Kamis, 31 Oktober 2013

Indonesian Movie 5 cm.



           
 Assalamu’alaikum temans!!~ ketemu lagi sama akuw :* kali ini mau ngebahas tentang film Indonesia yang judulnya “5 cm.” pasti udah tauk dong ya. Nggak mungkin nggak tau, walaupun sekedar Cuma denger judulnya dan nggak nonton :P
Ini film menceritakan tentang 5 orang yang bersahabat selama 10 tahun *jadi inget sahabat-sahabat gue Dwi, Dita, Mira, Rheni :*. Mereka adalah Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah), Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), dan Ian (Igor Saykoji). Mereka berlima nggak pernah ngelewati satu malem weekend-pun tanpa ketemuan. Sampai pada akhirnya, Genta minta ke temen-temennya supaya mereka nggak ketemuan dalam waktu yang cukup lama. Awalnya Riani nggak setuju, tapi karena semua temen-temennya setuju, akhirnya mereka nggak ketemuan selama 3 bulan. Selama tiga bulan itu mereka ngelewati banyak hal sambil terus kepikiran sahabat-sahabat mereka.
Misalnya Ian, yang lagi ngurus skripsi yang nggak kelar-kelar, dia pengen banget ngehubungin sahabatnya. Tapi pada saat dia mau ngehubungin sahabatnya, dia jadi ngerasa melanggar peraturannya sendiri. Terus Zafran yang malah sering neleponin Arinda (Pevita Pearce) adiknya Arial, dan berusaha supaya teleponnya bukan Arial yang angkat. Riani yang malah kepikiran tentang salah seorang sahabatnya yang disukainya dari lama, tapi nggak berani bilang karena dia takut ngerusak persahabatan. Genta yang malah kepikiran tentang Riani, orang yang udah lama dia taksir. Dan Arial yang sibuk ngedeketin Indy di tempat gym.
Tapi pada akhirnya mereka ketemu setelah tiga bulan nggak ketemu. Mereka ketemuan di stasiun kereta api untuk pergi ke Gunung Semeru di tanggal 14 Agustus. Dari situlah berawal keseruan film-nya temans.
Perjalanan mereka untuk mendaki Semeru sangat nggak gampang. Banyak banget rintangan dan kelucuan yang terjadi *jadi inget pas camping bareng penggalang Pramuka Taman Siswa. Salam Pramuka!* :D. tapi pada akhirnya mereka nyampe di Mahameru tanggal 17 Agustus, puncak tertinggi Jawa dan melihat matahari 17 Agustus di Mahameru yang terletak di atas awan. Padahal itu masih jam 5.25 dan mereka yang pertama kali ngelihat matahari 17 Agustus hari itu.
Sumpah! Pas nonton film itu rasa nasionalisme jadi nambah :D. apalagi pas inget Arinda bilang, “Indonesiaku aku mencintaimu sepenuhnya!” sambil memandangi bendera Merah Putih, bendera Negara kita temans, INDONESIA.
Zafran juga bilang, “Negeri ini indah sekali, Tuhan. Bantu kami menjaganya.”
Terus pas Ian bilang dia nggak jadi pergi ke Manchester karena dia bakalan ngerasa bersalah sama Indonesia. Sebab dia dari lahir udah di Indonesia. Minum air dari tanah Indonesia dan menginjak bumi di tanah Indonesia.
Aku jadi ngebenerin apa yang dibilang Ian. Coz, selama ini aku nggak perduli dengan negaraku. Tanah airku. Jadi inget quotes ini deh, “Jangan tanya apa yang Negara berikan kepadamu. Tapi tanyakanlah apa yang sudah kau berikan kepada negaramu.” :’)
Walaupun Indonesia kaya gini. Aku bangga jadi pemudi Indonesia!!
Di film ini akan ada kisah cinta segi empat loh :D.
Dan temukan quotes Riani, “Nggak enak ya jadi cewek, kalo suka sama seseorang nggak bisa bilang duluan. Bisanya Cuma nunggu.”
Penasaran? Makanya nonton filmnya. Recommended banget. Ini film Indonesia terkeren yang pernah aku tonton. Nggak nyangka ada pemandangan ciptaan Allah seindah itu di Tanah Air kita.
Berikut beberapa yang udah aku capture. Dijamin bakalan pengen nginjek Mahameru deh *kaya gue L*. Yok temen-temen XII IPA 1, hari kelulusan kita ke Mahameru, ya!! :D 









Sabtu, 26 Oktober 2013

Ringkasan Novel Malaikat-Malaikat Kecil Tak Bersayap Karya : Airlynd Winslow



Rangkuman Novel Malaikat-Malaikat Kecil Tak Bersayap 
oleh : Rizka Zain
William Alexander Wallace (Billy), Sayyid Iskandar Mohammed (Sayyid), Margaret Alexandra Hagadorn (Maggie). Mereka adalah tiga ksatria hebat, yang akan selalu mengalahkan kejahatan dan membela yang lemah. Mereka tidak akan membiarkan kejahatan apapun luput dari mereka. Mereka melindungi siapapun yang membutuhkan pertolongan. Karena mereka bertiga berjuang untuk mengahadapi ketidakadilan dan penindasan disekolah dan lingkungan sekitar mereka. Tentu saja bukan hanya mereka yang menjadi korban ketidakadilan penindasan tersebut, banyak anak-anak lain yang menjadi korban ketidakadilan itu. Ketika itu umur mereka 13 tahun, saat mereka bersekolah di Centurion Middle School.                
Di sekolah mereka, anak-anak yang cacat selalu ditindas. Mereka bertiga adalah anak-anak yang cacat. Misalnya Billy yang mengidap penyakit distrofi otot, sehingga dia hanya bisa berdiri jika memakai penyangga kaki, walaupun jalannya harus tertatih-tatih. Sayyid adalah anak yang mengidap penyakit leukemia saat dia berumur 6 tahun, karena pengobatannya itu kini dia memiliki tubuh yang sangat kurus, mata besar yang menonjol dan hidung mencuat yang membuatnya sering dijuluki ‘alien’. Dan Maggie mengidap penyakit cerebral palsy yang membuat wajahnya seperti orang yang menyeringai sepanjang waktu dan cara berjalannya juga lucu.  Mereka adalah anak dari sekian banyak anak yang tidak popular di sekolah mereka yang selalu ditindas oleh kalangan murid popular. Mereka selalu di olok-olok dan menjadi bahan ejekan maupun bahan tertawaan.
Di dekat rumah mereka di Lincolnville di kota Lakeville di Negara bagian Minnesota ada sebuah hutan. Ketika itu umur mereka masih 12 tahun, mereka menjelajahi hutan itu. Mereka tidak bermain di taman Lincolnville, karena anak-anak normal yang tinggal di Lincolnville akan mengganggu dan menyiksa mereka jika mereka bermain di taman. Setelah sekian lama menjelajah hutan, ternyata di dalam hutan tersebut mereka menemukan pondok kecil yang terbangun dari kayu yang sudah rapuh dan cat pintu dan jendelanya sudah terkelupas, dan beberapa engsel jendelanya sudah lepas.
Akhirnya, keesokan harinya mereka membersihkan dan membenahi pondok yang mereka temukan kemarin, pondok itu terletak tak jauh dari rumah Maggie. Karena mereka ingin menjadikan pondok tersebut sebagai markas besar mereka. Dan mereka akan menjadikannya tempat terhebat di dunia, karena mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan.
Pondok tersebut sudah mereka cat dengan warna coklat agar tidak terlalu mencolok, dan kusen-kusen jandela dan pintu mereka cat dengan warna merah hati. Mereka menaruh sofa bekas dan sebuah meja kayu persegi yang mereka beli dengan uang tabungan mereka sendiri di ruangan bagian depan pondok itu. Sayyid membawa televise bekas ukuran 14 inchi yang sudah dia perbaiki sendiri. Billy membawa radio tua milik kakkeknya dan computer hasil raktannya sendiri. Sedangkan Maggie membawa sebuah rak buku yang nantinya akan mereka isi dengan buku-buku favorit mereka. Tempat itu mereka beri nama Utopia.



Ketika mereka berumur 13 tahun. Billy, Maggie dan Sayyid bersekolah di Centurion Middle School. Centurion Middle School terletak di kota Lakeville di Negara bagian Minnesota. Centurion Middle School tidak mengatur secara jelas tentang masalah penindasan sehingga seringkali terjadi penindasan di sekolah tersebut. Penindasan yang seringkali terjadi di kalangan anak-anak yang kurang popular. Di sekolah tersebut, murid-muridnya akan dibagi dalam beberapa urutan. Di urutan pertama ditempati oleh Gank Clyde, Tara dan Ridley. Mereka semua suka menindas anak-anak yang lemah dan mentertawai anak-anak lain yang memiliki kelainan fisik seperti Billy, Maggie dan Sayyid. Di urutan kedua adalah tempat anak-anak normal. Mereka tidak pandai bergaya, tapi pintar dan memiliki tampang lumayan cantik atau tampan. Di urutan ketiga, adalah level paling bawah, isinya adalah anak-anak pintar, normal, tapi jelek. Mereka biasa disebut kelompok kutu buku atau freak. Biasanya mereka tidak pilih-pilih teman. Dan mereka kurang suka bergaul kecuali dengan kelompok mereka sendiri. Di sekolah itu Sayyid, Billy dan Maggie harus berjuang. Berusaha mendapat pendidikan yang layak dan juga bertahan dari segala bentuk aniaya yang menimpa siswa-siswi yang dianggap tidak berharga, yang keberadaannya dipandang sebagai pelengkap penderita.
Akhirnya satu hari sebelum musim dingin berakhir, seorang anak perempuan bernama Ni Putu Indira Adhikari, biasa dipanggil Indira datang ke Lincolnville dia berasal dari Bali, Indonesia. Dia ke Lincolnville bersama dengan Colin –orangtuanya. Awalnya bagi Maggie, Billy dan Sayyid, Indira adalah anak yang tertutup dan rumit. Tidak murah senyum dan dari sorot matanya tersirat sebuah kesedihan, kesepian dan kerinduan.
Ketika waktu istirahat tiba, Maggie, Billy dan Sayyid menghampiri Indira yang sedang duduk di bawah sebatang pohon di halaman belakang Centurion Middle School. Ketika Sayyid, Billy dan Maggie mengajaknya bicara dia selalu menjawabnya dengan sinis. Karena yang Indira pikir, orang Amerika suka saling menjatuhkan. Akhirnya Indira pergi meninggalkan Maggie, Billy dan Sayyid. Ketika Indira pergi meninggalkan mereka, Maggie berpikir bahwa sebenarnya Indiran adalah anak yang baik, hanya saja gadis itu masih belum bisa mempercayai mereka. Mungkin Indira trauma dengan lingkungan baru sehingga sulit baginya untuk terbuka dan mempercayai orang yang baru dikenalnya. 
                Ketika waktu pulang sekolah telah tiba. Ketika Clyde dan gerombolannya mendekati Maggie. Maggie sedikit mengelak dan tidak mau mencari gara-gara. Tapi Clyde terus mengganggunya, karena itulah yang paling disukai Clyde. Dia selalu menghina dan mengejek sehingga membuat keributan. Saat itu Indira berada didekat Maggie. Di dengan tidak sengaja mendengar perkataan Clyde yang ingun mengurung Maggie di gudang. Akhirnya dengan sangat berani Indira menginjak harga diri Clyde dengan mengejek kelemahan-kelemahan Clyde. Hal itu membuat Clyde mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukul Indira. Tapi ternyata Indira menangkap tangan Clyde lalu memelintir dan mengunci gerakan tangan Clyde. Sehinggal membuat Clyde meronta kesakitan. Akhirnya Indira melepas pelintiran tangan Clyde setelah anak buah Clyde melepaskan Maggie. Setelah itu, Indira mau berteman dengan Maggie, Billy dan Sayyid. Dengan alasan karena Billy, Sayyid dan Maggie terlihat kompak. Mereka menolong satu sama lain, dan tidak ingin membuat satu sama lain susah.
                Ketika bel istirahat berbunyi, Billy, Maggie dan Sayyid mengajak Indira kea tap gedung sekolah. Disana, mereka asyik bercakap-cakap sambil memakan bekal yang mereka bawa masing-masing. Tapi ketika Indira bertanya kenapa mereka tidak makan dikantin. Mereka semua menjawab, karena mereka takut disiksa habis-habisan disana. Tetapi bukan itu juga penyebabnya, Sayyid adalah seorang Muslim, dan kebanyakan makanan dikantin mengandung unsur-unsur yang tidak boleh dimakan oleh seorang Muslim. Mereka menerima Indira sebagai sahabat baru mereka. Mereka bahkan akan mengajak Indira ke Utopia mereka asalkan Indira mau merahasiakan keberadaan Utopia tersebut.
Siang hari ketika mereka berada di Utopia, Indira menceritakan isi hatinya. Indira ternyata tinggal di Lincolnville bersama ayah tirinya setelah setahun yang lalu ibunya meninggal dunia. Indira berkaca-kaca,karena ia sangat merindukan kampung halamannya, ia juga sangat merindukan ayah dan ibunya dan karena hanya Sayyid, Billy dan Maggie lah teman-temannya selama ia tinggal di Amerika.
Sore hari setelah pulang sekolah, Indira beraksud ingin membalas perbuatan Ridley terhadap Sayyid tadi siang. Karena siang hari saat disekolah, Sayyid dengan tidak sengaja menabrak Ridley. Ridley yang sangat tidak suka dengan Sayyid, langsung mencari gara-gara agar terjadi keributan. Menurut Indira perbuatan mereka harus dibalas. Akhirnya Indira menyampaikan ide briliannya itu kepada sahabat-sahabatnya di markas besar mereka, Utopia. Mereka akan membalas kejahatan Ridley, Clyde dan Tara. Mereka akan membalas dengan cara diam-diam. Jadi mereka akan mengerjai Genk Ridley, Clyde dan Tara tanpa mereka ketahui siapa yang mengerjai mereka.  
                Hari Senin sebelum bel masuk berbunyi, di area loker Centurion Middle School. Mereka meletakkan cicak di loker Ridley. Karena dari hasil pengintaian mereka Ridley sangat takut dengan cicak. Ridley menjerit histeris ketika ia membuka lokernya. Sekitar tiga puluh cicak memenuhi lokernya dan sekarang mulai merayap keluar. Wajah Ridley pucat pasi dan matanya menyorotkan kengerian. 
                Selanjutnya mereka akan mengerjai Clyde. Hari Kamis. Satu jam sebelum bel masuk berbunyi. Di area loker Centurion Middle School. Mereka membuat jebakan yang lebih kejam untuk Clyde dari jebakan untuk Ridley. Karena selama ini Clyde slalu menganggap orang lain lebih rendah dari pada dirinya, kecuali Tara tentunya. Clyde juga semakin congkak karena ia murid terkaya, dan ayah Clyde adalah donatur terbesar bagi kegiatan-kegiatan di Centurion Middle School. Mereka memasang jebakan dengan melemparkan tepung tepat kewajah Clyde begitu Clyde membuka loker. Semua orang tertawa melihat wajah Clyde belepotan tepung. Bukan itu saja, mereka juga mengerjai Clyde saat di ruang kelas. Mereka menempelkan beberapa batang petasan di bawah kursi Clyde dengan permen karet, lalu sumbunya sengaja mereka buat panjang lalu mereka sambungkan dengan sebatang rokok lalu dibawahya dipasang aluminium foil agar abu rokoknya tidak jatuh kelantai. Dan ketika petasan dibawah kursi Clyde terbakar, suara petasan menggema di ruangan kelas. Clyde sampai naik keatas kursi karena terkejut. Tapi ternyata ia terjatuh dari kursi dan badannya membentur bibir meja. Akhirnya Clyde hanya bisa pasrah terjepit diantara kursi dan meja sampai petasan habis.
Hari Kamis. Ketika pelajaran olahraga selesai, saat murid-murid akan mandi sehabis olahraga. Maggie dan Billy yang menyiapkan semuanya untuk mengerjai Tara dan Genk nya, karena Maggie dan Billy tidak mempunyai fisik yang baik untuk mengikuti pelajaran olahraga. Mereka menuangkan pewarna pakaian permanen berwarna biru ke shampoo Tara dan teman-temannya, mereka juga menuangkan pewarna hijau permanen ke sabun Tara dan teman-temannya. Mereka juga mengoleskan getah gatal yang sudah di campur air ke bedak padat milik Tara dan teman-temannya. Hingga tiba saatnya di ruang ganti untuk murid perempuan, Tara dan teman-temannya menjerit histeris karena rambut mereka yang indah berubah menjadi biru terang, dan kulit mereka yang halus mulus menjadi berwarna hijau. Setelah selesai berpakaian, mereka mulai berdandan, tapi mereka menjerit lagi dan menggaruk-garuk wajah mereka. Tara dan teman-temannya berjalan keluar sambil tertunduk malu sambil menggaruk-garuk wajah mereka yang gatal dan panas.
                Seminggu setelah Mighty Knights mengerjai Ridley, Clyde dan Tara. Centurion Middle School menjadi agak ketat. Guru-guru melakukan razia untuk mencari tahu si pelaku selama beberapa minggu belakangan. Karena menurut para guru perbuatan Mighty Knights sangatlah keterlaluan. Tapi pada akhirnya para guru menjadi gerah dengan permintaan murid-murid mereka yang bermacam-macam, akhirnya menghentikan razia, juga berhenti mencari tahu identitas para Mighty Knights. Bukan karena mereka setuju, tapi mereka tidak mau repot dengan penderitaan murid-murid yang ditindas, jadi mereka lebih memilih memberi kebebasan pada para Mighty Knights. Tapi para guru menambahkan, jika suatu hari menemukan Mighty Knights, maka para Mighty Knights akan dihukum atas perbuatan-perbuatannya.
                Suatu hari sepulang sekolah, para Mighty Knights berkumpul di markas besar mereka, Utopia. Mereka masih saja heran melihat Ridley yang masih pada sikapnya yang dulu, yaitu suka menindas. Karena Ridley tidak peduli pada apapun. Seberapa keras Mighty Knights mengerjai Ridley, dia tetap saja melakukan kejahilan yang menyakiti hati bahkan fisik korbannya. Mighty Knights akan mengerjai Ridley kembali jika Ridley berbuat sangat kejam kepada murid disekolah mereka.
                Ketika musim gugur tiba, Sayyid, Billy dan Maggie akan membuat pesta kejutan untuk ulang tahun Indira. Mereka ingin membuat ulang tahun pertama Indira sejak ia berada di Amerika menjadi ulang tahun yang sangat hebat. Awalnya Sayyid dan Billy membuat Indira kesal dengan cara membatalkan janji mereka untuk makan es krim karena mereka ingin melihat kaset game yang baru milik Maggie. Tapi setelah tiba di rumah Maggie, Sayyid menyuruh Indira untuk membuka pintu rumah Maggie. Setelah Indira membuka pintu, Indira memasang wajah terkejut penuh haru. Maggie berdiri di ruang tamu sambil memegang Blackforest dengan lilin berbentuk angka 14 di atasnya. Maggie, Sayyid juga Billy menghias ruangan tersebut dengan kertas hias juga balon warna-warni dan dindingnya menghadap pintu masuk, Maggie juga menempelkan kertas mengkilap dengan tulisan : Selamat Ulang Tahun Indira. Kemudian mereka berempat makan kue bersama-sama, dan sesekali mengoleskan krim yang ada pada kue tersebut ke wajah tiap orang. Setelah itu, mereka akan mengajak Indira ke garasi. Indira kembali terharu. Di dalam garasi ada sebuah sepeda yang Maggie, Billy, dan Sayyid beli dengan tabungan mereka.
                Pada hari Rabu malam pukul 20.30  tiga hari setelah pesta kejutan ulang tahun Indira. Di kompleks perumahan di Lincolnville. Indira tiba-tiba saja ingin menginap dirumah Maggie. Maggie merasa heran, tapi keesokan harinya ternyata Sayyid, Maggie dan Billy menemukan Indira dalam keadaan mengenaskan. Indira diikat pada besi pemanas ruangan di ruangan bawah tanah rumahnya. Badannya penuh luka, kepalanya berdarah dan tak sadarkan diri. Saat sayyid dan Billy membantu untuk mengangkat Indira dan Maggie menelpon 911, sepersekian detik kemudian Indira terkapar sambil memegangi kepalanya. Billy yang tersadar lebih dulu atas apa yang terjadi, langsung berlari menerjang Colin dan menarik tongkat besi perapian yang baru saja Colin gunakan untuk memukul Indira, kemudian Billy memukulkannya pada Colin hingga ia terjatuh. Kemudian mereka mengikat Colin di besi penghangat ruangan tempat ia mengikat Indira. Lalu mereka membopong Indira ke rumah Sayyid dan meminta Ibu Sayyid untuk membawa Indira ke rumah sakit secepatnya.
Saat itu Indira tidak sadarkan diri dan nafasnya terlihat sangat lemah. Indira dibawa masuk ke ruang UGD. Indira menghembuskan napas terakhirnya di Rumah sakit, tepat seminggu setelah hari ulang tahunnya. Ternyata Indira menceritakan semua penyiksaan yang dilakukan Colin kepadanya melalui buku hariannya. Colin dibawa kantor polisi dan ia akan mendekam di penjara atas tuduhan penganiayaan, pembunuhan, pemalsuan surat wasiat dan penculikan. Bibi Indira yang datang dari Bali memutuskan untuk melakukan upacara ngaben di Amerika, asap membumbung ke angkasa menambah kesan suram dan sedih pada hari tersebut. Sayyid, Billy dan Maggie memandang tubuh Indira yang sekarang tertelan api dalam diam.
Pada hari Senin , Sayyid, Maggie dan Billy kembali bersekolah. Sebulan berlalu setelah meninggalnya Indira, penindasan kembali merajalela. Ridley semakin menjadi-jadi begitu juga dengan Clyde dan Tara, dan juga anak-anak popular lainnya yang dulunya sudah tobat karena takut dikerjai oleh para Mighty Knights. Sejak meninggalnya Indira, Mighty Knights sudah tidak beroperasi lagi. Karena selama ini, hanya Indira yang membuat Sayyid, Billy dan Maggie berani melakukan pembalasan kepada penindas-penindas tersebut. Kini sudah tidak ada Indira, dan Mighty Knights seakan lenyap ditelan bumi. 
Suatu hari, Billy menemukan selebaran pertunjukan di papan pengumuman di sekolah mereka. Setelah membacanya, mereka ingin membuat kelompok paduan suara untuk anak-anak tertindas. Karena mereka ingin menunjukkan kalau anak-anak yang tidak populer juga bisa membuktikan bakat mereka. Mereka akan menyanyikan salah satu puisi Mattie yang dinyanyikan oleh Billy Gilman yang berjudul I am… Shades of Life. Karena kata-kata dalam puisi tersebut sangat cocok untuk menyerukan perdamaian dan menghormati perbedaan.
                Dua minggu sebelum acara pertunjukan bakat, mereka akan melaksanakan seleksi untuk anggota paduan suara mereka. Di studio music di rumah Amy. Karena ada sekitar tiga puluhan anak yang ingin mengikuti paduan suara ini. Sedangkan mereka hanya membutuhkan anggota paling banyak dua puluh anak saja. Akhirnya mereka menyeleksi dengan tiga tahap. Yang pertama jam sepuluh sampai jam sebelas. Yang kedua dari jam dua belas sampai jam satu. Yang terakhir jam dua sampai jam tiga. Kemudian jika lebih dari tujuh belas orang yang bersuara bagus, mereka akan menyeleksi lagi siapa-siapa saja yang lolos keesokan harinya untuk mendapatkan tujuh belas orang terbaik. Semua peserta mengeluarkan kmampuan terbaiknya karena mereka memang sangat ingin terlibat dalam pertunjukan bakat yang akan mereka tampilkan, yang kemungkinan akan dapat membawa perubahan di Centurion Middle School.
                Ketika waktunya telah tiba, mereka semua duduk dibelakang panggung. Mereka mengenakan kaus putih bergambar foto Indira. Di bagian bawah foto mereka tulis dengan ‘In Memoriam , Our Beloved Indira’. Mereka menunggu dengan gelisa. Tapi mereka tak menampakkannya. Mereka mencoba menepis semua kekhawatiran mereka dengan mengobrol dan sesekali bercanda satu sama lain. Mereka memilih nama Future Rainbow karena mereka terdiri dari beragam pribadi, ras, agama dan fisik, dan mereka adalah penerus masa depan yang nantinya akan menghiasi dunia ini. Seperti pelangi yang menghiasi langit saat hujan telah usai. 
                Akhirnya setelah Future Rainbow dipanggil, mereka keluar dengan sesantai mungkin walaupun mereka merasakan demam panggung yang hebat. Ketika memasuki panggung terdengar tawa dan cemoohan dari anak-anak populer. Sayyid mengambil posisi duduk di kursi yang diletakkan di kiri panggung sambil memegang gitar. Billy mendatangi petugas yang mengatur latar lalu memberikan CD yang berisi slide show yang akan mereka gunakan sebagai latar mereka lalu kembali ke panggung dan duduk didepan piano. Terdengar suara-suara menghina dari beberapa penonton terutama anak-anak populer yang membuat mereka jadi semakin tidak percaya diri. Saat mereka sudah ada diposisi yang ditentukan, Sayyid mulai memainkan gitar akustik diiringi piano Billy. Permainan mereka berdua berhasil mencuri perhatian penonton. Maggie dan yang lainnya menjadi agak percaya diri.
Lalu tibalah giliran Maggie bernyanyi, dan ketika mengeluarkan suaranya, tak disangka semakin banyak yang memperhatikan mereka. Mereka senang sekali melihat penonton terpukau dengan penampilan mereka. Dibelakang mereka slide show yang mereka gunakan sebagai latar menampilkan foto-foto mereka semua ketika latihan dan mempersiapkan penampilan mereka.
Maggie, Billy dan Sayyid sangat senang melihat kelompok mereka. Merka tampak seperti pelangi. Terdiri dari warna kulit yang berbeda, agama yang berbeda, jenis kelamin yang berbeda, dan kondisi fisik yang berbeda. Mereka semua satu dalam perbedaan. 
                Hari Senin di Centurion Middle School.  Kepala sekolah mereka memberikan pengumuman bahwa Centurion Middle School akan dibuat peraturan yang akan melarang segala macam penindasan dan perlakuan rasial. Supaya hal-hal rendah dan tak berperikemanusiaan seperti itu tak terjadi lagi. Sayyid, Billy dan Maggie merasa sangat senang. Karena kedamaian akan berlangsung di Centurion Middle School. Dan mereka akan bisa menyelesaikan studi mereka dengan tenang dan bahagia di sekolah itu.
Pagi hari, di koridor sekolah, Billy tiba-tiba terjatuh saat ia bersama Sayyid dan Maggie bersama-sama berjalan di koridor sekolah. Karena ternyata penyakit distrofi ototnya semakin parah dan ganas sehingga membuat otot-otot Billy melemah terutama di bagian jantung dan alat pernafasannya. Malam harinya ketika Maggie dan Sayyid pulang dari rumah Billy. Ternyata keesokan harinya Billy telah meninggal. Billy terbaring begitu tenang seperti orang yang sedang tertidur.
Ketika musim panas. Sayyid dan Maggie telah lulus dari Centurion Middle School dengan nilai yang sangat memuaskan. Mereka berniat akan merayakan kelulusan mereka di Utopia sambil mengenang Bily dan Indira.
Lima belas tahun setelah Sayyid pergi meninggalkan Lakeville menuju Connecticut. Maggie dan Jamie (Suami Maggie), dikejutkan oleh sebuah berita di televise. Ketika Sayyid keluar dari gedung pengadilan, tiga hari sebelum Sayyid pulang ke Lincolnville sebelum Hari Raya Idul Fitri. Sayyid ditembak oleh seorang rasis fanatic yang membenci segala tindak-tanduk Sayyid. Hal itu terjadi karena lelaki rasis yang menembak Sayyid takut jika Sayyid menjadi senator, Sayyid akan menghapus rasisme dan memperjuangkan hak-hak kaum tertindas tanpa pandang bulu. Akhirnya, jenazah Sayyid di terbangkan langsung keesokan harinya setelah insiden penembakan. Orangtua Sayyid ingin agar anaknya dimakamkan di daerah pemakaman Muslim di daerah Lakeville agar dekat dengan mereka.
Tinggallah Maggie yang selalu dengan Indira dan Billy kecilnya bersama-sama pergi ke Utopia. Mengenang masa-masa dan kenangan indahnya bersama sahabat-sahabatnya. Four Mighty Knights.

                                                                                                                                                                                                Selesai

Wedding Dress



Judul           : Wedding Dress
Author        : Rizka Zain (@zaainz)
Genre                   : Sad Romance
Cast            : Super Junior Cho Kyuhyun
                     SNSD Seo Joohyun
                     SNSD Choi Sooyoung
Disclaimer  : Asli karya saya. Jangan jadi plagiat. Okay!
Hai, saya kembali dengan FF cast Seohyun dan Kyuhyun again. Tapi disini ditambahin ada Sooyoung-nya. Don’t be silent reader ya J Komentar itu adalah honor untuk penulis blog ;)


Hari ini adalah hari yang paling mengesalkan bagi Kyuhyun karena dia baru saja di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak ia cintai, dan ia juga belum mengenalnya. Kyuhyun sangat kesal karena beberapa minggu yang lalu ia bermaksud untuk melamar Sooyoung, kekasihnya. Dia bahkan sudah memesan gaun pengantin bersama Sooyoung.
Kyuhyun berjalan mendekati ayah dan ibunya.
“Appa,” ucap Kyuhyun ketika melihat ayahnya tengah duduk santai sambil menonton tv, sedangkan ibunya sedang menyiapkan makan untuk Ah Ra, kakaknya yang baru pulang kerja. Ayah Kyuhyun langsung menoleh ketika melihat penerus marga Cho berada di depannya.
“Waeyo?”
“Appa, apa aku boleh menolak perjodohan ini? Aku tidak mencintai perempuan itu, aku bahkan belum mengenalnya,” ucap Kyuhyun.
“Tidak Kyuhyun-ah. Kau tahu, halmoni-mu sangat menyukai perempuan itu karena ia pernah membantu halmoni-mu ketika dia di copet di bandara,” terang ayah Kyuhyun. Kyuhyun lalu membelalakkan matanya. Hanya karena membantu karena hampir di copet ia harus menikah dengan yang membantu itu? Huh! Kalau begitu Sooyoung juga bisa. Gerutu Kyuhyun.
Kyuhyun adalah tipe orang yang sangat sulit untuk mencintai seseorang. Karena dulu ia pernah dikecewakan oleh seorang perempuan, hoobae-nya saat SMA. Kyuhyun bahkan pernah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak ingin mencintai perempuan manapun selain ibunya dan kakaknya.
Sampai pada saat ia pergi berlibur ke Jepang bersama dengan sepupunya, Choi Siwon. Mereka bertemu dengan seorang perempuan bernama Choi Sooyoung yang memikat hatinya pada pandangan pertama. Itulah pertama kali Kyuhyun mencintai seorang wanita setelah ia tersakiti oleh hoobae-nya.
                                                ^^
Seohyun sedang bersenandung ria. Orang tuanya baru saja pulang dari kediaman keluarga Cho di pusat kota Seoul. Seminggu lagi dia akan menikah dengan orang yang paling dicintainya sejak ia duduk di bangku SMA, Cho Kyuhyun namanya. Cho Kyuhyun adalah cinta pertamanya. Sampai saat ini pun rasa itu masih tidak berubah di hatinya.
Tiba-tiba saja handphone-nya berdering, tanda pesan masuk. Seohyun segera mengambil handphone-nya dan membaca pesan itu. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi layar handphone-nya.
Seohyun merasa sangat tersakiti ketika membaca pesan singkat dari Cho Kyuhyun. Hatinya terasa sakit sekali. Seperti sebuah tombak yang menusuknya tepat di tengah.
‘Jangan pernah berharap aku akan menikahimu.’
Seohyun keluar kamarnya. Ia ingin mencari udara segar. Mungkin dengan begitu pikirannya bisa jernih kembali. Seohyun tidak menghiraukan ibunya yang memanggil dirinya saat ia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.
Seohyun sudah tiba di pantai yang sepi. Di tepi pantai itu Seohyun berlari sangat kencang sambil berteriak keras. Ia meluapkan emosinya agar terbang bersama angin yang kencang.
Tiba-tiba saja Seohyun terjatuh. Kakinya sangat sakit karena terlalu kencang berlari. Seseorang menyodorkan sebotol air mineral kepada Seohyun. Seohyun mendongakkan kepalanya keatas. Tampak seorang gadis yang tinggi semampai sedang tersenyum kearahnya. Seohyun segera membalas senyumannya dan mengambil botol air mineral itu.
“Ada apa?” kata gadis itu. Seohyun membetulkan posisi duduknya dan mengernyit kearah gadis disampingnya.
“Oh, maaf. Namaku Sooyoung,” ucap gadis bernama Sooyoung itu. Seohyun segera mengamit lengan Sooyoung untuk bersalaman.
“Aku Joo Hyun,” balas Seohyun sambil tersenyum.
“Kau punya masalah?”
Seohyun diam. Dia sangat sulit menceritakan masalahnya kepada orang yang baru dikenalnya.
“Aku bukannya ingin ikut campur. Tapi aku juga sedang punya masalah. Makanya aku pergi kesini karena aku sangat suka dengan pantai. Aku ingin mencurahkan semua kesedihanku dengan ombak di pantai,” celoteh Seooyoung. Seohyun juga sangat suka dengan pantai. Ketika ia merasa sedih, ia selalu pergi kepantai. Di pantai kita bisa bercengkrama dengan deburan ombak yang seakan menjawab semua keluhan.
“Kekasihku akan menikah dengan seseorang karena dia dijodohkan oleh kedua orang tuanya,” lanjut Sooyoung. Seohyun menoleh kearah Sooyoung. Ternyata masalah Sooyoung lebih pelik dari masalahnya sendiri.
“Padahal aku dan dia sudah memesan gaun pengantin yang sangat indah untuk pesta pernikahan kami…” 
“… aku merasa sangat hancur sekarang, hatiku sangat sakit. Kenapa takdir buruk ini berpihak kepadaku, kapan aku bisa memakai gaun pengantinku?…”
Seohyun dengan sabar mendengarkan cerita Sooyoung. Setetes air bening membasahi pipi mulus tanpa celah milik Sooyoung. Seohyun mengelus bahu Sooyoung lembut, dengan segera Sooyoung menghapus air mata di kedua pipinya.
“Kau, apa masalahmu?” tanya Sooyoung sambil tersenyum getir. Seohyun menghela napas berat.
“Aku akan menikah dengan orang yang tidak mencintaiku,” jawab Seohyun.
“Lalu?”
“Aku belum siap untuk selalu tidak diperhatikan nanti, setelah kami menikah,” ujar Seohyun.
“Joo Hyun-ah, dia bisa mencintaimu nanti. Apa kau tahu, cinta akan hadir karena adanya kebersamaan,” ucap Sooyoung. Seohyun merasa senang, ia sangat senang bertemu dengan Sooyoung.
“Sooyoung-ah, sekarang kita berteman, kan?”
Sooyoung mengangguk mendengar ucapan Seohyun. Seohyun memeluk sahabat barunya itu. Ia sangat senang sekarang. Akhirnya ada juga seseorang yang siap menerima curahan hatinya.
“Joo Hyun-ah, apa kau mau memakai gaun pengantin milikku di acara pernikahanmu?” ujar Sooyoung. Seohyun terkejut mendengar tuturan Sooyoung.
“Tidak, aku tidak mau,” tolak Seohyun.
“Kenapa?”
“Lebih baik gaun itu kau pakai saja ketika kau akan menikah, Sooyoung-ah,” ucap Seohyun.
“Kau kan sahabatku, kau pakai saja gaunku, ya?” Seohyun tidak bisa menolak permintaan Sooyoung. Entah kenapa akhirnya ia mengangguk mengiyakan.
“Tapia da satu syarat,” aju Seohyun, membuat Sooyoung mengerutkan dahinya.
“Mwoya?”
“Kau harus datang ke pesta pernikahanku. Minggu depan, ne?”
Sooyoung mengangguk, membuat Seohyun kembali memeluk sahabat barunya.
                                                ^^
Flashback
Kyuhyun memarkirkan motornya di parkiran khusus untuk kendaraan milik murid. Tiba-tiba saja ia melihat seorang gadis yang mengendarai motor matic berwarna hijau dengan tempelan sticker bergambar kodok dimana-mana.
“Aneh sekali, seperti anak TK,” ucap Kyuhyun. Ia lalu berjalan menuju kelasnya.
Saat ia memasuki kelas, tiba-tiba saja Eunhyuk, teman sekelasnya meledeknya.
“Kyuhyun-ah, apa kau tidak bosan tidak pernah punya pacar?” ejek Eunhyuk. Kyuhyun hanya tertawa geli mendengar ucapan Eunhyuk.
Esok paginya Kyuhyun bertemu lagi dengan gadis pemilik motor hijau. Dan pagi-pagi berikutnya juga. Entah kenapa setiap kali bertemu gadis lucu itu, Kyuhyun merasakan hatinya berdebar. Apa ia jatuh cinta? Mungkin iya. Pernah suatu hari, Kyuhyun, Donghae dan Eunhyuk sedang duduk-duduk di atas motor mereka masing-masing. Mengecengi hoobae mereka yang cantik-cantik.
“Good morning sweet Yoona,” ucap Donghae menggombal. Gadis bernama Yoona itu tersipu malu mendengar bualan Donghae.
“Hai yeppeo,” ucap Eunhyuk kepada gadis imut bernama Krystal.
Tiba-tiba saja Kyuhyun melihat gadis motor hijau itu menatapnya tepat di manik matanya. Hati Kyuhyun berdesir. Jantungnya berdetak lebih kencang. Tanpa ia sadari Eunhyuk dan Donghae memperhatikan Kyuhyun dan gadis motor hijau itu sedang berpandangan. Eunhyuk menyikut lengan Kyuhyun sambil berbisik.
“Namanya Seohyun. Dia hoobae kita di kelas sebelas biologi. Dia sangat pintar,” ucap Eunhyuk. Kyuhyun menganggukkan kepalanya.
“Dia cantikkan? Kau menyukainya?” ucap Donghae. Kyuhyun mendelik mendengar ucapan Donghae.
“Kau tidak bisa berbohong Kyuhyun-ah. Dari sorot matamu tadi aku melihat kau menyukainya,” ucap Eunhyuk. Kyuhyun semakin mendelik mendengar ucapan Eunhyuk. Lelaki itu pergi meninggalkan kedua temannya yang sudah menjadi aneh kalau berbicara tentang gadis cantik.
“Kyuhyun-ah, kami bisa membantumu kalau kau menyukainya!!” teriak Eunhyuk.
“Kyuhyun-ah, kami berniat ingin mencomblangimu dengan Seohyun. Apa kau mau?” tanya Eunhyuk saat jam istirahat tiba.
Kyuhyun mendelik melihat kedua temannya yang agak gila itu.
“Kalau kau diam saja berarti kau mau,” ucap Donghae.
Kyuhyun lalu pergi meninggalkan Eunhyuk dan Donghae yang sudah siap beraksi. Wajahnya terlihat sumringah. Mungkin saja kedua teman gilanya itu membenarkan ucapannya tadi. Kyuhyun memang berharap kalau Donghae dan Eunhyuk membantunya. Tapi ia malu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada dua anak gila itu.
                                                ^^
Hari-hari Seohyun semasa SMA sangat menyenangkan setelah akhir-akhir ini ia sering bertemu dengan soonbae-nya yang tampan. Belakangan Seohyun tahun kalau soonbae-nya itu bernama Cho Kyuhyun. Ia tahu dari sahabatnya, Taeyeon. Hampir setiap hari Seohyun bisa merasakan debaran jantungnya yang kencang ketika melihat soonbae-nya itu.
Sampai pada suatu hari Donghae dan Eunhyuk yang berada di kelas dua belas Kimia menghampiri Seohyun yang sedang makan di kantin bersama dengan Taeyeon.
“Seohyun-ssi, apa kau mengenal Cho Kyuhyun?” tanya Donghae begitu ia duduk di sebelah Taeyeon yang berada di hadapan Seohyun.
Seohyun mengangguk. “Ne, aku mengenalnya. Dia sekelas dengan soonbae kan?” tanya Seohyun ramah.
“Seohyun-ssi, jangan memanggil kami dengan soonbae. Panggil kami oppa saja,” ucap Eunhyuk yang duduk di sebelah Seohyun. Seohyun lalu mengagguk.
“Ne oppa,” jawabnya sambil tersenyum.
“Seohyun-ssi, kau tahu kalau Kyuhyun menyukaimu,” ucap Eunhyuk setengah berbisik. Seohyun membekap mulutnya. Matanya melotot mendengar ucapan Eunhyuk. Benarkah?
“Omo!” teriak Taeyeon.
“Jangan berisik,” ucap Donghae. Taeyeon mengangguk.
“Benarkah?” tanya Seohyun dengan mata berbinar. Donghae dan Eunhyuk mengangguk bersamaan.
“Kalau begitu kau harus menulis surat balasan untuk Kyuhyun. Ini surat darinya,” ujar Donghae sambil menyodorkan amplop berwarna biru kepada Seohyun. Padahal surat itu bukan Kyuhyun yang menulis, melainkan Donghae dan Eunhyuk.
‘Annyeong Seohyun-ssi. Namaku Cho Kyuhyun. Apa aku boleh berkenalan denganmu secara langsung?’
Seohyun segera menulis balasan surat Kyuhyun di balik kertas surat Kyuhyun. Dan memberikan surat itu lagi kepada Donghae dan Eunhyuk selanjutnya mereka pergi setelah sebelumnya Donghae memberikan wink kepada Taeyeon yang tersipu.
Sepulang sekolah Seohyun sedang menunggu bus di halte bersama Taeyeon. Tiba-tiba saja Donghae, Eunhyuk dan Kyuhyun mendatangi mereka berdua. Awalnya hanya Taeyeon yang sadar kalau Kyuhyun cs sedang menghampiri mereka. tapi akhirnya Seohyun sadar setelah Taeyeon menyikut lengannya.
“Annyeonghaseo Seohyun-ssi, sedang menunggu bus, ya?” ucap Kyuhyun. Lelaki itu terlihat canggung sekali berbicara dengan Seohyun.
“Ne soonbae,” jawab Seohyun manis. Taeyeon lalu beringsut mundur meninggalkan Seohyun dan Kyuhyun yang sedang berbincang. Ia lalu bergabung bersama dengan Donghae dan Eunhyuk yang sedang meminum coke.
Tiba-tiba saja bus yang akan membawa Seohyun dan Taeyeon pulang berhenti tepat di depan Seohyun.
“Soonbae, aku pulang dulu, ya,” pamit Seohyun. Kyuhyun lalu mengagguk. Sebelum Seohyun masuk ke dalam bus, tiba-tiba saja Kyuhyun menarik tangannya.
“Seohyun-ah, aku akan menemuimu di taman besok sore,” ucap Kyuhyun. Seohyun lalu mengangguk mengiyakan.
Sesampainya dirumah, Seohyun melihat ayah dan ibunya sedang mengepak pakaian mereka.
“Eomma, mau kemana?” tanya Seohyun.
“Besok kita harus pindah Seohyun-ah. Appamu mendapat pekerjaan yang lebih baik di Amerika,” jawab ibu Seohyun. Deg! Seohyun menggeleng keras.
“Aniyo eomma. Aku tidak mau,” tolak Seohyun.
“Seohyun-ah,” panggil ayah Seohyun. Ia lalu mengikuti ayahnya menuju taman belakang rumahnya.
                                                ^^
Hari ini Kyuhyun sangat menunggu kedatangan sore. Ia sudah menyiapkan kata-kata untuk menyatakan perasaannya kepada Seohyun dibantu oleh Donghae dan Eunhyuk, kedua sahabat setianya yang agak gila.
Saat ia dan teman-temannya tiba di taman. Kyuhyun tidak menemui Seohyun.
“Tenang saja bro. mungkin dia sedang dalam perjalanan,” ucap Eunhyuk sambil menepuk pundak Kyuhyun.
Tak lama kemudian, Taeyeon menghampiri Kyuhyun cs sambil terengah-engah.
“Taeyeon-a, ada apa?” ucap Donghae.
“Seohyun, soonbae,” jawab Taeyeon.
“Ada apa dengan Seohyun?” tanya Kyuhyun. Ia langsung berdiri.
“Seohyun hari ini akan pindah ke Amerika. Maaf aku baru memberitahu kalian sekarang. Karena Seohyun juga baru memberitahuku tadi siang, aku tidak tahu nomor handphone salah satu dari kalian, jadi aku tidak bisa menghubungi kalian,” jelas Taeyeon.
Kyuhyun langsung pergi meninggalkan teman-temannya dan juga Taeyeon. Ia merasa sangat kecewa. Orang yang sudah menjadi cinta pertamanya telah mengecewakannya.
Flashback End
                                                ^^
“Sooyoung-a, gwenchanayo?” seru Kyuhyun di telepon.
“Ne, oppa. Gwenchana,” jawab Sooyoung berbohong. Tentu saja hatinya sangat sakit. Dasar setan bodoh.
“Kemana saja kau seharian? Nomormu tidak aktif. Aku mengkhawatirkanmu!!”
Sooyoung menundukkan kepalanya. Ia diam membisu. Seharian ini sengaja ia nonaktifkan handphonenya demi untuk tidak menjawab panggilan dan ribuan pertanyaan dari mulut Kyuhyun.
“Sooyoung-a,” ujar Kyuhyun pelan. “Kita bertemu saja, ya? Aku akan menjemputmu,” bujuk Kyuhyun.
“Andwae oppa. Aku sudah sangat lelah. Aku tidur dulu, ya? Jalja~”
Sooyoung memutuskan sambungan telepon. Dan mencampakkan handphonenya begitu saja. Ia tidak peduli kalau handphonenya rusak atau apalah itu. Yang ia perdulikan sekarang adalah bagaimana cara agar ia bisa melupakan Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun masih terus-terusan menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu.
Sooyoung merebahkan tubuhnya di atas spring bed empuk di kamarnya. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi selimutnya. Saat ini ia sungguh sangat rapuh.
“Aku bukan Sooyoung! Kembalikan Sooyoung yang dulu!”
Sooyoung menghipnotis dirinya sendiri demi menahan air matanya yang sudah menganak sungai.
“Sooyoung-a!!” teriak ibu Sooyoung dari lantai bawah. Sooyoung segera keluar kamarnya setelah sebelumnya menghapus sisa air mata di sudut-sudut matanya.
“O-oppa,” ucap Sooyoung tergagap begitu melihat Kyuhyun yang sudah berdiri di ruang tamu rumahnya.
“Kyuhyun-a, silahkan berbicara dengan Sooyoung. Ahjumma ingin masuk dulu,” pamit ibu Sooyoung.
Sooyoung masih diam mematung di bawah tangga. Sampai tiba-tiba Kyuhyun memeluknya dengan sangat erat.
“Sooyoung-a, aku tahu kau terluka. Mianhae Sooyoungie,” ucap Kyuhyun pelan. Sooyoung mencoba untuk menahan air matanya agar tidak tumpah.
“Oppa, aku baik-baik saja. Sudah kubilang aku lelah. Kenapa kau malah kesini?” ucap Sooyoung.
“Sooyoungie, mianhae. Jeongmal mianhae,” ucap Kyuhyun masih enggan untuk melepaskan pelukannya.
“Oppa, aku tidak apa-apa. Percayalah,” Sooyoung lalu melepaskan pelukan Kyuhyun.
“Dasar bodoh! Kau tidak bisa berbohong kepadaku Sooyoung-a! wajahmu itu menunjukkan kalau kau merasakan sakit!”
“Lalu aku harus apa?!” ucap Sooyoung frustasi. Air mata yang sedari tadi dengan susah payah ia tahan. Kini keluar sesuka hatinya. Membanjiri pipi Sooyoung.
“Sooyoung-a, mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo. Seharusnya aku tidak menerima perjodohan itu.”
“Oppa, pulanglah. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Lebih baik aku tidak melihatmu dari pada aku harus menahan rasa sakit. Disini,” ucap Sooyoung menunjuk dadanya.
“Sooyoung-a. mianhae, jeongmal mianhae.”
“Aku tidak apa-apa Cho Kyuhyun. Pergilah. Kapan pernikahanmu akan berlangsung?”
“Sooyoung-a!”
“Oppa, anggap saja ini hal yang wajar. Anggap saja aku hanya temanmu. Anggap saja kalau kau kesini untuk mengundangku ke pesta pernikahanmu. Arraseo?”
“Apa dengan begitu kau akan merasa baik-baik saja?” tanya Kyuhyun. Sooyoung menganggukkan kepalanya. Ia telah berbohong. Ia merasakan sakit yang teramat sakit. Tapi, apa yang harus ia lakukan?
“Ne, gwenchana.”
“Minggu depan aku akan menikah. Sooyoung-a, kalau kau tidak ingin hadir, tidak apa-apa,” ujar Kyuhyun.
“Sooyoung-a, saranghaeyo,” Kyuhyun menghapus air mata di pipi Sooyoung. Lalu memeluk gadis itu sebentar. Selanjutnya ia pergi meninggalkan Sooyoung yang mati-matian mencoba memasang ekspresi wajah ceria.
                                                ^^
“Seohyun-a, eomoni sudah menentukan di toko mana kalian akan membeli gaun pengantin,” ucap ibu Kyuhyun. Seohyun tersenyum melihat calon mertuanya yang sangat baik kepadanya.
“Tapi, eomoni. Temanku memberiku gaun pengantin,” ucap Seohyun membuat ibu Kyuhyun mengerutkan dahinya.
“Jinjja?”
“Hmm, ne,” jawab Seohyun sambil tersenyum.
“Apa gaun itu bagus?” tanya ibu Kyuhyun.
“Mollaseoyo. Aku belum melihatnya. mungkin nanti bersama Kyuhyun oppa,” jawab Seohyun.
“Ah! Itu ide yang bagus. Sebentar lagi Kyuhyun pulang dari kantor, dan setelah makan malam kalian bisa pergi bersama,” usul ibu Kyuhyun disambut dengan anggukan oleh Seohyun.
Mereka lalu kembali menyiapkan makan malam untuk keluarga Cho. Dalam beberapa hari kedepan Seohyun juga akan memakai nama Cho di depan namanya. Cho Joo Hyun?
Bel rumah keluarga Cho pun berbunyi setelah Seohyun dan ibu Kyuhyun selesai menyiapkan makan malam. Ibu Kyuhyun segera beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu.
“Anak eomma. Sudah pulang? Bagaimana dengan pekerjaan kalian di kantor?” seru ibu Kyuhyun ketika melihat anak laki-laki dan perempuannya itu terlihat oleh matanya.
“Ne eomma. Masih biasa-biasa saja.” Jawab Ah Ra.
“Masuklah, dimana ayah kalian? Di dalam sudah ada Seohyun, tunanganmu,” ucap ibu Kyuhyun kepada Kyuhyun. Kyuhyun mengernyitkan dahinya.
“Seohyun?” tanya Ah Ra antusias.
“Hmm, keurom. Dia sudah menunggu di meja makan. Kajja!”
“Eomma, aku memanggil appa dulu, ya,” ucap Kyuhyun. Ia langsung memanggil ayahnya yang sedang berada di luar rumah.
Selama makan hanya dentingan sendok mereka saja yang terdengar. Seohyun dengan anteng menikmati makanan yang tersaji di hadapannya. Sementara Kyuhyun masih terus memperhatikan Seohyun. Ia tidak percaya kalau Seohyun yang di jodohkan kepadanya adalah Seohyun yang pernah menjadi hoobae-nya di sekolah dulu. Juga Seohyun yang telah mengecewakannya karena pindah ke Amerika tanpa bilang apa pun kepada Kyuhyun. Padahal waktu itu Kyuhyun akan mengatakan perasaannya kepada Seohyun.
 Seohyun masih tidak berubah sejak enam tahun yang lalu. ia malah semakin cantik menurut Kyuhyun. Ia juga semakin terlihat dewasa. Seohyun yang merasa di perhatikan langsung menoleh kearah Kyuhyun. Kyuhyun segera mengalihkan pandangannya ke makanannya. Tapi ia merasa kalau dirinya menjadi salah tingkah. Jantungnya berdebar kencang. Apa ia mulai mencintai Seohyun lagi? Entahlah. Tiba-tiba saja ayah Kyuhyun berbicara.
“Bagaimana dengan pakaian pengantin kalian?”
“Seohyun sudah mempunyai pakaian pengantin. Temannya yang memberikan hadiah itu kepadanya,” jawab ibu Kyuhyun.
“Jinjja?” tanya Ah Ra.
“Ne abeoji. Sahabatku memberikanku hadiah gaun pengantin untuk hari pernikahan kami. Tapi aku belum melihatnya. mungkin nanti. Bersama Kyuhyun,” ucap Seohyun sambil tersenyum.
“Hmm, arraseo. Setelah makan malam kalian boleh pergi melihat pakaian itu. Dan ya, Kyuhyun-a, carilah pakain terbaik untukmu,” ucap ayah Kyuhyun.
“Ne appa.”
                                                ^^
Kyuhyun berjalan berdampingan dengan Seohyun memasuki toko pakaian pengantin. Tiba-tiba saja ia teringat kalau ia pernah kesini bersama dengan Sooyoung. Ah, gadis itu. Bagaimana kabarnya sekarang, ya? Batin Kyuhyun.
“Aku menunggu disini saja, ya?” ucap Kyuhyun. Seohyun lalu mengagguk. Ia juga tidak memaksa Kyuhyun untuk terus mengikutinya. Seohyun lalu berjalan ke lantai atas. Sementara Kyuhyun sudah bermain game di pspnya sambil duduk di sofa empuk berwarna merah. Ia merasa nyaman dengan toko ini. Toh, ini bukan pertama kalinya ia ke toko ini. Beberapa waktu lalu ia masih ingat, ia pernah kesini bersama kekasihnya. Sooyoung.
“Annyeonghaseo agasshi,” sapa penjaga toko ramah dengan badge nama Jessica Jung. Seohyun lalu membalas sapaannya.
“Apa disini toko tempat Choi Sooyoung memesan gaun pengantin?” tanya Seohyun.
“Hmm, ne. kenapa?” tanya Jessica.
“Aku yang akan mengambil gaun pengantin milik Sooyoung. Apa aku bisa melihatnya?”
“Keurom. Silahkan ikut saya.”
Seohyun memandangi gaun-gaun pengantin yang terpajang di manekin dengan takjub. Tapi, setibanya ia melihat gaun pengantin dihadapannya ia semakin takjub.
“Neomu yeppeo,” puji Seohyun.
“Agasshi, inilah gaun yang dipesan Choi Sooyoung,” ucap Jessica.
“Jinjja?” tanya Seohyun tidak percaya. Menurutnya Sooyoung baik sekali memberikan gaun pengantin seindah ini untuknya.
“Ne agasshi. Kapan kami bisa mengantarkan gaun ini?”
“Empat hari lagi. Alamat gedungnya akan ku kirim lewat pesan,” jawab Seohyun.
“Ne agasshi. Gamsahamnida,” ucap Jessica sembari membungkukkan badannya. Selanjutnya Seohyun pergi meninggalkan lantai atas.
                                                ^^
“Baik sekali Taeyeon memberikan hadiah gaun pengantin untukmu,” ucap Kyuhyun ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang.
“Aniya. Bukan Taeyeon. Taeyeon sudah menikah dan tinggal di Kanada sekarang,” kata Seohyun sambil tersenyum.
“Bukan? Lalu siapa? Setahuku temanmu hanya Taeyeon.”
“Kau pikir temanku hanya Taeyeon? Aku punya sahabat baru sekarang. Kami bertemu di pantai beberapa hari lalu.”
Mereka lalu terdiam. Sibuk dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba saja Kyuhyun kembali berbicara.
“Seohyun-a,” ucap Kyuhyun pelan.
“Ne oppa.”
“Kenapa kau meninggalkanku enam tahun yang lalu?”
Seohyun sontak menoleh kearah Kyuhyun.
“Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu.”
“Lalu kenapa kau pergi ke Amerika tanpa memberitahuku?” tanya Kyuhyun.
“O-oppa,” ucap Seohyun tergagap. “Mi-mianhaeyo,” lanjtunya lagi. Gadis itu menundukkan kepalanya.
“Waktu itu. Aku sangat kecewa terhadapmu. Aku merasa dibohongi. Padahal, itu pertama kalinya aku mencintai seorang gadis.”
Seohyun menatap Kyuhyun lekat. Beberapa detik kemudian Kyuhyun menolehkan wajahnya untuk melihat Seohyun.
“Kenapa?”
“A-aku, cinta pertamamu?” tanya Seohyun tidak percaya. Ia pikir Kyuhyun sama saja seperti Donghae dan Eunhyuk dulu yang suka bergonta-ganti pacar.
“Aku tidak sama seperti Donghae dan Eunhyuk, Seo-ah,” ucap Kyuhyun seperti menebak isi pikiran Seohyun.
“O-oppa, mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo,” ucap Seohyun pelan. Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat bersalah telah meninggalkan Kyuhyun enam tahun lalu tanpa pemberitahuan. Tanpa di sadarinya, setetes air matanya jatuh membasahi pipinya.
“Seohyun-a,” ucap Kyuhyun begitu menyadari Seohyun sudah terisak. Kyuhyun segera menepikan mobilnya untuk menenangkan Seohyun.
“Seohyun-a, aku tidak apa-apa. Dulu aku memang sangat kecewa terhadapmu. Kita bisa memulainya lagi sekarang,” Kyuhyun berani bersumpah demi apa pun, ucapannya barusan sama sekali di luar akal sehatnya. Tapi hatinya memerintahkan dirinya untuk mengatakan itu. Apa dia sudah melupakan Sooyoung? Bukan begitu, tapi mungkin dia akan membuka lembaran baru bersama Seohyun. Bagaimana dengan Sooyoung?
“Oppa, aku masih menyimpan perasaanku padamu selama aku jauh darimu. Perasaanku tidak berubah sejak enam tahun lalu. sejak aku sering melihatmu di halaman parkir di sekolah kita dulu. Perasaanku padamu malah semakin besar. Makanya setibanya aku berada di Korea, aku langsung mencarimu.”
Kyuhyun tertegun mendengar ucapan Seohyun. Tidak bisa di pungkiri, Seohyun adalah cinta pertamanya.
“Awal-awal aku tinggal di Amerika, aku sama sekali tidak pernah melewati sedetik pun tanpa memikirkanmu.”
“…..”
“Kau adalah cinta pertamaku Cho Kyuhyun,” ucap Seohyun semakin terisak. Dengan sigap Kyuhyun memeluk Seohyun. Ia jadi menyesal telah mengirimkan pesan dengan kata-kata yang kasar kepada Seohyun tempo hari.
“Aku akan menikah denganmu Seo-ah. Uljima,” ucap Kyuhyun membelai rambut Seohyun.
                                                ^^
Hari pernikahan Kyuhyun dan Seohyun sedang berlangsung. Seohyun dengan anggun berjalan di altar bergandengan dengan ayahnya. Di ujung sana, Cho Kyuhyun terlihat sangat tampan menanti calon istrinya. Tiba-tiba saja Kyuhyun kaget ketika melihat gaun yang dikenakan Seohyun. Seperti gaun yang ia pesan dengan Sooyoung beberapa waktu lalu.
Ya! Cho Kyuhyun! Berhenti memikirkan Sooyoung. Calon istrimu sudah berada dihadapanmu. Lagi pula, gaun seperti yang kau pesan dengan Sooyoung itu tidak tercipta hanya satu. Batin Kyuhyun.
Banyak sekali teman-teman Kyuhyun semasa SMA datang. Teman-teman Seohyun di Amerika beberapa orang juga ada yang datang. Tapi Kyuhyun dan Seohyun terlihat memikirkan sesuatu. Mereka menunggu seseorang. Orang yang sama. Choi Sooyoung.
“Kau memikirkan sesuatu?” tanya Kyuhyun tepat di telinga Seohyun.
“Ne oppa. Aku menunggu sahabatku,” ucap Seohyun.
“Kim Taeyeon, bukannya dia sudah disini?” kata Kyuhyun lagi.
“Oppa sudah kubilang temanku bukan hanya Taeyeon. Ah itu dia, Sooyoung-ah!!”
Seohyun berjalan menghampiri Sooyoung yang berjalan anggun dengan dress hijaunya. Seperti di sambar petir beribu-ribu volt, Kyuhyun sangat kaget melihat Sooyoung. Ia sama sekali tidak pernah berpikir kalau sahabat Seohyun adalah Choi Sooyoung, mantan kekasihnya.
“Sooyoung-ah, ini suamiku. Namanya Cho Kyuhyun,” ucap Seohyun memperkenalkan Kyuhyun kepada Sooyoung. Dari sorot mata Sooyoung, Kyuhyun tahu apa yang dimaksud gadis itu.
“Annyeonghaseo Cho Kyuhyun-ssi. Nan, Choi Sooyong imnida,” ucap Sooyoung pura-pura tidak mengenal Kyuhyun.
“A-annyeonghaseo Choi Sooyoung-ssi,” jawab Kyuhyun sedikit tergagap. Demi apapun Kyuhyun berani bersumpah kalau Sooyoung adalah wanita tertegar yang pernah ia temui.
“Seohyun-a, kau cantik sekali memakai gaun ini,” puji Sooyoung, Seohyun tersenyum malu.
“Sooyoung-ah, gaun ini milikmu. Seharusnya kau yang memakai gaun ini di hari pernikahanmu. Aku tidak tahu caranya berterima kasih kepadamu, Sooyoung-ah,” ucap Seohyun.
Kyuhyun membenarkan kalau dugaannya tadi benar, gaun yang di kenakan Seohyun adalah gaun milik Sooyoung. Gaun yang mereka pesan beberapa waktu lalu. ketika mereka masih menjalin sebuah hubungan special.
                                                ^^
“Sooyoung-ah, gwenchanayo?” ucap Kyuhyun. Ketika Seohyun pergi untuk mengubah tatanan rambutnya karena Seohyun merasa tidak nyaman dengan tatanan rambutnya tadi.
“Aku tidak apa-apa Cho Kyuhyun. Berhenti menanyakan itu kepadaku. Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku minta kepadamu, kita seperti ini saja, seperti yang dianggap oleh Seohyun, bahwa kita baru kenal tadi. Entah mengapa, sejak pertama kali aku berkenalan dengannya di pantai. Aku merasa sayang kepadanya.”
“…” Kyuhyun diam. Dia tidak bisa berbicara. Perasaannya campur aduk.
“Jadi, kau jangan sekali-sekali menyakitinya. Dia sudah kuanggap saudaraku sendiri,” ancam Sooyoung.
“Cih! Tentu saja, aku berjanji kepadamu aku tidak akan menyakiti Seohyun apa pun ceritanya,” janji Kyuhyun.
“It’s a promise, Cho Kyuhyun.”
“Sooyoung-ah, bagaimana dengan tatanan rambutku ini?” tanya Seohyun yang sudah kembali dengan tatanan rambut baru.
“Seohyun-ah, Kyuhyun sangat beruntung bisa memiliki istri sepertimu. Benarkan Kyuhyun-ssi?” ucap Sooyoung membuat Kyuhyun mengangguk. Tapi perasaannya mengatakan kalau ia tidak percaya Sooyoung baik-baik saja.
“Seohyun-ah, ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu. Kuharap kau baik-baik saja. Jadilah istri yang baik untuk Kyuhyun. Lusa aku akan pindah ke Kanada.”
Kyuhyun sontak menoleh kearah Sooyoung. Dugaannya benar, Sooyoung tidak baik. Dia akan pergi ke Kanada agar ia tidak menyimpan luka terlalu dalam disini, di negeri bernama Korea Selatan ini.
“Sooyoung-ah, aku menyayangimu,” ucap Seohyun. Air matanya terjatuh. Sooyoung lengsung memeluk Seohyun.
“Aku juga menyayangimu Seohyun-a, uljima,” ucap Sooyoung membelai rambut Seohyun.
~END~

Bonjour & Welcome

Bestfriends

Kamis, 31 Oktober 2013

Indonesian Movie 5 cm.



           
 Assalamu’alaikum temans!!~ ketemu lagi sama akuw :* kali ini mau ngebahas tentang film Indonesia yang judulnya “5 cm.” pasti udah tauk dong ya. Nggak mungkin nggak tau, walaupun sekedar Cuma denger judulnya dan nggak nonton :P
Ini film menceritakan tentang 5 orang yang bersahabat selama 10 tahun *jadi inget sahabat-sahabat gue Dwi, Dita, Mira, Rheni :*. Mereka adalah Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah), Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), dan Ian (Igor Saykoji). Mereka berlima nggak pernah ngelewati satu malem weekend-pun tanpa ketemuan. Sampai pada akhirnya, Genta minta ke temen-temennya supaya mereka nggak ketemuan dalam waktu yang cukup lama. Awalnya Riani nggak setuju, tapi karena semua temen-temennya setuju, akhirnya mereka nggak ketemuan selama 3 bulan. Selama tiga bulan itu mereka ngelewati banyak hal sambil terus kepikiran sahabat-sahabat mereka.
Misalnya Ian, yang lagi ngurus skripsi yang nggak kelar-kelar, dia pengen banget ngehubungin sahabatnya. Tapi pada saat dia mau ngehubungin sahabatnya, dia jadi ngerasa melanggar peraturannya sendiri. Terus Zafran yang malah sering neleponin Arinda (Pevita Pearce) adiknya Arial, dan berusaha supaya teleponnya bukan Arial yang angkat. Riani yang malah kepikiran tentang salah seorang sahabatnya yang disukainya dari lama, tapi nggak berani bilang karena dia takut ngerusak persahabatan. Genta yang malah kepikiran tentang Riani, orang yang udah lama dia taksir. Dan Arial yang sibuk ngedeketin Indy di tempat gym.
Tapi pada akhirnya mereka ketemu setelah tiga bulan nggak ketemu. Mereka ketemuan di stasiun kereta api untuk pergi ke Gunung Semeru di tanggal 14 Agustus. Dari situlah berawal keseruan film-nya temans.
Perjalanan mereka untuk mendaki Semeru sangat nggak gampang. Banyak banget rintangan dan kelucuan yang terjadi *jadi inget pas camping bareng penggalang Pramuka Taman Siswa. Salam Pramuka!* :D. tapi pada akhirnya mereka nyampe di Mahameru tanggal 17 Agustus, puncak tertinggi Jawa dan melihat matahari 17 Agustus di Mahameru yang terletak di atas awan. Padahal itu masih jam 5.25 dan mereka yang pertama kali ngelihat matahari 17 Agustus hari itu.
Sumpah! Pas nonton film itu rasa nasionalisme jadi nambah :D. apalagi pas inget Arinda bilang, “Indonesiaku aku mencintaimu sepenuhnya!” sambil memandangi bendera Merah Putih, bendera Negara kita temans, INDONESIA.
Zafran juga bilang, “Negeri ini indah sekali, Tuhan. Bantu kami menjaganya.”
Terus pas Ian bilang dia nggak jadi pergi ke Manchester karena dia bakalan ngerasa bersalah sama Indonesia. Sebab dia dari lahir udah di Indonesia. Minum air dari tanah Indonesia dan menginjak bumi di tanah Indonesia.
Aku jadi ngebenerin apa yang dibilang Ian. Coz, selama ini aku nggak perduli dengan negaraku. Tanah airku. Jadi inget quotes ini deh, “Jangan tanya apa yang Negara berikan kepadamu. Tapi tanyakanlah apa yang sudah kau berikan kepada negaramu.” :’)
Walaupun Indonesia kaya gini. Aku bangga jadi pemudi Indonesia!!
Di film ini akan ada kisah cinta segi empat loh :D.
Dan temukan quotes Riani, “Nggak enak ya jadi cewek, kalo suka sama seseorang nggak bisa bilang duluan. Bisanya Cuma nunggu.”
Penasaran? Makanya nonton filmnya. Recommended banget. Ini film Indonesia terkeren yang pernah aku tonton. Nggak nyangka ada pemandangan ciptaan Allah seindah itu di Tanah Air kita.
Berikut beberapa yang udah aku capture. Dijamin bakalan pengen nginjek Mahameru deh *kaya gue L*. Yok temen-temen XII IPA 1, hari kelulusan kita ke Mahameru, ya!! :D 









Sabtu, 26 Oktober 2013

Ringkasan Novel Malaikat-Malaikat Kecil Tak Bersayap Karya : Airlynd Winslow



Rangkuman Novel Malaikat-Malaikat Kecil Tak Bersayap 
oleh : Rizka Zain
William Alexander Wallace (Billy), Sayyid Iskandar Mohammed (Sayyid), Margaret Alexandra Hagadorn (Maggie). Mereka adalah tiga ksatria hebat, yang akan selalu mengalahkan kejahatan dan membela yang lemah. Mereka tidak akan membiarkan kejahatan apapun luput dari mereka. Mereka melindungi siapapun yang membutuhkan pertolongan. Karena mereka bertiga berjuang untuk mengahadapi ketidakadilan dan penindasan disekolah dan lingkungan sekitar mereka. Tentu saja bukan hanya mereka yang menjadi korban ketidakadilan penindasan tersebut, banyak anak-anak lain yang menjadi korban ketidakadilan itu. Ketika itu umur mereka 13 tahun, saat mereka bersekolah di Centurion Middle School.                
Di sekolah mereka, anak-anak yang cacat selalu ditindas. Mereka bertiga adalah anak-anak yang cacat. Misalnya Billy yang mengidap penyakit distrofi otot, sehingga dia hanya bisa berdiri jika memakai penyangga kaki, walaupun jalannya harus tertatih-tatih. Sayyid adalah anak yang mengidap penyakit leukemia saat dia berumur 6 tahun, karena pengobatannya itu kini dia memiliki tubuh yang sangat kurus, mata besar yang menonjol dan hidung mencuat yang membuatnya sering dijuluki ‘alien’. Dan Maggie mengidap penyakit cerebral palsy yang membuat wajahnya seperti orang yang menyeringai sepanjang waktu dan cara berjalannya juga lucu.  Mereka adalah anak dari sekian banyak anak yang tidak popular di sekolah mereka yang selalu ditindas oleh kalangan murid popular. Mereka selalu di olok-olok dan menjadi bahan ejekan maupun bahan tertawaan.
Di dekat rumah mereka di Lincolnville di kota Lakeville di Negara bagian Minnesota ada sebuah hutan. Ketika itu umur mereka masih 12 tahun, mereka menjelajahi hutan itu. Mereka tidak bermain di taman Lincolnville, karena anak-anak normal yang tinggal di Lincolnville akan mengganggu dan menyiksa mereka jika mereka bermain di taman. Setelah sekian lama menjelajah hutan, ternyata di dalam hutan tersebut mereka menemukan pondok kecil yang terbangun dari kayu yang sudah rapuh dan cat pintu dan jendelanya sudah terkelupas, dan beberapa engsel jendelanya sudah lepas.
Akhirnya, keesokan harinya mereka membersihkan dan membenahi pondok yang mereka temukan kemarin, pondok itu terletak tak jauh dari rumah Maggie. Karena mereka ingin menjadikan pondok tersebut sebagai markas besar mereka. Dan mereka akan menjadikannya tempat terhebat di dunia, karena mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan.
Pondok tersebut sudah mereka cat dengan warna coklat agar tidak terlalu mencolok, dan kusen-kusen jandela dan pintu mereka cat dengan warna merah hati. Mereka menaruh sofa bekas dan sebuah meja kayu persegi yang mereka beli dengan uang tabungan mereka sendiri di ruangan bagian depan pondok itu. Sayyid membawa televise bekas ukuran 14 inchi yang sudah dia perbaiki sendiri. Billy membawa radio tua milik kakkeknya dan computer hasil raktannya sendiri. Sedangkan Maggie membawa sebuah rak buku yang nantinya akan mereka isi dengan buku-buku favorit mereka. Tempat itu mereka beri nama Utopia.



Ketika mereka berumur 13 tahun. Billy, Maggie dan Sayyid bersekolah di Centurion Middle School. Centurion Middle School terletak di kota Lakeville di Negara bagian Minnesota. Centurion Middle School tidak mengatur secara jelas tentang masalah penindasan sehingga seringkali terjadi penindasan di sekolah tersebut. Penindasan yang seringkali terjadi di kalangan anak-anak yang kurang popular. Di sekolah tersebut, murid-muridnya akan dibagi dalam beberapa urutan. Di urutan pertama ditempati oleh Gank Clyde, Tara dan Ridley. Mereka semua suka menindas anak-anak yang lemah dan mentertawai anak-anak lain yang memiliki kelainan fisik seperti Billy, Maggie dan Sayyid. Di urutan kedua adalah tempat anak-anak normal. Mereka tidak pandai bergaya, tapi pintar dan memiliki tampang lumayan cantik atau tampan. Di urutan ketiga, adalah level paling bawah, isinya adalah anak-anak pintar, normal, tapi jelek. Mereka biasa disebut kelompok kutu buku atau freak. Biasanya mereka tidak pilih-pilih teman. Dan mereka kurang suka bergaul kecuali dengan kelompok mereka sendiri. Di sekolah itu Sayyid, Billy dan Maggie harus berjuang. Berusaha mendapat pendidikan yang layak dan juga bertahan dari segala bentuk aniaya yang menimpa siswa-siswi yang dianggap tidak berharga, yang keberadaannya dipandang sebagai pelengkap penderita.
Akhirnya satu hari sebelum musim dingin berakhir, seorang anak perempuan bernama Ni Putu Indira Adhikari, biasa dipanggil Indira datang ke Lincolnville dia berasal dari Bali, Indonesia. Dia ke Lincolnville bersama dengan Colin –orangtuanya. Awalnya bagi Maggie, Billy dan Sayyid, Indira adalah anak yang tertutup dan rumit. Tidak murah senyum dan dari sorot matanya tersirat sebuah kesedihan, kesepian dan kerinduan.
Ketika waktu istirahat tiba, Maggie, Billy dan Sayyid menghampiri Indira yang sedang duduk di bawah sebatang pohon di halaman belakang Centurion Middle School. Ketika Sayyid, Billy dan Maggie mengajaknya bicara dia selalu menjawabnya dengan sinis. Karena yang Indira pikir, orang Amerika suka saling menjatuhkan. Akhirnya Indira pergi meninggalkan Maggie, Billy dan Sayyid. Ketika Indira pergi meninggalkan mereka, Maggie berpikir bahwa sebenarnya Indiran adalah anak yang baik, hanya saja gadis itu masih belum bisa mempercayai mereka. Mungkin Indira trauma dengan lingkungan baru sehingga sulit baginya untuk terbuka dan mempercayai orang yang baru dikenalnya. 
                Ketika waktu pulang sekolah telah tiba. Ketika Clyde dan gerombolannya mendekati Maggie. Maggie sedikit mengelak dan tidak mau mencari gara-gara. Tapi Clyde terus mengganggunya, karena itulah yang paling disukai Clyde. Dia selalu menghina dan mengejek sehingga membuat keributan. Saat itu Indira berada didekat Maggie. Di dengan tidak sengaja mendengar perkataan Clyde yang ingun mengurung Maggie di gudang. Akhirnya dengan sangat berani Indira menginjak harga diri Clyde dengan mengejek kelemahan-kelemahan Clyde. Hal itu membuat Clyde mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukul Indira. Tapi ternyata Indira menangkap tangan Clyde lalu memelintir dan mengunci gerakan tangan Clyde. Sehinggal membuat Clyde meronta kesakitan. Akhirnya Indira melepas pelintiran tangan Clyde setelah anak buah Clyde melepaskan Maggie. Setelah itu, Indira mau berteman dengan Maggie, Billy dan Sayyid. Dengan alasan karena Billy, Sayyid dan Maggie terlihat kompak. Mereka menolong satu sama lain, dan tidak ingin membuat satu sama lain susah.
                Ketika bel istirahat berbunyi, Billy, Maggie dan Sayyid mengajak Indira kea tap gedung sekolah. Disana, mereka asyik bercakap-cakap sambil memakan bekal yang mereka bawa masing-masing. Tapi ketika Indira bertanya kenapa mereka tidak makan dikantin. Mereka semua menjawab, karena mereka takut disiksa habis-habisan disana. Tetapi bukan itu juga penyebabnya, Sayyid adalah seorang Muslim, dan kebanyakan makanan dikantin mengandung unsur-unsur yang tidak boleh dimakan oleh seorang Muslim. Mereka menerima Indira sebagai sahabat baru mereka. Mereka bahkan akan mengajak Indira ke Utopia mereka asalkan Indira mau merahasiakan keberadaan Utopia tersebut.
Siang hari ketika mereka berada di Utopia, Indira menceritakan isi hatinya. Indira ternyata tinggal di Lincolnville bersama ayah tirinya setelah setahun yang lalu ibunya meninggal dunia. Indira berkaca-kaca,karena ia sangat merindukan kampung halamannya, ia juga sangat merindukan ayah dan ibunya dan karena hanya Sayyid, Billy dan Maggie lah teman-temannya selama ia tinggal di Amerika.
Sore hari setelah pulang sekolah, Indira beraksud ingin membalas perbuatan Ridley terhadap Sayyid tadi siang. Karena siang hari saat disekolah, Sayyid dengan tidak sengaja menabrak Ridley. Ridley yang sangat tidak suka dengan Sayyid, langsung mencari gara-gara agar terjadi keributan. Menurut Indira perbuatan mereka harus dibalas. Akhirnya Indira menyampaikan ide briliannya itu kepada sahabat-sahabatnya di markas besar mereka, Utopia. Mereka akan membalas kejahatan Ridley, Clyde dan Tara. Mereka akan membalas dengan cara diam-diam. Jadi mereka akan mengerjai Genk Ridley, Clyde dan Tara tanpa mereka ketahui siapa yang mengerjai mereka.  
                Hari Senin sebelum bel masuk berbunyi, di area loker Centurion Middle School. Mereka meletakkan cicak di loker Ridley. Karena dari hasil pengintaian mereka Ridley sangat takut dengan cicak. Ridley menjerit histeris ketika ia membuka lokernya. Sekitar tiga puluh cicak memenuhi lokernya dan sekarang mulai merayap keluar. Wajah Ridley pucat pasi dan matanya menyorotkan kengerian. 
                Selanjutnya mereka akan mengerjai Clyde. Hari Kamis. Satu jam sebelum bel masuk berbunyi. Di area loker Centurion Middle School. Mereka membuat jebakan yang lebih kejam untuk Clyde dari jebakan untuk Ridley. Karena selama ini Clyde slalu menganggap orang lain lebih rendah dari pada dirinya, kecuali Tara tentunya. Clyde juga semakin congkak karena ia murid terkaya, dan ayah Clyde adalah donatur terbesar bagi kegiatan-kegiatan di Centurion Middle School. Mereka memasang jebakan dengan melemparkan tepung tepat kewajah Clyde begitu Clyde membuka loker. Semua orang tertawa melihat wajah Clyde belepotan tepung. Bukan itu saja, mereka juga mengerjai Clyde saat di ruang kelas. Mereka menempelkan beberapa batang petasan di bawah kursi Clyde dengan permen karet, lalu sumbunya sengaja mereka buat panjang lalu mereka sambungkan dengan sebatang rokok lalu dibawahya dipasang aluminium foil agar abu rokoknya tidak jatuh kelantai. Dan ketika petasan dibawah kursi Clyde terbakar, suara petasan menggema di ruangan kelas. Clyde sampai naik keatas kursi karena terkejut. Tapi ternyata ia terjatuh dari kursi dan badannya membentur bibir meja. Akhirnya Clyde hanya bisa pasrah terjepit diantara kursi dan meja sampai petasan habis.
Hari Kamis. Ketika pelajaran olahraga selesai, saat murid-murid akan mandi sehabis olahraga. Maggie dan Billy yang menyiapkan semuanya untuk mengerjai Tara dan Genk nya, karena Maggie dan Billy tidak mempunyai fisik yang baik untuk mengikuti pelajaran olahraga. Mereka menuangkan pewarna pakaian permanen berwarna biru ke shampoo Tara dan teman-temannya, mereka juga menuangkan pewarna hijau permanen ke sabun Tara dan teman-temannya. Mereka juga mengoleskan getah gatal yang sudah di campur air ke bedak padat milik Tara dan teman-temannya. Hingga tiba saatnya di ruang ganti untuk murid perempuan, Tara dan teman-temannya menjerit histeris karena rambut mereka yang indah berubah menjadi biru terang, dan kulit mereka yang halus mulus menjadi berwarna hijau. Setelah selesai berpakaian, mereka mulai berdandan, tapi mereka menjerit lagi dan menggaruk-garuk wajah mereka. Tara dan teman-temannya berjalan keluar sambil tertunduk malu sambil menggaruk-garuk wajah mereka yang gatal dan panas.
                Seminggu setelah Mighty Knights mengerjai Ridley, Clyde dan Tara. Centurion Middle School menjadi agak ketat. Guru-guru melakukan razia untuk mencari tahu si pelaku selama beberapa minggu belakangan. Karena menurut para guru perbuatan Mighty Knights sangatlah keterlaluan. Tapi pada akhirnya para guru menjadi gerah dengan permintaan murid-murid mereka yang bermacam-macam, akhirnya menghentikan razia, juga berhenti mencari tahu identitas para Mighty Knights. Bukan karena mereka setuju, tapi mereka tidak mau repot dengan penderitaan murid-murid yang ditindas, jadi mereka lebih memilih memberi kebebasan pada para Mighty Knights. Tapi para guru menambahkan, jika suatu hari menemukan Mighty Knights, maka para Mighty Knights akan dihukum atas perbuatan-perbuatannya.
                Suatu hari sepulang sekolah, para Mighty Knights berkumpul di markas besar mereka, Utopia. Mereka masih saja heran melihat Ridley yang masih pada sikapnya yang dulu, yaitu suka menindas. Karena Ridley tidak peduli pada apapun. Seberapa keras Mighty Knights mengerjai Ridley, dia tetap saja melakukan kejahilan yang menyakiti hati bahkan fisik korbannya. Mighty Knights akan mengerjai Ridley kembali jika Ridley berbuat sangat kejam kepada murid disekolah mereka.
                Ketika musim gugur tiba, Sayyid, Billy dan Maggie akan membuat pesta kejutan untuk ulang tahun Indira. Mereka ingin membuat ulang tahun pertama Indira sejak ia berada di Amerika menjadi ulang tahun yang sangat hebat. Awalnya Sayyid dan Billy membuat Indira kesal dengan cara membatalkan janji mereka untuk makan es krim karena mereka ingin melihat kaset game yang baru milik Maggie. Tapi setelah tiba di rumah Maggie, Sayyid menyuruh Indira untuk membuka pintu rumah Maggie. Setelah Indira membuka pintu, Indira memasang wajah terkejut penuh haru. Maggie berdiri di ruang tamu sambil memegang Blackforest dengan lilin berbentuk angka 14 di atasnya. Maggie, Sayyid juga Billy menghias ruangan tersebut dengan kertas hias juga balon warna-warni dan dindingnya menghadap pintu masuk, Maggie juga menempelkan kertas mengkilap dengan tulisan : Selamat Ulang Tahun Indira. Kemudian mereka berempat makan kue bersama-sama, dan sesekali mengoleskan krim yang ada pada kue tersebut ke wajah tiap orang. Setelah itu, mereka akan mengajak Indira ke garasi. Indira kembali terharu. Di dalam garasi ada sebuah sepeda yang Maggie, Billy, dan Sayyid beli dengan tabungan mereka.
                Pada hari Rabu malam pukul 20.30  tiga hari setelah pesta kejutan ulang tahun Indira. Di kompleks perumahan di Lincolnville. Indira tiba-tiba saja ingin menginap dirumah Maggie. Maggie merasa heran, tapi keesokan harinya ternyata Sayyid, Maggie dan Billy menemukan Indira dalam keadaan mengenaskan. Indira diikat pada besi pemanas ruangan di ruangan bawah tanah rumahnya. Badannya penuh luka, kepalanya berdarah dan tak sadarkan diri. Saat sayyid dan Billy membantu untuk mengangkat Indira dan Maggie menelpon 911, sepersekian detik kemudian Indira terkapar sambil memegangi kepalanya. Billy yang tersadar lebih dulu atas apa yang terjadi, langsung berlari menerjang Colin dan menarik tongkat besi perapian yang baru saja Colin gunakan untuk memukul Indira, kemudian Billy memukulkannya pada Colin hingga ia terjatuh. Kemudian mereka mengikat Colin di besi penghangat ruangan tempat ia mengikat Indira. Lalu mereka membopong Indira ke rumah Sayyid dan meminta Ibu Sayyid untuk membawa Indira ke rumah sakit secepatnya.
Saat itu Indira tidak sadarkan diri dan nafasnya terlihat sangat lemah. Indira dibawa masuk ke ruang UGD. Indira menghembuskan napas terakhirnya di Rumah sakit, tepat seminggu setelah hari ulang tahunnya. Ternyata Indira menceritakan semua penyiksaan yang dilakukan Colin kepadanya melalui buku hariannya. Colin dibawa kantor polisi dan ia akan mendekam di penjara atas tuduhan penganiayaan, pembunuhan, pemalsuan surat wasiat dan penculikan. Bibi Indira yang datang dari Bali memutuskan untuk melakukan upacara ngaben di Amerika, asap membumbung ke angkasa menambah kesan suram dan sedih pada hari tersebut. Sayyid, Billy dan Maggie memandang tubuh Indira yang sekarang tertelan api dalam diam.
Pada hari Senin , Sayyid, Maggie dan Billy kembali bersekolah. Sebulan berlalu setelah meninggalnya Indira, penindasan kembali merajalela. Ridley semakin menjadi-jadi begitu juga dengan Clyde dan Tara, dan juga anak-anak popular lainnya yang dulunya sudah tobat karena takut dikerjai oleh para Mighty Knights. Sejak meninggalnya Indira, Mighty Knights sudah tidak beroperasi lagi. Karena selama ini, hanya Indira yang membuat Sayyid, Billy dan Maggie berani melakukan pembalasan kepada penindas-penindas tersebut. Kini sudah tidak ada Indira, dan Mighty Knights seakan lenyap ditelan bumi. 
Suatu hari, Billy menemukan selebaran pertunjukan di papan pengumuman di sekolah mereka. Setelah membacanya, mereka ingin membuat kelompok paduan suara untuk anak-anak tertindas. Karena mereka ingin menunjukkan kalau anak-anak yang tidak populer juga bisa membuktikan bakat mereka. Mereka akan menyanyikan salah satu puisi Mattie yang dinyanyikan oleh Billy Gilman yang berjudul I am… Shades of Life. Karena kata-kata dalam puisi tersebut sangat cocok untuk menyerukan perdamaian dan menghormati perbedaan.
                Dua minggu sebelum acara pertunjukan bakat, mereka akan melaksanakan seleksi untuk anggota paduan suara mereka. Di studio music di rumah Amy. Karena ada sekitar tiga puluhan anak yang ingin mengikuti paduan suara ini. Sedangkan mereka hanya membutuhkan anggota paling banyak dua puluh anak saja. Akhirnya mereka menyeleksi dengan tiga tahap. Yang pertama jam sepuluh sampai jam sebelas. Yang kedua dari jam dua belas sampai jam satu. Yang terakhir jam dua sampai jam tiga. Kemudian jika lebih dari tujuh belas orang yang bersuara bagus, mereka akan menyeleksi lagi siapa-siapa saja yang lolos keesokan harinya untuk mendapatkan tujuh belas orang terbaik. Semua peserta mengeluarkan kmampuan terbaiknya karena mereka memang sangat ingin terlibat dalam pertunjukan bakat yang akan mereka tampilkan, yang kemungkinan akan dapat membawa perubahan di Centurion Middle School.
                Ketika waktunya telah tiba, mereka semua duduk dibelakang panggung. Mereka mengenakan kaus putih bergambar foto Indira. Di bagian bawah foto mereka tulis dengan ‘In Memoriam , Our Beloved Indira’. Mereka menunggu dengan gelisa. Tapi mereka tak menampakkannya. Mereka mencoba menepis semua kekhawatiran mereka dengan mengobrol dan sesekali bercanda satu sama lain. Mereka memilih nama Future Rainbow karena mereka terdiri dari beragam pribadi, ras, agama dan fisik, dan mereka adalah penerus masa depan yang nantinya akan menghiasi dunia ini. Seperti pelangi yang menghiasi langit saat hujan telah usai. 
                Akhirnya setelah Future Rainbow dipanggil, mereka keluar dengan sesantai mungkin walaupun mereka merasakan demam panggung yang hebat. Ketika memasuki panggung terdengar tawa dan cemoohan dari anak-anak populer. Sayyid mengambil posisi duduk di kursi yang diletakkan di kiri panggung sambil memegang gitar. Billy mendatangi petugas yang mengatur latar lalu memberikan CD yang berisi slide show yang akan mereka gunakan sebagai latar mereka lalu kembali ke panggung dan duduk didepan piano. Terdengar suara-suara menghina dari beberapa penonton terutama anak-anak populer yang membuat mereka jadi semakin tidak percaya diri. Saat mereka sudah ada diposisi yang ditentukan, Sayyid mulai memainkan gitar akustik diiringi piano Billy. Permainan mereka berdua berhasil mencuri perhatian penonton. Maggie dan yang lainnya menjadi agak percaya diri.
Lalu tibalah giliran Maggie bernyanyi, dan ketika mengeluarkan suaranya, tak disangka semakin banyak yang memperhatikan mereka. Mereka senang sekali melihat penonton terpukau dengan penampilan mereka. Dibelakang mereka slide show yang mereka gunakan sebagai latar menampilkan foto-foto mereka semua ketika latihan dan mempersiapkan penampilan mereka.
Maggie, Billy dan Sayyid sangat senang melihat kelompok mereka. Merka tampak seperti pelangi. Terdiri dari warna kulit yang berbeda, agama yang berbeda, jenis kelamin yang berbeda, dan kondisi fisik yang berbeda. Mereka semua satu dalam perbedaan. 
                Hari Senin di Centurion Middle School.  Kepala sekolah mereka memberikan pengumuman bahwa Centurion Middle School akan dibuat peraturan yang akan melarang segala macam penindasan dan perlakuan rasial. Supaya hal-hal rendah dan tak berperikemanusiaan seperti itu tak terjadi lagi. Sayyid, Billy dan Maggie merasa sangat senang. Karena kedamaian akan berlangsung di Centurion Middle School. Dan mereka akan bisa menyelesaikan studi mereka dengan tenang dan bahagia di sekolah itu.
Pagi hari, di koridor sekolah, Billy tiba-tiba terjatuh saat ia bersama Sayyid dan Maggie bersama-sama berjalan di koridor sekolah. Karena ternyata penyakit distrofi ototnya semakin parah dan ganas sehingga membuat otot-otot Billy melemah terutama di bagian jantung dan alat pernafasannya. Malam harinya ketika Maggie dan Sayyid pulang dari rumah Billy. Ternyata keesokan harinya Billy telah meninggal. Billy terbaring begitu tenang seperti orang yang sedang tertidur.
Ketika musim panas. Sayyid dan Maggie telah lulus dari Centurion Middle School dengan nilai yang sangat memuaskan. Mereka berniat akan merayakan kelulusan mereka di Utopia sambil mengenang Bily dan Indira.
Lima belas tahun setelah Sayyid pergi meninggalkan Lakeville menuju Connecticut. Maggie dan Jamie (Suami Maggie), dikejutkan oleh sebuah berita di televise. Ketika Sayyid keluar dari gedung pengadilan, tiga hari sebelum Sayyid pulang ke Lincolnville sebelum Hari Raya Idul Fitri. Sayyid ditembak oleh seorang rasis fanatic yang membenci segala tindak-tanduk Sayyid. Hal itu terjadi karena lelaki rasis yang menembak Sayyid takut jika Sayyid menjadi senator, Sayyid akan menghapus rasisme dan memperjuangkan hak-hak kaum tertindas tanpa pandang bulu. Akhirnya, jenazah Sayyid di terbangkan langsung keesokan harinya setelah insiden penembakan. Orangtua Sayyid ingin agar anaknya dimakamkan di daerah pemakaman Muslim di daerah Lakeville agar dekat dengan mereka.
Tinggallah Maggie yang selalu dengan Indira dan Billy kecilnya bersama-sama pergi ke Utopia. Mengenang masa-masa dan kenangan indahnya bersama sahabat-sahabatnya. Four Mighty Knights.

                                                                                                                                                                                                Selesai

Wedding Dress



Judul           : Wedding Dress
Author        : Rizka Zain (@zaainz)
Genre                   : Sad Romance
Cast            : Super Junior Cho Kyuhyun
                     SNSD Seo Joohyun
                     SNSD Choi Sooyoung
Disclaimer  : Asli karya saya. Jangan jadi plagiat. Okay!
Hai, saya kembali dengan FF cast Seohyun dan Kyuhyun again. Tapi disini ditambahin ada Sooyoung-nya. Don’t be silent reader ya J Komentar itu adalah honor untuk penulis blog ;)


Hari ini adalah hari yang paling mengesalkan bagi Kyuhyun karena dia baru saja di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak ia cintai, dan ia juga belum mengenalnya. Kyuhyun sangat kesal karena beberapa minggu yang lalu ia bermaksud untuk melamar Sooyoung, kekasihnya. Dia bahkan sudah memesan gaun pengantin bersama Sooyoung.
Kyuhyun berjalan mendekati ayah dan ibunya.
“Appa,” ucap Kyuhyun ketika melihat ayahnya tengah duduk santai sambil menonton tv, sedangkan ibunya sedang menyiapkan makan untuk Ah Ra, kakaknya yang baru pulang kerja. Ayah Kyuhyun langsung menoleh ketika melihat penerus marga Cho berada di depannya.
“Waeyo?”
“Appa, apa aku boleh menolak perjodohan ini? Aku tidak mencintai perempuan itu, aku bahkan belum mengenalnya,” ucap Kyuhyun.
“Tidak Kyuhyun-ah. Kau tahu, halmoni-mu sangat menyukai perempuan itu karena ia pernah membantu halmoni-mu ketika dia di copet di bandara,” terang ayah Kyuhyun. Kyuhyun lalu membelalakkan matanya. Hanya karena membantu karena hampir di copet ia harus menikah dengan yang membantu itu? Huh! Kalau begitu Sooyoung juga bisa. Gerutu Kyuhyun.
Kyuhyun adalah tipe orang yang sangat sulit untuk mencintai seseorang. Karena dulu ia pernah dikecewakan oleh seorang perempuan, hoobae-nya saat SMA. Kyuhyun bahkan pernah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak ingin mencintai perempuan manapun selain ibunya dan kakaknya.
Sampai pada saat ia pergi berlibur ke Jepang bersama dengan sepupunya, Choi Siwon. Mereka bertemu dengan seorang perempuan bernama Choi Sooyoung yang memikat hatinya pada pandangan pertama. Itulah pertama kali Kyuhyun mencintai seorang wanita setelah ia tersakiti oleh hoobae-nya.
                                                ^^
Seohyun sedang bersenandung ria. Orang tuanya baru saja pulang dari kediaman keluarga Cho di pusat kota Seoul. Seminggu lagi dia akan menikah dengan orang yang paling dicintainya sejak ia duduk di bangku SMA, Cho Kyuhyun namanya. Cho Kyuhyun adalah cinta pertamanya. Sampai saat ini pun rasa itu masih tidak berubah di hatinya.
Tiba-tiba saja handphone-nya berdering, tanda pesan masuk. Seohyun segera mengambil handphone-nya dan membaca pesan itu. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi layar handphone-nya.
Seohyun merasa sangat tersakiti ketika membaca pesan singkat dari Cho Kyuhyun. Hatinya terasa sakit sekali. Seperti sebuah tombak yang menusuknya tepat di tengah.
‘Jangan pernah berharap aku akan menikahimu.’
Seohyun keluar kamarnya. Ia ingin mencari udara segar. Mungkin dengan begitu pikirannya bisa jernih kembali. Seohyun tidak menghiraukan ibunya yang memanggil dirinya saat ia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.
Seohyun sudah tiba di pantai yang sepi. Di tepi pantai itu Seohyun berlari sangat kencang sambil berteriak keras. Ia meluapkan emosinya agar terbang bersama angin yang kencang.
Tiba-tiba saja Seohyun terjatuh. Kakinya sangat sakit karena terlalu kencang berlari. Seseorang menyodorkan sebotol air mineral kepada Seohyun. Seohyun mendongakkan kepalanya keatas. Tampak seorang gadis yang tinggi semampai sedang tersenyum kearahnya. Seohyun segera membalas senyumannya dan mengambil botol air mineral itu.
“Ada apa?” kata gadis itu. Seohyun membetulkan posisi duduknya dan mengernyit kearah gadis disampingnya.
“Oh, maaf. Namaku Sooyoung,” ucap gadis bernama Sooyoung itu. Seohyun segera mengamit lengan Sooyoung untuk bersalaman.
“Aku Joo Hyun,” balas Seohyun sambil tersenyum.
“Kau punya masalah?”
Seohyun diam. Dia sangat sulit menceritakan masalahnya kepada orang yang baru dikenalnya.
“Aku bukannya ingin ikut campur. Tapi aku juga sedang punya masalah. Makanya aku pergi kesini karena aku sangat suka dengan pantai. Aku ingin mencurahkan semua kesedihanku dengan ombak di pantai,” celoteh Seooyoung. Seohyun juga sangat suka dengan pantai. Ketika ia merasa sedih, ia selalu pergi kepantai. Di pantai kita bisa bercengkrama dengan deburan ombak yang seakan menjawab semua keluhan.
“Kekasihku akan menikah dengan seseorang karena dia dijodohkan oleh kedua orang tuanya,” lanjut Sooyoung. Seohyun menoleh kearah Sooyoung. Ternyata masalah Sooyoung lebih pelik dari masalahnya sendiri.
“Padahal aku dan dia sudah memesan gaun pengantin yang sangat indah untuk pesta pernikahan kami…” 
“… aku merasa sangat hancur sekarang, hatiku sangat sakit. Kenapa takdir buruk ini berpihak kepadaku, kapan aku bisa memakai gaun pengantinku?…”
Seohyun dengan sabar mendengarkan cerita Sooyoung. Setetes air bening membasahi pipi mulus tanpa celah milik Sooyoung. Seohyun mengelus bahu Sooyoung lembut, dengan segera Sooyoung menghapus air mata di kedua pipinya.
“Kau, apa masalahmu?” tanya Sooyoung sambil tersenyum getir. Seohyun menghela napas berat.
“Aku akan menikah dengan orang yang tidak mencintaiku,” jawab Seohyun.
“Lalu?”
“Aku belum siap untuk selalu tidak diperhatikan nanti, setelah kami menikah,” ujar Seohyun.
“Joo Hyun-ah, dia bisa mencintaimu nanti. Apa kau tahu, cinta akan hadir karena adanya kebersamaan,” ucap Sooyoung. Seohyun merasa senang, ia sangat senang bertemu dengan Sooyoung.
“Sooyoung-ah, sekarang kita berteman, kan?”
Sooyoung mengangguk mendengar ucapan Seohyun. Seohyun memeluk sahabat barunya itu. Ia sangat senang sekarang. Akhirnya ada juga seseorang yang siap menerima curahan hatinya.
“Joo Hyun-ah, apa kau mau memakai gaun pengantin milikku di acara pernikahanmu?” ujar Sooyoung. Seohyun terkejut mendengar tuturan Sooyoung.
“Tidak, aku tidak mau,” tolak Seohyun.
“Kenapa?”
“Lebih baik gaun itu kau pakai saja ketika kau akan menikah, Sooyoung-ah,” ucap Seohyun.
“Kau kan sahabatku, kau pakai saja gaunku, ya?” Seohyun tidak bisa menolak permintaan Sooyoung. Entah kenapa akhirnya ia mengangguk mengiyakan.
“Tapia da satu syarat,” aju Seohyun, membuat Sooyoung mengerutkan dahinya.
“Mwoya?”
“Kau harus datang ke pesta pernikahanku. Minggu depan, ne?”
Sooyoung mengangguk, membuat Seohyun kembali memeluk sahabat barunya.
                                                ^^
Flashback
Kyuhyun memarkirkan motornya di parkiran khusus untuk kendaraan milik murid. Tiba-tiba saja ia melihat seorang gadis yang mengendarai motor matic berwarna hijau dengan tempelan sticker bergambar kodok dimana-mana.
“Aneh sekali, seperti anak TK,” ucap Kyuhyun. Ia lalu berjalan menuju kelasnya.
Saat ia memasuki kelas, tiba-tiba saja Eunhyuk, teman sekelasnya meledeknya.
“Kyuhyun-ah, apa kau tidak bosan tidak pernah punya pacar?” ejek Eunhyuk. Kyuhyun hanya tertawa geli mendengar ucapan Eunhyuk.
Esok paginya Kyuhyun bertemu lagi dengan gadis pemilik motor hijau. Dan pagi-pagi berikutnya juga. Entah kenapa setiap kali bertemu gadis lucu itu, Kyuhyun merasakan hatinya berdebar. Apa ia jatuh cinta? Mungkin iya. Pernah suatu hari, Kyuhyun, Donghae dan Eunhyuk sedang duduk-duduk di atas motor mereka masing-masing. Mengecengi hoobae mereka yang cantik-cantik.
“Good morning sweet Yoona,” ucap Donghae menggombal. Gadis bernama Yoona itu tersipu malu mendengar bualan Donghae.
“Hai yeppeo,” ucap Eunhyuk kepada gadis imut bernama Krystal.
Tiba-tiba saja Kyuhyun melihat gadis motor hijau itu menatapnya tepat di manik matanya. Hati Kyuhyun berdesir. Jantungnya berdetak lebih kencang. Tanpa ia sadari Eunhyuk dan Donghae memperhatikan Kyuhyun dan gadis motor hijau itu sedang berpandangan. Eunhyuk menyikut lengan Kyuhyun sambil berbisik.
“Namanya Seohyun. Dia hoobae kita di kelas sebelas biologi. Dia sangat pintar,” ucap Eunhyuk. Kyuhyun menganggukkan kepalanya.
“Dia cantikkan? Kau menyukainya?” ucap Donghae. Kyuhyun mendelik mendengar ucapan Donghae.
“Kau tidak bisa berbohong Kyuhyun-ah. Dari sorot matamu tadi aku melihat kau menyukainya,” ucap Eunhyuk. Kyuhyun semakin mendelik mendengar ucapan Eunhyuk. Lelaki itu pergi meninggalkan kedua temannya yang sudah menjadi aneh kalau berbicara tentang gadis cantik.
“Kyuhyun-ah, kami bisa membantumu kalau kau menyukainya!!” teriak Eunhyuk.
“Kyuhyun-ah, kami berniat ingin mencomblangimu dengan Seohyun. Apa kau mau?” tanya Eunhyuk saat jam istirahat tiba.
Kyuhyun mendelik melihat kedua temannya yang agak gila itu.
“Kalau kau diam saja berarti kau mau,” ucap Donghae.
Kyuhyun lalu pergi meninggalkan Eunhyuk dan Donghae yang sudah siap beraksi. Wajahnya terlihat sumringah. Mungkin saja kedua teman gilanya itu membenarkan ucapannya tadi. Kyuhyun memang berharap kalau Donghae dan Eunhyuk membantunya. Tapi ia malu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada dua anak gila itu.
                                                ^^
Hari-hari Seohyun semasa SMA sangat menyenangkan setelah akhir-akhir ini ia sering bertemu dengan soonbae-nya yang tampan. Belakangan Seohyun tahun kalau soonbae-nya itu bernama Cho Kyuhyun. Ia tahu dari sahabatnya, Taeyeon. Hampir setiap hari Seohyun bisa merasakan debaran jantungnya yang kencang ketika melihat soonbae-nya itu.
Sampai pada suatu hari Donghae dan Eunhyuk yang berada di kelas dua belas Kimia menghampiri Seohyun yang sedang makan di kantin bersama dengan Taeyeon.
“Seohyun-ssi, apa kau mengenal Cho Kyuhyun?” tanya Donghae begitu ia duduk di sebelah Taeyeon yang berada di hadapan Seohyun.
Seohyun mengangguk. “Ne, aku mengenalnya. Dia sekelas dengan soonbae kan?” tanya Seohyun ramah.
“Seohyun-ssi, jangan memanggil kami dengan soonbae. Panggil kami oppa saja,” ucap Eunhyuk yang duduk di sebelah Seohyun. Seohyun lalu mengagguk.
“Ne oppa,” jawabnya sambil tersenyum.
“Seohyun-ssi, kau tahu kalau Kyuhyun menyukaimu,” ucap Eunhyuk setengah berbisik. Seohyun membekap mulutnya. Matanya melotot mendengar ucapan Eunhyuk. Benarkah?
“Omo!” teriak Taeyeon.
“Jangan berisik,” ucap Donghae. Taeyeon mengangguk.
“Benarkah?” tanya Seohyun dengan mata berbinar. Donghae dan Eunhyuk mengangguk bersamaan.
“Kalau begitu kau harus menulis surat balasan untuk Kyuhyun. Ini surat darinya,” ujar Donghae sambil menyodorkan amplop berwarna biru kepada Seohyun. Padahal surat itu bukan Kyuhyun yang menulis, melainkan Donghae dan Eunhyuk.
‘Annyeong Seohyun-ssi. Namaku Cho Kyuhyun. Apa aku boleh berkenalan denganmu secara langsung?’
Seohyun segera menulis balasan surat Kyuhyun di balik kertas surat Kyuhyun. Dan memberikan surat itu lagi kepada Donghae dan Eunhyuk selanjutnya mereka pergi setelah sebelumnya Donghae memberikan wink kepada Taeyeon yang tersipu.
Sepulang sekolah Seohyun sedang menunggu bus di halte bersama Taeyeon. Tiba-tiba saja Donghae, Eunhyuk dan Kyuhyun mendatangi mereka berdua. Awalnya hanya Taeyeon yang sadar kalau Kyuhyun cs sedang menghampiri mereka. tapi akhirnya Seohyun sadar setelah Taeyeon menyikut lengannya.
“Annyeonghaseo Seohyun-ssi, sedang menunggu bus, ya?” ucap Kyuhyun. Lelaki itu terlihat canggung sekali berbicara dengan Seohyun.
“Ne soonbae,” jawab Seohyun manis. Taeyeon lalu beringsut mundur meninggalkan Seohyun dan Kyuhyun yang sedang berbincang. Ia lalu bergabung bersama dengan Donghae dan Eunhyuk yang sedang meminum coke.
Tiba-tiba saja bus yang akan membawa Seohyun dan Taeyeon pulang berhenti tepat di depan Seohyun.
“Soonbae, aku pulang dulu, ya,” pamit Seohyun. Kyuhyun lalu mengagguk. Sebelum Seohyun masuk ke dalam bus, tiba-tiba saja Kyuhyun menarik tangannya.
“Seohyun-ah, aku akan menemuimu di taman besok sore,” ucap Kyuhyun. Seohyun lalu mengangguk mengiyakan.
Sesampainya dirumah, Seohyun melihat ayah dan ibunya sedang mengepak pakaian mereka.
“Eomma, mau kemana?” tanya Seohyun.
“Besok kita harus pindah Seohyun-ah. Appamu mendapat pekerjaan yang lebih baik di Amerika,” jawab ibu Seohyun. Deg! Seohyun menggeleng keras.
“Aniyo eomma. Aku tidak mau,” tolak Seohyun.
“Seohyun-ah,” panggil ayah Seohyun. Ia lalu mengikuti ayahnya menuju taman belakang rumahnya.
                                                ^^
Hari ini Kyuhyun sangat menunggu kedatangan sore. Ia sudah menyiapkan kata-kata untuk menyatakan perasaannya kepada Seohyun dibantu oleh Donghae dan Eunhyuk, kedua sahabat setianya yang agak gila.
Saat ia dan teman-temannya tiba di taman. Kyuhyun tidak menemui Seohyun.
“Tenang saja bro. mungkin dia sedang dalam perjalanan,” ucap Eunhyuk sambil menepuk pundak Kyuhyun.
Tak lama kemudian, Taeyeon menghampiri Kyuhyun cs sambil terengah-engah.
“Taeyeon-a, ada apa?” ucap Donghae.
“Seohyun, soonbae,” jawab Taeyeon.
“Ada apa dengan Seohyun?” tanya Kyuhyun. Ia langsung berdiri.
“Seohyun hari ini akan pindah ke Amerika. Maaf aku baru memberitahu kalian sekarang. Karena Seohyun juga baru memberitahuku tadi siang, aku tidak tahu nomor handphone salah satu dari kalian, jadi aku tidak bisa menghubungi kalian,” jelas Taeyeon.
Kyuhyun langsung pergi meninggalkan teman-temannya dan juga Taeyeon. Ia merasa sangat kecewa. Orang yang sudah menjadi cinta pertamanya telah mengecewakannya.
Flashback End
                                                ^^
“Sooyoung-a, gwenchanayo?” seru Kyuhyun di telepon.
“Ne, oppa. Gwenchana,” jawab Sooyoung berbohong. Tentu saja hatinya sangat sakit. Dasar setan bodoh.
“Kemana saja kau seharian? Nomormu tidak aktif. Aku mengkhawatirkanmu!!”
Sooyoung menundukkan kepalanya. Ia diam membisu. Seharian ini sengaja ia nonaktifkan handphonenya demi untuk tidak menjawab panggilan dan ribuan pertanyaan dari mulut Kyuhyun.
“Sooyoung-a,” ujar Kyuhyun pelan. “Kita bertemu saja, ya? Aku akan menjemputmu,” bujuk Kyuhyun.
“Andwae oppa. Aku sudah sangat lelah. Aku tidur dulu, ya? Jalja~”
Sooyoung memutuskan sambungan telepon. Dan mencampakkan handphonenya begitu saja. Ia tidak peduli kalau handphonenya rusak atau apalah itu. Yang ia perdulikan sekarang adalah bagaimana cara agar ia bisa melupakan Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun masih terus-terusan menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu.
Sooyoung merebahkan tubuhnya di atas spring bed empuk di kamarnya. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi selimutnya. Saat ini ia sungguh sangat rapuh.
“Aku bukan Sooyoung! Kembalikan Sooyoung yang dulu!”
Sooyoung menghipnotis dirinya sendiri demi menahan air matanya yang sudah menganak sungai.
“Sooyoung-a!!” teriak ibu Sooyoung dari lantai bawah. Sooyoung segera keluar kamarnya setelah sebelumnya menghapus sisa air mata di sudut-sudut matanya.
“O-oppa,” ucap Sooyoung tergagap begitu melihat Kyuhyun yang sudah berdiri di ruang tamu rumahnya.
“Kyuhyun-a, silahkan berbicara dengan Sooyoung. Ahjumma ingin masuk dulu,” pamit ibu Sooyoung.
Sooyoung masih diam mematung di bawah tangga. Sampai tiba-tiba Kyuhyun memeluknya dengan sangat erat.
“Sooyoung-a, aku tahu kau terluka. Mianhae Sooyoungie,” ucap Kyuhyun pelan. Sooyoung mencoba untuk menahan air matanya agar tidak tumpah.
“Oppa, aku baik-baik saja. Sudah kubilang aku lelah. Kenapa kau malah kesini?” ucap Sooyoung.
“Sooyoungie, mianhae. Jeongmal mianhae,” ucap Kyuhyun masih enggan untuk melepaskan pelukannya.
“Oppa, aku tidak apa-apa. Percayalah,” Sooyoung lalu melepaskan pelukan Kyuhyun.
“Dasar bodoh! Kau tidak bisa berbohong kepadaku Sooyoung-a! wajahmu itu menunjukkan kalau kau merasakan sakit!”
“Lalu aku harus apa?!” ucap Sooyoung frustasi. Air mata yang sedari tadi dengan susah payah ia tahan. Kini keluar sesuka hatinya. Membanjiri pipi Sooyoung.
“Sooyoung-a, mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo. Seharusnya aku tidak menerima perjodohan itu.”
“Oppa, pulanglah. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Lebih baik aku tidak melihatmu dari pada aku harus menahan rasa sakit. Disini,” ucap Sooyoung menunjuk dadanya.
“Sooyoung-a. mianhae, jeongmal mianhae.”
“Aku tidak apa-apa Cho Kyuhyun. Pergilah. Kapan pernikahanmu akan berlangsung?”
“Sooyoung-a!”
“Oppa, anggap saja ini hal yang wajar. Anggap saja aku hanya temanmu. Anggap saja kalau kau kesini untuk mengundangku ke pesta pernikahanmu. Arraseo?”
“Apa dengan begitu kau akan merasa baik-baik saja?” tanya Kyuhyun. Sooyoung menganggukkan kepalanya. Ia telah berbohong. Ia merasakan sakit yang teramat sakit. Tapi, apa yang harus ia lakukan?
“Ne, gwenchana.”
“Minggu depan aku akan menikah. Sooyoung-a, kalau kau tidak ingin hadir, tidak apa-apa,” ujar Kyuhyun.
“Sooyoung-a, saranghaeyo,” Kyuhyun menghapus air mata di pipi Sooyoung. Lalu memeluk gadis itu sebentar. Selanjutnya ia pergi meninggalkan Sooyoung yang mati-matian mencoba memasang ekspresi wajah ceria.
                                                ^^
“Seohyun-a, eomoni sudah menentukan di toko mana kalian akan membeli gaun pengantin,” ucap ibu Kyuhyun. Seohyun tersenyum melihat calon mertuanya yang sangat baik kepadanya.
“Tapi, eomoni. Temanku memberiku gaun pengantin,” ucap Seohyun membuat ibu Kyuhyun mengerutkan dahinya.
“Jinjja?”
“Hmm, ne,” jawab Seohyun sambil tersenyum.
“Apa gaun itu bagus?” tanya ibu Kyuhyun.
“Mollaseoyo. Aku belum melihatnya. mungkin nanti bersama Kyuhyun oppa,” jawab Seohyun.
“Ah! Itu ide yang bagus. Sebentar lagi Kyuhyun pulang dari kantor, dan setelah makan malam kalian bisa pergi bersama,” usul ibu Kyuhyun disambut dengan anggukan oleh Seohyun.
Mereka lalu kembali menyiapkan makan malam untuk keluarga Cho. Dalam beberapa hari kedepan Seohyun juga akan memakai nama Cho di depan namanya. Cho Joo Hyun?
Bel rumah keluarga Cho pun berbunyi setelah Seohyun dan ibu Kyuhyun selesai menyiapkan makan malam. Ibu Kyuhyun segera beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu.
“Anak eomma. Sudah pulang? Bagaimana dengan pekerjaan kalian di kantor?” seru ibu Kyuhyun ketika melihat anak laki-laki dan perempuannya itu terlihat oleh matanya.
“Ne eomma. Masih biasa-biasa saja.” Jawab Ah Ra.
“Masuklah, dimana ayah kalian? Di dalam sudah ada Seohyun, tunanganmu,” ucap ibu Kyuhyun kepada Kyuhyun. Kyuhyun mengernyitkan dahinya.
“Seohyun?” tanya Ah Ra antusias.
“Hmm, keurom. Dia sudah menunggu di meja makan. Kajja!”
“Eomma, aku memanggil appa dulu, ya,” ucap Kyuhyun. Ia langsung memanggil ayahnya yang sedang berada di luar rumah.
Selama makan hanya dentingan sendok mereka saja yang terdengar. Seohyun dengan anteng menikmati makanan yang tersaji di hadapannya. Sementara Kyuhyun masih terus memperhatikan Seohyun. Ia tidak percaya kalau Seohyun yang di jodohkan kepadanya adalah Seohyun yang pernah menjadi hoobae-nya di sekolah dulu. Juga Seohyun yang telah mengecewakannya karena pindah ke Amerika tanpa bilang apa pun kepada Kyuhyun. Padahal waktu itu Kyuhyun akan mengatakan perasaannya kepada Seohyun.
 Seohyun masih tidak berubah sejak enam tahun yang lalu. ia malah semakin cantik menurut Kyuhyun. Ia juga semakin terlihat dewasa. Seohyun yang merasa di perhatikan langsung menoleh kearah Kyuhyun. Kyuhyun segera mengalihkan pandangannya ke makanannya. Tapi ia merasa kalau dirinya menjadi salah tingkah. Jantungnya berdebar kencang. Apa ia mulai mencintai Seohyun lagi? Entahlah. Tiba-tiba saja ayah Kyuhyun berbicara.
“Bagaimana dengan pakaian pengantin kalian?”
“Seohyun sudah mempunyai pakaian pengantin. Temannya yang memberikan hadiah itu kepadanya,” jawab ibu Kyuhyun.
“Jinjja?” tanya Ah Ra.
“Ne abeoji. Sahabatku memberikanku hadiah gaun pengantin untuk hari pernikahan kami. Tapi aku belum melihatnya. mungkin nanti. Bersama Kyuhyun,” ucap Seohyun sambil tersenyum.
“Hmm, arraseo. Setelah makan malam kalian boleh pergi melihat pakaian itu. Dan ya, Kyuhyun-a, carilah pakain terbaik untukmu,” ucap ayah Kyuhyun.
“Ne appa.”
                                                ^^
Kyuhyun berjalan berdampingan dengan Seohyun memasuki toko pakaian pengantin. Tiba-tiba saja ia teringat kalau ia pernah kesini bersama dengan Sooyoung. Ah, gadis itu. Bagaimana kabarnya sekarang, ya? Batin Kyuhyun.
“Aku menunggu disini saja, ya?” ucap Kyuhyun. Seohyun lalu mengagguk. Ia juga tidak memaksa Kyuhyun untuk terus mengikutinya. Seohyun lalu berjalan ke lantai atas. Sementara Kyuhyun sudah bermain game di pspnya sambil duduk di sofa empuk berwarna merah. Ia merasa nyaman dengan toko ini. Toh, ini bukan pertama kalinya ia ke toko ini. Beberapa waktu lalu ia masih ingat, ia pernah kesini bersama kekasihnya. Sooyoung.
“Annyeonghaseo agasshi,” sapa penjaga toko ramah dengan badge nama Jessica Jung. Seohyun lalu membalas sapaannya.
“Apa disini toko tempat Choi Sooyoung memesan gaun pengantin?” tanya Seohyun.
“Hmm, ne. kenapa?” tanya Jessica.
“Aku yang akan mengambil gaun pengantin milik Sooyoung. Apa aku bisa melihatnya?”
“Keurom. Silahkan ikut saya.”
Seohyun memandangi gaun-gaun pengantin yang terpajang di manekin dengan takjub. Tapi, setibanya ia melihat gaun pengantin dihadapannya ia semakin takjub.
“Neomu yeppeo,” puji Seohyun.
“Agasshi, inilah gaun yang dipesan Choi Sooyoung,” ucap Jessica.
“Jinjja?” tanya Seohyun tidak percaya. Menurutnya Sooyoung baik sekali memberikan gaun pengantin seindah ini untuknya.
“Ne agasshi. Kapan kami bisa mengantarkan gaun ini?”
“Empat hari lagi. Alamat gedungnya akan ku kirim lewat pesan,” jawab Seohyun.
“Ne agasshi. Gamsahamnida,” ucap Jessica sembari membungkukkan badannya. Selanjutnya Seohyun pergi meninggalkan lantai atas.
                                                ^^
“Baik sekali Taeyeon memberikan hadiah gaun pengantin untukmu,” ucap Kyuhyun ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang.
“Aniya. Bukan Taeyeon. Taeyeon sudah menikah dan tinggal di Kanada sekarang,” kata Seohyun sambil tersenyum.
“Bukan? Lalu siapa? Setahuku temanmu hanya Taeyeon.”
“Kau pikir temanku hanya Taeyeon? Aku punya sahabat baru sekarang. Kami bertemu di pantai beberapa hari lalu.”
Mereka lalu terdiam. Sibuk dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba saja Kyuhyun kembali berbicara.
“Seohyun-a,” ucap Kyuhyun pelan.
“Ne oppa.”
“Kenapa kau meninggalkanku enam tahun yang lalu?”
Seohyun sontak menoleh kearah Kyuhyun.
“Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu.”
“Lalu kenapa kau pergi ke Amerika tanpa memberitahuku?” tanya Kyuhyun.
“O-oppa,” ucap Seohyun tergagap. “Mi-mianhaeyo,” lanjtunya lagi. Gadis itu menundukkan kepalanya.
“Waktu itu. Aku sangat kecewa terhadapmu. Aku merasa dibohongi. Padahal, itu pertama kalinya aku mencintai seorang gadis.”
Seohyun menatap Kyuhyun lekat. Beberapa detik kemudian Kyuhyun menolehkan wajahnya untuk melihat Seohyun.
“Kenapa?”
“A-aku, cinta pertamamu?” tanya Seohyun tidak percaya. Ia pikir Kyuhyun sama saja seperti Donghae dan Eunhyuk dulu yang suka bergonta-ganti pacar.
“Aku tidak sama seperti Donghae dan Eunhyuk, Seo-ah,” ucap Kyuhyun seperti menebak isi pikiran Seohyun.
“O-oppa, mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo,” ucap Seohyun pelan. Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat bersalah telah meninggalkan Kyuhyun enam tahun lalu tanpa pemberitahuan. Tanpa di sadarinya, setetes air matanya jatuh membasahi pipinya.
“Seohyun-a,” ucap Kyuhyun begitu menyadari Seohyun sudah terisak. Kyuhyun segera menepikan mobilnya untuk menenangkan Seohyun.
“Seohyun-a, aku tidak apa-apa. Dulu aku memang sangat kecewa terhadapmu. Kita bisa memulainya lagi sekarang,” Kyuhyun berani bersumpah demi apa pun, ucapannya barusan sama sekali di luar akal sehatnya. Tapi hatinya memerintahkan dirinya untuk mengatakan itu. Apa dia sudah melupakan Sooyoung? Bukan begitu, tapi mungkin dia akan membuka lembaran baru bersama Seohyun. Bagaimana dengan Sooyoung?
“Oppa, aku masih menyimpan perasaanku padamu selama aku jauh darimu. Perasaanku tidak berubah sejak enam tahun lalu. sejak aku sering melihatmu di halaman parkir di sekolah kita dulu. Perasaanku padamu malah semakin besar. Makanya setibanya aku berada di Korea, aku langsung mencarimu.”
Kyuhyun tertegun mendengar ucapan Seohyun. Tidak bisa di pungkiri, Seohyun adalah cinta pertamanya.
“Awal-awal aku tinggal di Amerika, aku sama sekali tidak pernah melewati sedetik pun tanpa memikirkanmu.”
“…..”
“Kau adalah cinta pertamaku Cho Kyuhyun,” ucap Seohyun semakin terisak. Dengan sigap Kyuhyun memeluk Seohyun. Ia jadi menyesal telah mengirimkan pesan dengan kata-kata yang kasar kepada Seohyun tempo hari.
“Aku akan menikah denganmu Seo-ah. Uljima,” ucap Kyuhyun membelai rambut Seohyun.
                                                ^^
Hari pernikahan Kyuhyun dan Seohyun sedang berlangsung. Seohyun dengan anggun berjalan di altar bergandengan dengan ayahnya. Di ujung sana, Cho Kyuhyun terlihat sangat tampan menanti calon istrinya. Tiba-tiba saja Kyuhyun kaget ketika melihat gaun yang dikenakan Seohyun. Seperti gaun yang ia pesan dengan Sooyoung beberapa waktu lalu.
Ya! Cho Kyuhyun! Berhenti memikirkan Sooyoung. Calon istrimu sudah berada dihadapanmu. Lagi pula, gaun seperti yang kau pesan dengan Sooyoung itu tidak tercipta hanya satu. Batin Kyuhyun.
Banyak sekali teman-teman Kyuhyun semasa SMA datang. Teman-teman Seohyun di Amerika beberapa orang juga ada yang datang. Tapi Kyuhyun dan Seohyun terlihat memikirkan sesuatu. Mereka menunggu seseorang. Orang yang sama. Choi Sooyoung.
“Kau memikirkan sesuatu?” tanya Kyuhyun tepat di telinga Seohyun.
“Ne oppa. Aku menunggu sahabatku,” ucap Seohyun.
“Kim Taeyeon, bukannya dia sudah disini?” kata Kyuhyun lagi.
“Oppa sudah kubilang temanku bukan hanya Taeyeon. Ah itu dia, Sooyoung-ah!!”
Seohyun berjalan menghampiri Sooyoung yang berjalan anggun dengan dress hijaunya. Seperti di sambar petir beribu-ribu volt, Kyuhyun sangat kaget melihat Sooyoung. Ia sama sekali tidak pernah berpikir kalau sahabat Seohyun adalah Choi Sooyoung, mantan kekasihnya.
“Sooyoung-ah, ini suamiku. Namanya Cho Kyuhyun,” ucap Seohyun memperkenalkan Kyuhyun kepada Sooyoung. Dari sorot mata Sooyoung, Kyuhyun tahu apa yang dimaksud gadis itu.
“Annyeonghaseo Cho Kyuhyun-ssi. Nan, Choi Sooyong imnida,” ucap Sooyoung pura-pura tidak mengenal Kyuhyun.
“A-annyeonghaseo Choi Sooyoung-ssi,” jawab Kyuhyun sedikit tergagap. Demi apapun Kyuhyun berani bersumpah kalau Sooyoung adalah wanita tertegar yang pernah ia temui.
“Seohyun-a, kau cantik sekali memakai gaun ini,” puji Sooyoung, Seohyun tersenyum malu.
“Sooyoung-ah, gaun ini milikmu. Seharusnya kau yang memakai gaun ini di hari pernikahanmu. Aku tidak tahu caranya berterima kasih kepadamu, Sooyoung-ah,” ucap Seohyun.
Kyuhyun membenarkan kalau dugaannya tadi benar, gaun yang di kenakan Seohyun adalah gaun milik Sooyoung. Gaun yang mereka pesan beberapa waktu lalu. ketika mereka masih menjalin sebuah hubungan special.
                                                ^^
“Sooyoung-ah, gwenchanayo?” ucap Kyuhyun. Ketika Seohyun pergi untuk mengubah tatanan rambutnya karena Seohyun merasa tidak nyaman dengan tatanan rambutnya tadi.
“Aku tidak apa-apa Cho Kyuhyun. Berhenti menanyakan itu kepadaku. Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku minta kepadamu, kita seperti ini saja, seperti yang dianggap oleh Seohyun, bahwa kita baru kenal tadi. Entah mengapa, sejak pertama kali aku berkenalan dengannya di pantai. Aku merasa sayang kepadanya.”
“…” Kyuhyun diam. Dia tidak bisa berbicara. Perasaannya campur aduk.
“Jadi, kau jangan sekali-sekali menyakitinya. Dia sudah kuanggap saudaraku sendiri,” ancam Sooyoung.
“Cih! Tentu saja, aku berjanji kepadamu aku tidak akan menyakiti Seohyun apa pun ceritanya,” janji Kyuhyun.
“It’s a promise, Cho Kyuhyun.”
“Sooyoung-ah, bagaimana dengan tatanan rambutku ini?” tanya Seohyun yang sudah kembali dengan tatanan rambut baru.
“Seohyun-ah, Kyuhyun sangat beruntung bisa memiliki istri sepertimu. Benarkan Kyuhyun-ssi?” ucap Sooyoung membuat Kyuhyun mengangguk. Tapi perasaannya mengatakan kalau ia tidak percaya Sooyoung baik-baik saja.
“Seohyun-ah, ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu. Kuharap kau baik-baik saja. Jadilah istri yang baik untuk Kyuhyun. Lusa aku akan pindah ke Kanada.”
Kyuhyun sontak menoleh kearah Sooyoung. Dugaannya benar, Sooyoung tidak baik. Dia akan pergi ke Kanada agar ia tidak menyimpan luka terlalu dalam disini, di negeri bernama Korea Selatan ini.
“Sooyoung-ah, aku menyayangimu,” ucap Seohyun. Air matanya terjatuh. Sooyoung lengsung memeluk Seohyun.
“Aku juga menyayangimu Seohyun-a, uljima,” ucap Sooyoung membelai rambut Seohyun.
~END~

Contact Me!

Young Lady behind the Scenes

Young Lady behind the Scenes

Recent Posts

    Blog List

    Advertisement

    Translate

    Facebook

    Blogger templates

    About

    Pages - Menu