dari rumahku. Rey adalah anak sekolah. Sungguh indah pikirku. Tapi tidak dengan Rey saat aku bilang kepadanya bahwa sekolah itu menyenangkan. "Rey, sudah pulang?" sapaku saat Rey menyentuh pundakku saat aku terduduk diatas kursi didepan rumahku tempo hari. Seperti kebiasaannya, agar aku mengenalinya. "Sudah Ji." jawabnya singkat. Aku merasakan dia duduk tepat disebelahku. "Bagaimana sekolahnya? Menyenangkan bukan?" tanyaku sambil menyunggingkan seulas senyum. "Menyenangkan apanya? Wong, pelajaran disekolah itu sulit." sahutnya sambil mendesis sebal. Mendengar logat jawanya yang kental aku tertawa lebar. "Eh, Ji. Mbok yo ora ngguyu ngopo toh?" ucapnya sebal. Aku tahu Rey sangat tidak suka ditertawakan, dalam hal apapun itu. Aku masih terus tertawa sementara Rey sudah kupastikan merasa geram melihat perlakuanku. "Rey, aku tidak mengerti bahasamu." sahutku sambil masih terus tertawa. "Oh iya aku lupa Ji." jawabnya sambil tertawa kecil. Tiba-tiba... "Hai, Rey!!" sapa seseorang kearah Rey yang masih duduk disebelahku. "Oh, hai. Krystal."Rey menjawab sapaannya. Sepertinya dia seorang gadis, bisa kudengar dari suaranya. "Rumahmu yang mana? Kita jadi pergi kan?" kudengar dari suara hentakan sepatunya mengarah kearah kami. Sepertinya itu suara sepatu mahal. Tidak sepertiku yang selalu 'nyeker' kemanapun kakiku melangkah. "Rumahku disana Ry. Sebentar ya, aku bersiap-siap dulu." sahut Rey menjauh dariku. Kudengar sepertinya gadis itu duduk disebelahku sambil menunggu Rey. "Hai." sapanya kearahku. Aku menolehkan wajahku kearah sumber suara. Tapi tidak dengan mataku. "Hai." aku mencoba melambaikan tanganku. "Kamu temannya Rey?" tanyanya padaku. "Iya. Aku berteman dengannya sudah 9tahun lamanya." kuulaskan sebuah senyum dibibirku. "oh. Kenalkan namaku Princess Krystal." "nama yang bagus. Seperti nama-nama di dongeng." kukulum sebuah senyum lagi dibibirku. "Aku Jihan. Jihan Safila." "Rey itu orang yang baik ya Jihan." sepertinya Krystal membuka percakapan kepadaku. "iya, baik banget. Selama ini nggak ada yang mau berteman denganku. Tapi tidak dengan Rey, dia tidak enggan untuk berteman denganku dengan keadaan buta sekalipun." sahutku bangga. "Wahh.. Nggak salah dong aku suka dengan dia. Kuutarakan saja nanti." Krystal bertepuk tangan girang, tanpa memperdulikanku. Memperdulikan hatiku. Seperti ada sebuah sembilu menohok ulu hatiku. Aku yang sudah bertahun-tahun menyukainya, menyayanginya dan mencintainya, sama sekali tak berani mengutarakan perasaanku. Karena aku tahu aku seorang yang buta. Aku cacat ! Tidak mungkin Rey mau menerimaku sebagai kekasihnya. "Rey, udah siap?" dapat kurasakan Krystal berdiri dan menghampiri Rey. "Sudah. Ayo kita pergi." sahut Rey. "Ji. Kami pergi dulu ya." lanjut anak laki-laki itu lagi. Aku hanya menyunggingkan sebuah kuluman senyum kecil ditengah-tengah hatiku yang membara tak mau padam. Perasaanku semakin bergejolak mengingat apa yang akan dikatakan Rey kepadaku sepulangnya nanti. Butiran-butiran bening merembes keluar dari mataku. Agaknya kali ini tak mau berhenti. "Rey, kita mau kemana?" Krystal menorehkan wajahnya ke arah Rey, disela-sela kegiatan menyetirnya. "Ry, temeni aku ke Jl. Cemara ya. Aku mau beli sesuatu untuk Jihan." Krystal sedikit menganga mendengarnya tapi buru-buru dia menguasai diri. "Oke." sambutnya sambil tersenyum. Dia tak mau terlihat bego didepan orang yang disukainya. - "Ji, kenapa? Matamu sembab." wanita paruh baya itu menyentuh pundakku. Wajahnya kalem menyiratkan kedamaian. Padahal aku tidak dapat melihatnya, tapi aku dapat merasakannya. "Ji nggak apa-apa bu." sahutku halus sebelum ibuku menanyakan macam-macam kepadaku. "yasudah Ji. Ibu mau berangkat dulu ya. Kamu nggak apa-apa kan dirumah sendirian? Rey kemana? Biasanya jam segini dia ada disini." ibuku seperti membangkitkan lagi sesuatu yang sudah sedikit kulupakan tadi. "Rey pergi." jawabku singkat. "oh yasudah. Ibu pergi ya Ji." ibu membuka pintu, dan menghilang dibalik pintu yang ditutupnya kembali. Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Melepas penatnya lelah karena menangis tadi. Tapi aku sama sekali tak bisa menikmati rehatku. Aku malah memikirkan kata-kata Krystal tadi. Aku tak sanggup jika harus mendengar ocehan Rey tentang hubungannya dengan Krystal sepulangnya nanti. - "Ji,, Jihan.. Ini aku Rey." kudengar sayup-sayup suara Rey mengetuk pintu. Memang pada akhirnya aku tertidur karena aku benar-benar lelah. Kuraba-raba dinding-dinding rumahku untuk memudahkanku berjalan kearah pintu. "Ji, matamu sembab. Habis menangis?" Rey memegangi pipiku. "Ji enggak apa-apa Rey. Jangan sentuh Ji." sahutku menepis tangan Rey dari wajahku. "Ji, kenapa? Kok aneh?" Rey mungkin jadi salah tingkah melihat perlakuanku. "Oh iya Ji, tadi aku...." aku buru-buru menyela. Tak mau mendengar apapun yang keluar dari mulutnya. "Ji nggak mau tau. Sekarang Rey pulang saja. Ji lelah." ucapku sambil mendorong dada bidang Rey dan menutup pintu. "Tapi Ji, aku mau bilang kalo aku tadi..." "Rey! Sudah. Ji nggak mau dengar." aku sedikit berteriak mengusirnya. Tapi dapat kurasakan Rey mendesis heran. Dan pada akhirnya dia mengalah untuk keluar. Aku berjongkok dilantai dibalik pintu yang sudah tertutup. Aku tahu Rey belum pulang. Tapi jika merasakan dia ada didekatku aku akan semakin mencintainya. -sementara dibalik pintu- Rey juga berjongkok memegangi ranselnya. Padahal ada sesuatu yang ingin diberikan kepada Jihan. Tapi anak perempuan itu kepalang salah paham. Dan Rey tidak tahu letak kesalahpahaman itu ada dimana? - Sudah hampir dua hari aku menjauhi Rey. Sebenarnya hatiku sakit, tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu satu-satunya cara agar aku menghapus rasa cintaku terhadap Rey. Dan sebenarnya juga tak ingin mendengar celotehan Rey tentang hubungannya dengan Krystal. Aku sebenarnya sedikit ragu dengan keputusanku. Belum tentu Rey menerima ungkapan Krystal. Tapi setelahnya aku yakin Rey pasti menerima Krystal. Dapat kurasakan kalau Krystal itu seorang gadis yang cantik. Buktinya saat dia duduk disebelahku harum shampo-nya menyruak masuk ke hidungku. Juga saat aku bersalaman dengannya dapat kurasakan tangannya yang halus lembut. Mana mungkin Rey mau menolak keanggunan Krystal yang sudah pasti menyukainya. Aku dilanda kegalauan yang luar biasa. Menghindari Rey sama dengan membunuh diriku secara tidak langsung. Aku mencintainya. Sungguh. - "Ji, Rey didepan tuh. Katanya mau ketemu kamu." ibu membuka pintu kamarku dan mendapatiku yang sedang berbaring di atas kasur. "dan oh iya Ji. Sepertinya Rey membawa sesuatu untukmu." Aku tersentak. Sesuatu? Sesuatu apa? - "Mau apa Rey kesini. Ji sibuk." ketus. Itulah yang kuucapkan saat menghampiri Rey yang sudah hampir 2 menungguku untuk keluar dari kamar. "Ji.. Kenapa? Akhir-akhir ini kok ngehindar?" Rey balik bertanya kepadaku. "Nggak apa-apa. Sudah cepat Ji sibuk. Mau apa kesini?" sahutku ketus. "Kok Ji aneh sih. Aku cuma mau bilang, kemarin itu aku sama Krystal..." "Stop!" aku menyela. Kecewa. Itulah yang kurasakan saat ini. Tega sekali Rey. Mau menceritakan kisah romannya dengan Krystal kepadaku. "Kenapa?" tanya Rey heran. Aku menggigit bibir bawahku. Menahan air yang merebak keluar dari mataku. "Aku sudah tau Rey. Kamu nggak perlu bilang lagi." "tahu apa?" tanya Rey padaku. Aku menghembuskan nafas kuat. "kamu..." ucapanku terhenti. Sepertinya air itu sudah keluar membasahi kedua pipiku. "Aku? Kenapa denganku?" ucapnya heran. "Rey, sudah pacaran dengan Krystal kan?" air mata itu semakin deras. Tetes demi tetes berubah menjadi aliran. Seperti aliran sungai. Aku takut. Takut kalau yang kukatakan barusan benar. "sudah puas nangisnya?" tanya Rey setelah kurang lebih sepuluh menit aku menangis. Aku hanya diam. "Ji yang kamu bilang tadi itu nggak benar. Aku mau bilang kalo aku mau ngasih ini sama kamu." Rey mengeluarkan kotak yang lumayan besar dari balik tubuhnya, aku dapat mendengarkan suara berisiknya. "ini kemarin aku beli bareng Krystal." lanjutnya lagi. Agaknya kali ini aku melakukan hal bodoh. Hal terbodoh didunia. Kesalah pahaman yang tidak penting. Sama sekali tidak penting. "Apa ini?" tanyaku sambil meraba-raba isi kotak itu. Terasa lembut. "kalo kamu mau nerima itu berarti kamu cinta sama aku. Kalo kamu balikin itu ke aku berarti kamu cuma nganggap aku temanmu. Sekarang kamu pilih yang mana?" Rey menembakku tepat dijantung. Perasaan membuncah menari-nari di hatiku. Aku memeluk isi kotak itu. Seperti sebuah boneka lucu. Dapat kurasakan Rey berpindah tampat duduk menjadi disebelahku. Detik berikutnya aku merasakan tubuhku berada didalam rengkuhannya yang kuat, tetapi terasa nyaman dan hangat. Tanpa kusadari ujung bibirku tertarik keatas mengulum sebuah senyuman. Senyuman kebahagiaan. :) -Rizka Salsabila Zain 1Agustus 2012 10.20 @Sunshiners3424

You Might Also Like

0 komentar

Minggu, 05 Agustus 2012

Sad Love Story

Namaku Jihan Safila. Aku terlahir sebagai seorang gadis cacat bermata buta ditengah-tengah hiruk pikuknya orang-orang miskin. Saat ini aku berumur 14 tahun. Dan satu hal yang membuatku sedih adalah AKU TIDAK BERSEKOLAH. Di kota kecilku ini mana ada sekolah luar biasa untuk orang-orang cacat sebangsaku. Karena aku tidak bersekolah otomatis aku tidak mempunyai teman. Saat aku ingin berteman dengan orang-orang sebayaku didekat pemukimanku, mereka malah bilang, "Jihan, berteman denganmu itu merepotkan. Mana bisa kamu main lompat tali, main masak-masakan, mandi dikali bersama kami. Jika kami berteman denganmu, kamu hanya akan membuat kami susah saja. Sudah sana pergi. Merepotkan." begitulah kira-kira cemoohan orang-orang sebayaku saat aku hendak mengajak mereka bermain bersama. Saat ini temanku hanya Rey. Seorang anak lelaki normal yang tinggal tak jauh dari rumahku. Rey adalah anak sekolah. Sungguh indah pikirku. Tapi tidak dengan Rey saat aku bilang kepadanya bahwa sekolah itu menyenangkan. "Rey, sudah pulang?" sapaku saat Rey menyentuh pundakku saat aku terduduk diatas kursi didepan rumahku tempo hari. Seperti kebiasaannya, agar aku mengenalinya. "Sudah Ji." jawabnya singkat. Aku merasakan dia duduk tepat disebelahku. "Bagaimana sekolahnya? Menyenangkan bukan?" tanyaku sambil menyunggingkan seulas senyum. "Menyenangkan apanya? Wong, pelajaran disekolah itu sulit." sahutnya sambil mendesis sebal. Mendengar logat jawanya yang kental aku tertawa lebar. "Eh, Ji. Mbok yo ora ngguyu ngopo toh?" ucapnya sebal. Aku tahu Rey sangat tidak suka ditertawakan, dalam hal apapun itu. Aku masih terus tertawa sementara Rey sudah kupastikan merasa geram melihat perlakuanku. "Rey, aku tidak mengerti bahasamu." sahutku sambil masih terus tertawa. "Oh iya aku lupa Ji." jawabnya sambil tertawa kecil. Tiba-tiba... "Hai, Rey!!" sapa seseorang kearah Rey yang masih duduk disebelahku. "Oh, hai. Krystal."Rey menjawab sapaannya. Sepertinya dia seorang gadis, bisa kudengar dari suaranya. "Rumahmu yang mana? Kita jadi pergi kan?" kudengar dari suara hentakan sepatunya mengarah kearah kami. Sepertinya itu suara sepatu mahal. Tidak sepertiku yang selalu 'nyeker' kemanapun kakiku melangkah. "Rumahku disana Ry. Sebentar ya, aku bersiap-siap dulu." sahut Rey menjauh dariku. Kudengar sepertinya gadis itu duduk disebelahku sambil menunggu Rey. "Hai." sapanya kearahku. Aku menolehkan wajahku kearah sumber suara. Tapi tidak dengan mataku. "Hai." aku mencoba melambaikan tanganku. "Kamu temannya Rey?" tanyanya padaku. "Iya. Aku berteman dengannya sudah 9tahun lamanya." kuulaskan sebuah senyum dibibirku. "oh. Kenalkan namaku Princess Krystal." "nama yang bagus. Seperti nama-nama di dongeng." kukulum sebuah senyum lagi dibibirku. "Aku Jihan. Jihan Safila." "Rey itu orang yang baik ya Jihan." sepertinya Krystal membuka percakapan kepadaku. "iya, baik banget. Selama ini nggak ada yang mau berteman denganku. Tapi tidak dengan Rey, dia tidak enggan untuk berteman denganku dengan keadaan buta sekalipun." sahutku bangga. "Wahh.. Nggak salah dong aku suka dengan dia. Kuutarakan saja nanti." Krystal bertepuk tangan girang, tanpa memperdulikanku. Memperdulikan hatiku. Seperti ada sebuah sembilu menohok ulu hatiku. Aku yang sudah bertahun-tahun menyukainya, menyayanginya dan mencintainya, sama sekali tak berani mengutarakan perasaanku. Karena aku tahu aku seorang yang buta. Aku cacat ! Tidak mungkin Rey mau menerimaku sebagai kekasihnya. "Rey, udah siap?" dapat kurasakan Krystal berdiri dan menghampiri Rey. "Sudah. Ayo kita pergi." sahut Rey. "Ji. Kami pergi dulu ya." lanjut anak laki-laki itu lagi. Aku hanya menyunggingkan sebuah kuluman senyum kecil ditengah-tengah hatiku yang membara tak mau padam. Perasaanku semakin bergejolak mengingat apa yang akan dikatakan Rey kepadaku sepulangnya nanti. Butiran-butiran bening merembes keluar dari mataku. Agaknya kali ini tak mau berhenti. "Rey, kita mau kemana?" Krystal menorehkan wajahnya ke arah Rey, disela-sela kegiatan menyetirnya. "Ry, temeni aku ke Jl. Cemara ya. Aku mau beli sesuatu untuk Jihan." Krystal sedikit menganga mendengarnya tapi buru-buru dia menguasai diri. "Oke." sambutnya sambil tersenyum. Dia tak mau terlihat bego didepan orang yang disukainya. - "Ji, kenapa? Matamu sembab." wanita paruh baya itu menyentuh pundakku. Wajahnya kalem menyiratkan kedamaian. Padahal aku tidak dapat melihatnya, tapi aku dapat merasakannya. "Ji nggak apa-apa bu." sahutku halus sebelum ibuku menanyakan macam-macam kepadaku. "yasudah Ji. Ibu mau berangkat dulu ya. Kamu nggak apa-apa kan dirumah sendirian? Rey kemana? Biasanya jam segini dia ada disini." ibuku seperti membangkitkan lagi sesuatu yang sudah sedikit kulupakan tadi. "Rey pergi." jawabku singkat. "oh yasudah. Ibu pergi ya Ji." ibu membuka pintu, dan menghilang dibalik pintu yang ditutupnya kembali. Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Melepas penatnya lelah karena menangis tadi. Tapi aku sama sekali tak bisa menikmati rehatku. Aku malah memikirkan kata-kata Krystal tadi. Aku tak sanggup jika harus mendengar ocehan Rey tentang hubungannya dengan Krystal sepulangnya nanti. - "Ji,, Jihan.. Ini aku Rey." kudengar sayup-sayup suara Rey mengetuk pintu. Memang pada akhirnya aku tertidur karena aku benar-benar lelah. Kuraba-raba dinding-dinding rumahku untuk memudahkanku berjalan kearah pintu. "Ji, matamu sembab. Habis menangis?" Rey memegangi pipiku. "Ji enggak apa-apa Rey. Jangan sentuh Ji." sahutku menepis tangan Rey dari wajahku. "Ji, kenapa? Kok aneh?" Rey mungkin jadi salah tingkah melihat perlakuanku. "Oh iya Ji, tadi aku...." aku buru-buru menyela. Tak mau mendengar apapun yang keluar dari mulutnya. "Ji nggak mau tau. Sekarang Rey pulang saja. Ji lelah." ucapku sambil mendorong dada bidang Rey dan menutup pintu. "Tapi Ji, aku mau bilang kalo aku tadi..." "Rey! Sudah. Ji nggak mau dengar." aku sedikit berteriak mengusirnya. Tapi dapat kurasakan Rey mendesis heran. Dan pada akhirnya dia mengalah untuk keluar. Aku berjongkok dilantai dibalik pintu yang sudah tertutup. Aku tahu Rey belum pulang. Tapi jika merasakan dia ada didekatku aku akan semakin mencintainya. -sementara dibalik pintu- Rey juga berjongkok memegangi ranselnya. Padahal ada sesuatu yang ingin diberikan kepada Jihan. Tapi anak perempuan itu kepalang salah paham. Dan Rey tidak tahu letak kesalahpahaman itu ada dimana? - Sudah hampir dua hari aku menjauhi Rey. Sebenarnya hatiku sakit, tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu satu-satunya cara agar aku menghapus rasa cintaku terhadap Rey. Dan sebenarnya juga tak ingin mendengar celotehan Rey tentang hubungannya dengan Krystal. Aku sebenarnya sedikit ragu dengan keputusanku. Belum tentu Rey menerima ungkapan Krystal. Tapi setelahnya aku yakin Rey pasti menerima Krystal. Dapat kurasakan kalau Krystal itu seorang gadis yang cantik. Buktinya saat dia duduk disebelahku harum shampo-nya menyruak masuk ke hidungku. Juga saat aku bersalaman dengannya dapat kurasakan tangannya yang halus lembut. Mana mungkin Rey mau menolak keanggunan Krystal yang sudah pasti menyukainya. Aku dilanda kegalauan yang luar biasa. Menghindari Rey sama dengan membunuh diriku secara tidak langsung. Aku mencintainya. Sungguh. - "Ji, Rey didepan tuh. Katanya mau ketemu kamu." ibu membuka pintu kamarku dan mendapatiku yang sedang berbaring di atas kasur. "dan oh iya Ji. Sepertinya Rey membawa sesuatu untukmu." Aku tersentak. Sesuatu? Sesuatu apa? - "Mau apa Rey kesini. Ji sibuk." ketus. Itulah yang kuucapkan saat menghampiri Rey yang sudah hampir 2 menungguku untuk keluar dari kamar. "Ji.. Kenapa? Akhir-akhir ini kok ngehindar?" Rey balik bertanya kepadaku. "Nggak apa-apa. Sudah cepat Ji sibuk. Mau apa kesini?" sahutku ketus. "Kok Ji aneh sih. Aku cuma mau bilang, kemarin itu aku sama Krystal..." "Stop!" aku menyela. Kecewa. Itulah yang kurasakan saat ini. Tega sekali Rey. Mau menceritakan kisah romannya dengan Krystal kepadaku. "Kenapa?" tanya Rey heran. Aku menggigit bibir bawahku. Menahan air yang merebak keluar dari mataku. "Aku sudah tau Rey. Kamu nggak perlu bilang lagi." "tahu apa?" tanya Rey padaku. Aku menghembuskan nafas kuat. "kamu..." ucapanku terhenti. Sepertinya air itu sudah keluar membasahi kedua pipiku. "Aku? Kenapa denganku?" ucapnya heran. "Rey, sudah pacaran dengan Krystal kan?" air mata itu semakin deras. Tetes demi tetes berubah menjadi aliran. Seperti aliran sungai. Aku takut. Takut kalau yang kukatakan barusan benar. "sudah puas nangisnya?" tanya Rey setelah kurang lebih sepuluh menit aku menangis. Aku hanya diam. "Ji yang kamu bilang tadi itu nggak benar. Aku mau bilang kalo aku mau ngasih ini sama kamu." Rey mengeluarkan kotak yang lumayan besar dari balik tubuhnya, aku dapat mendengarkan suara berisiknya. "ini kemarin aku beli bareng Krystal." lanjutnya lagi. Agaknya kali ini aku melakukan hal bodoh. Hal terbodoh didunia. Kesalah pahaman yang tidak penting. Sama sekali tidak penting. "Apa ini?" tanyaku sambil meraba-raba isi kotak itu. Terasa lembut. "kalo kamu mau nerima itu berarti kamu cinta sama aku. Kalo kamu balikin itu ke aku berarti kamu cuma nganggap aku temanmu. Sekarang kamu pilih yang mana?" Rey menembakku tepat dijantung. Perasaan membuncah menari-nari di hatiku. Aku memeluk isi kotak itu. Seperti sebuah boneka lucu. Dapat kurasakan Rey berpindah tampat duduk menjadi disebelahku. Detik berikutnya aku merasakan tubuhku berada didalam rengkuhannya yang kuat, tetapi terasa nyaman dan hangat. Tanpa kusadari ujung bibirku tertarik keatas mengulum sebuah senyuman. Senyuman kebahagiaan. :) -Rizka Salsabila Zain 1Agustus 2012 10.20 @Sunshiners3424
Posting Komentar