A Young Lady ~♥

Welcome to Sabil's blog. A blog about random things to share!

My Overprotective

By 02.35

Tadi pagi aku dikabari oleh Shanaya. Imam, pacarku saat aku kuliah, dia telah melangsungkan pernikahannya hari ini. Dia adalah pacarku yang paling overprotective, dan dialah yang paling susah dilupakan sebenarnya. Setelah dia pindah ke Beijing dan kami putus kontak, aku berpacaran dengan Yogas, seniorku dikampus.Bahkan saat berpacaran dengan Yogas aku masih mencintai Imam. Karena Yogas tak se-perhatian Imam walau terkadang Imam sangat berlebihan. Dia selalu memperhatikan apa yang kulakukan selama dirumah, walaupun dia tidak melihatku dia tahu apa yang sedang kulakukan. Oh! Dia bukan peramal.Tentu saja dia tahu dari mama atau dari mas-ku. Tapi terkadang sikap perhatian yang terlalu berlebihan yang dia miliki membuatku merasa tidak bebas.Terkadang aku sangat ingin bebas.Pergi bersama teman-temanku tanpa dia disampingku. Shanaya, Fabiola, dan Katrin sangat iri padaku, karena pacar mereka tidak se-perhatian Imam. Tapi aku sungguh benar-benar tidak nyaman dengan keadaan seperti itu.Dia tidak mengekang sebenarnya.Tapi dia selalu ingin berada disampingku kemanapun aku pergi.Itu yang membuatku sulit melupakannya. Aku jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.Saat aku masih duduk dibangku kuliah. “La, kamu dimana?” saat Imam menelponku, kegiatan rutinnya setiap tiga jam sekali. Saat itu aku sedang memasukkan kaki-kaki mungilku ke flatshoes ungu pemberian mas Ferdy.“Dirumah, tapi benter lagi aku mau berangkat.” “Mau kemana kamu?” nada suaranya seketika meninggi. “Ke birthday party-nya Shanaya.”Aku menyahutinya cuek. “Kamu tunggu bentar.Aku yang nganterin kamu.” “Eh, nggak usah.Aku perginya bareng Fabi bareng Katrin kok.” Selanjutnya sudah kuduga, sambungan teleponnya dimatikan, dan dia pasti sedang bersiap-siap menjemputku.Tak mendengarkan ucapan terakhirku tadi. Aku segera melesat keluar. Dihalaman rumahku Honda Jazz merah Fabiola sudah terparkir manis disana. “Bi, gue perginya bareng Imam.Kalian duluan aja.Entar gue nyusul.”Ucapku risi.Merasa tidak enak dengan Fabiola dan Katrin yang suda menunggu dari tadi demi aku. “Oh yaudah deh.Jangan cemberut dong.Sweet banget deh si Imam.”Katrin menyahut sambil memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya. Aku hanya memaksakan sebuah tawa kecil, memegangi leherku, dan mengangguk kearah mereka. “Yaudah, kita pergi dulu ya beb.”Fabi menutup kaca jendela mobilnya, menarik sudut-sudut bibirnya, selanjutnya dia meluncur keluar gerbang dan menghilang di perempatan jalan. Aku duduk diayunan didepan rumahku.Memainkan rumput-rumput yang mulai tinggi dengan ujung sepatuku. Menunggu Imam menjemputku. Kusandarkan tubuhku disandaran ayunan. Mataku sedikit silau dengan kerlip krystal berbentuk buah cherry tertimpa bias matahari yang lumayan terik. Kupegang liontin itu, menggantung manis dileherku dengan bantuan kalung emas putih milik mama. Tak lama suara deru motor yang kukenali terdengar di telingaku. Imam sudah sampai dengan kemeja berwarna ungu. “Kayanya aku nggak ada ngasih tau kamu kalo aku pake baju ungu deh.”Sahutku begitu dia tiba dihadapanku. “Itu tandanya kita jodoh sayang.”Dia menjentikkan jarinya didahiku. Aku hanya memanyunkan bibir sambil bangkit dari ayunan. “Senyum dong.”Rajuknya padaku. “Ih bawel banget deh.”Saat ini aku memang tidak ingin tersenyum. “Fila jelek tau kalo cemberut gitu.”Ucapnya diiringi dengan gelak tawanya yang khas.Kupaksakan sebuah senyuman tipis untuknya.Pasti wajahku menjadi aneh sekarang dengan senyum seperti ini.Biarlah yang penting senyum, pikirku.  Kami sudah tiba didepan rumah Shanaya.Mobil dan motor teman-teman kampusku sudah terparkir rapih dihalaman rumah Shanaya. “Ayo.” Imam mengulurkan tangan kearahku. Kugapai tangannya yang besar dan hangat itu.Sudut bibirnya membentuk simetris.Dia tampan hari ini. Sampai didepan rumah, kami disambut oleh mama Shanaya.Aku biasanya memanggilnya dengan sebutan mama.Karena aku, Shanaya, Fabiola dan Katrin sudah berteman lama sejak kami duduk di bangku SMP. “Masuk aja Fi.Pestanya dibelakang.” Sahut mama Shanaya begitu aku dan Imam menyalaminya. Kupikir pestanya didalam rumah.Ternyata garden party. Diadakan di taman belakang rumah Shanaya yang cukup lebar. Usai acara tiup lilin ternyata di pesta ini Shanaya menghidangkan banyak makanan.Tapi sayangnya ada beberapa makanan yang tidak bisa kumakan karena aku alergi. Aku bergabung dengan Fabiola dan Katrin yang asyik berdiri didepan meja berisikan pudding penuh.Mereka asyik menikmati pudding cokelat.Aku jadi ingin memakannya. “Fi, ini enak loh.Cobain deh.”Katrin menyuapkan sesendok pudding cokelat kearahku.Aku membuka mulutku.Tapi sebelum aku memakannya, sebuah tangan menghantam sendok itu dengan sedikit keras.Membuat sendok itu terjatuh ke tanah.Aku dan Katrin terkejut.Begitu juga dengan Fabiola. “Imam, apa-apaan sih?” ucapku sedikit membentak kearahnya.Menurutku dia sudah keterlaluan. “Kamu lupa kalo kamu nggak bisa makan cokelat La?” jawabnya pelan. “Tapi nggak kaya tadi juga caranya.”Ucapku kesal. “Kamu aku panggil juga nggak liat.Jadi jangan salahin aku kalo aku gitu.”Jawabnya santai. Plak!! Satu tamparan keras dari tanganku mendarat dipipinya.Aku terkejut dengan perlakuanku barusan.Kupandangi tanganku yang membuat pipi kirinya menjadi memerah seperti itu. Dia menatap wajahku nanar. Aku memegang pipinya sambil berbisik “Imam, sorry.” “Iya..Iya udah nggak apa-apa.”Ucapnya singkat, selanjutnya dia pergi dari hadapanku.Aku jadi merasa bersalah. Dia kan sebenarnya memperhatikan kesehatanku. Tapi kenapa aku jadi gini? Katrin menepuk pundakku pelan.“Fi, maafin gue ya.Gara-gara gue nih jadi kaya gini.” “Yaudahlah Rin, udah terlanjur juga kan.” Sahutku sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru taman. Mencari-cari sosok Imam. Tapi dia tak terlihat sama sekali. Mungkin dia pulang. Imam sorry.. Aku berjalan menuju keluar rumah Shanaya. Fabi tadi berjanji akan mengantarkanku pulang. Tapi saat aku baru saja menginjakkan kaki diteras rumah Shanaya sosok Imam masih terduduk disana. Menangkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya. “Imam.”Gumamku pelan.Kuraih kepalanya, mengelusnya pelan.Dia mengangkat wajahnya.Menatap wajahku, oh tidak mataku tepatnya.Seperti meyelami isi pikiranku. “Fi, gue duluan aja ya.”Fabi berbisik dibelakangku disambut dengan anggukan kecil dariku. “Udah selesai? Yaudah ayo, gue anterin lo pulang.” Hatiku sakit, tidak pernah selama kami berpacaran Imam memakai bahasa lo-gue kepadaku. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah motornya.Aku hanya mengikutinya dari belakang.Menundukkan kepalaku. “lo nggak bawa jaket atau apalah gitu? Ini udah malem.”Ucapnya dingin sambil memakai helm.Aku menggelengkan kepalaku pelan. Dia memberikan jaket biru yang sedari tadi bertengger manis di jok motornya kearahku. “kamu make apa?” ucapku pelan. “gue nggak mau dimarahin bokap lo, Cuma karena gue nganterin lo pulang dalam keadaan kaku kedinginan.” Sahutnya sambil menyalakan mesin motornya.Aku menurut saja. Saat itu aku terduduk di atas motornya.Wajahnya terlihat mengeras dan menegang.Aku ingin menanyakannya lagi.Tapi aku takut.Takut dia membentakku seperti tadi. Imam..kamu kenapa? “Pegangan.Aku buru-buru.”Aku tersentak kaget. Beberapa detik setelahnya aku bisa menguasai diri, walau dalam beberapa detik masih mencerna perkataannya barusan. Kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya.Dia melajukan motornya kencang.Kami sedang dalam perjalanan pulang, menuju rumahku.Dia adalah lelaki yang bertanggung jawab.Tadi siang dia yang membawaku pergi dan ini sudah malam, dia juga mengantarkanku pulang. Dia melajukan motornya sangat kencang, membuat aku mengeratkan lingkaran tanganku di pinggangnya.Membenamkan wajahku dibahunya yang tidak terlalu tegap.Wangi feromonnya merasuk kedalam hidungku.Kupejamkan kedua mataku.Meresapi keadaan yang sebenarnya tidak jarang kualami. Tak terasa motornya sudah berhenti, tepat didepan gerbang rumahku.Tapi aku benar-benar mengantuk.Malas sekali rasanya untuk membuka mataku.Dia sedikit memiringkan badannya untuk melihat keadaanku. “La.. Fila..udah nyampe.” Ucapnya pelan sambil sedikit menguncang kepalaku dengan tangan kirinya.Kulepaskan lingkaran tanganku dipinggangnya.Sedikit membetulkan posisi dudukku dan mengucek-ngucek kedua mataku. “kamu ngantuk? Mau aku anterin?” Imam..walau dalam keadaan marahpun kamu masih memperdulikanku. Aku sedikit menganggukkan kepalaku.Dia turun dari motornya dan membantuku turun.Selanjutnya dia membantuku berjalan menuju pintu rumahku. “Imam.Kamu masih marah sama aku?” aku mengucap pelan, takut dia marah lagi.Wajahnya kembali menegang. “Imam.Maafin aku.”Aku memelas. “Kita bicarain ini besok.Kamu masuk aja.Ini udah malem banget.Aku pulang dulu ya.”Imam, kamu kok gitu sih?Aku tak bisa berucap lagi kalau dia sudah begitu.Dia berbalik badan, berjalan meuju motornya. “Imam!Tunggu!” dia membalikkan badannya. Memasang wajah seperti menanyakan ‘ada apa?’ “Jaketnya?” aku sedikit mengacungkan ujung jaketnya yang kebesaran ditubuhku. “Pake aja dulu.” Dia berbalik badan lagi.Kupandangi bahunya dari belakang.Tak terasa air mataku menetes.Aku begitu bodoh.Sore itu aku benar-benar bodoh.Kubuka pintu rumahku setelah tak kulihat lagi motornya yang sudah berbelok ke perempatan jalan. Kurebahkan tubuhku dikasur.Memandangi langit-langit yang bintangnya sudah berkilauan.Bukan bintang asli. Bintang imitasi yang diberikan Imam beberapa bulan yang lalu. Karena aku sangat suka melihat bintang. Dan demi melihat indahnya bintang aku rela duduk dibalkon rumahku sampai jam 2 pagi. Dan esoknya tentu aku demam, juga tidak masuk kuliah.  Banyak hal yang aku lalui selama 2 tahun bersama dengan Imam.Membuatku sulit melupakannya, bahkan sampai sekarangpun aku masih mengingatnya.Dia paling sulit dilupakan.Tapi yah mau bagaimana lagi, dia bukanlah jodohku.Aku harus merelakannya walau kenyataannya isi hatiku tak sebanding dengan yang ada di pikiranku. Aku benar-benar ingat malam dimana Imam berkata kalau dia akan pindah ke Beijing bersama orangtuanya. Entah kenapa hari itu Imam mengajakku dinner. Padahal tak ada perayaan apapun dalam hubungan kami.Anniversary masih dua bulan lagi.Ulang tahunku sudah lewat.Ulang tahunnya juga sudah lewat. Saat itu aku menunggu Imam di ruang teve.Menontoni papa dan mas Ferdy yang asyik bermain PlayStation. Tak lama, kudengar suara bel dari luar. Aku buru-buru melesat keluar setelah sebelumnya menyelipkan kaki-kaki mungilku di flatshoes berwarna peach dan berpamitan dengan papa. Tampak sosok Imam yang tampan saat aku baru saja membuka pintu. “Udah siap?Kita pergi sekarang.”Ucapnya sumringah, dia langsung berbalik badan.Aku mengikutinya menuju keluar. Oh dimana motornya? Kulihat Imam sudah berdiri didepan mobil berwarna silver yang terparkir anggun di halaman rumahku. Dia membuka pintu dan mendahuluiku masuk ke mobil. Dia bahkan tak susah payah membukakan pintu mobil untukku. Aku memakluminya saja.Mungkin dia lupa. Kami tiba disebuah restoran Jepang. Imam mendahuluiku masuk ke restoran itu. Sedangkan aku mengikutinya dari belakang. Saat ini aku dan Imam duduk berhadapan. “La ada satu hal yang mau aku omongin kekamu.” Ucapnya setelah sekian menit kami berkelana dalam pikiran kami masing-masing. “Apa?” pikiranku menebak-nebak apa yang akan diucapkannya. “Lusa aku sama keluarga aku pindah ke Beijing.”Ucapnya berat. Aku bungkam.Tak bisa berkata-kata lagi. “Sorry kalo aku baru bilang ke kamu sekarang La.” Dia menundukkan kepalanya.Aku menundukkan kepalaku sedalam yang kubisa. “Fila. Sorry..” lirihnya pelan. Kuangkat kepalaku demi melihat wajah nanarnya. “Iya.Aku nggak apa-apa.Kita kan masih bisa LDR.”Ucapku sambil memaksakan sebuah senyuman, airmataku jatuh disaat yang tidak tepat seperti ini.“Aku udah nggak pengen ngapa-ngapain lagi.Kita pulang aja.” Imam mengangguk dan menuntunku menuju mobilnya. Didalam mobil aku tidak mengucapkan sepatah katapun padanya. Butiran bening terus saja menetes dari kedua mataku, membuah raut wajah Imam semakin merasa menyesal. “Fila.”Gumamnya pelan.Sepersekian detik berikutnya tubuhku hanyut dalam dekapannya yang hangat.Mungkin ini dekapan terakhirnya untukku. “I love you.” Gumamnya sambil menghapus kedua pipiku dengan ibu jarinya.Aku membalasnya dengan senyuman kecil. Sejak saat itu aku tak pernah bersama dengan Imam, tak juga pernah bertemu hingga detik ini. Itu adalah hal yang paling manis dan perpisahan paling menyakitkan yang pernah ada dihidupku. Tak mungkin selamanya aku menjalin hubungan dengan orang lain dalam baying-bayang Imam. Perlahan aku mencoba melupakannya.Walaupun sangat sulit untukku. Tiba-tiba lantunan lagu Marry You-nya Bruno Mars menggema di ruangan kamarku. Memecah lamunanku.Aku melirik handphone-ku.Meraihnya dan melihat siapa yang menelpon tengah malam seperti ini. “Ya?” ucapku malas. “Kok kamu belum tidur? Kalo kamu sakit gimana?” ucap seseorang diseberang sana. “kamu sendiri? Kenapa belum tidur?” “Yeh ditanya malah balik nanya. Aku ngecek doang, kalo diangkat kan berarti kamunya belum tidur.” Gelak tawa terdengar dari seberang sana. “Oh ya, besok jangan lupa ya.Fitting busananya jam 2 siang.Aku jemput kamu.Oke. Bye sayang.” Belum sempat aku menjawab, sambungan teleponnya sudah diputus. Alfa, tunanganku yang juga overprotective seperti Imam membuatku mudah melupakan sosok Imam dan mulai menerima Alfa didalam hidupku. Kumatikan lampu kamarku dan kutarik selimut yang sedari tadi menutupi kakiku.Tak terasa aku terlelap dalam buaian puteri tidur.

You Might Also Like

0 komentar

Kamis, 10 Oktober 2013

My Overprotective

Tadi pagi aku dikabari oleh Shanaya. Imam, pacarku saat aku kuliah, dia telah melangsungkan pernikahannya hari ini. Dia adalah pacarku yang paling overprotective, dan dialah yang paling susah dilupakan sebenarnya. Setelah dia pindah ke Beijing dan kami putus kontak, aku berpacaran dengan Yogas, seniorku dikampus.Bahkan saat berpacaran dengan Yogas aku masih mencintai Imam. Karena Yogas tak se-perhatian Imam walau terkadang Imam sangat berlebihan. Dia selalu memperhatikan apa yang kulakukan selama dirumah, walaupun dia tidak melihatku dia tahu apa yang sedang kulakukan. Oh! Dia bukan peramal.Tentu saja dia tahu dari mama atau dari mas-ku. Tapi terkadang sikap perhatian yang terlalu berlebihan yang dia miliki membuatku merasa tidak bebas.Terkadang aku sangat ingin bebas.Pergi bersama teman-temanku tanpa dia disampingku. Shanaya, Fabiola, dan Katrin sangat iri padaku, karena pacar mereka tidak se-perhatian Imam. Tapi aku sungguh benar-benar tidak nyaman dengan keadaan seperti itu.Dia tidak mengekang sebenarnya.Tapi dia selalu ingin berada disampingku kemanapun aku pergi.Itu yang membuatku sulit melupakannya. Aku jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.Saat aku masih duduk dibangku kuliah. “La, kamu dimana?” saat Imam menelponku, kegiatan rutinnya setiap tiga jam sekali. Saat itu aku sedang memasukkan kaki-kaki mungilku ke flatshoes ungu pemberian mas Ferdy.“Dirumah, tapi benter lagi aku mau berangkat.” “Mau kemana kamu?” nada suaranya seketika meninggi. “Ke birthday party-nya Shanaya.”Aku menyahutinya cuek. “Kamu tunggu bentar.Aku yang nganterin kamu.” “Eh, nggak usah.Aku perginya bareng Fabi bareng Katrin kok.” Selanjutnya sudah kuduga, sambungan teleponnya dimatikan, dan dia pasti sedang bersiap-siap menjemputku.Tak mendengarkan ucapan terakhirku tadi. Aku segera melesat keluar. Dihalaman rumahku Honda Jazz merah Fabiola sudah terparkir manis disana. “Bi, gue perginya bareng Imam.Kalian duluan aja.Entar gue nyusul.”Ucapku risi.Merasa tidak enak dengan Fabiola dan Katrin yang suda menunggu dari tadi demi aku. “Oh yaudah deh.Jangan cemberut dong.Sweet banget deh si Imam.”Katrin menyahut sambil memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya. Aku hanya memaksakan sebuah tawa kecil, memegangi leherku, dan mengangguk kearah mereka. “Yaudah, kita pergi dulu ya beb.”Fabi menutup kaca jendela mobilnya, menarik sudut-sudut bibirnya, selanjutnya dia meluncur keluar gerbang dan menghilang di perempatan jalan. Aku duduk diayunan didepan rumahku.Memainkan rumput-rumput yang mulai tinggi dengan ujung sepatuku. Menunggu Imam menjemputku. Kusandarkan tubuhku disandaran ayunan. Mataku sedikit silau dengan kerlip krystal berbentuk buah cherry tertimpa bias matahari yang lumayan terik. Kupegang liontin itu, menggantung manis dileherku dengan bantuan kalung emas putih milik mama. Tak lama suara deru motor yang kukenali terdengar di telingaku. Imam sudah sampai dengan kemeja berwarna ungu. “Kayanya aku nggak ada ngasih tau kamu kalo aku pake baju ungu deh.”Sahutku begitu dia tiba dihadapanku. “Itu tandanya kita jodoh sayang.”Dia menjentikkan jarinya didahiku. Aku hanya memanyunkan bibir sambil bangkit dari ayunan. “Senyum dong.”Rajuknya padaku. “Ih bawel banget deh.”Saat ini aku memang tidak ingin tersenyum. “Fila jelek tau kalo cemberut gitu.”Ucapnya diiringi dengan gelak tawanya yang khas.Kupaksakan sebuah senyuman tipis untuknya.Pasti wajahku menjadi aneh sekarang dengan senyum seperti ini.Biarlah yang penting senyum, pikirku.  Kami sudah tiba didepan rumah Shanaya.Mobil dan motor teman-teman kampusku sudah terparkir rapih dihalaman rumah Shanaya. “Ayo.” Imam mengulurkan tangan kearahku. Kugapai tangannya yang besar dan hangat itu.Sudut bibirnya membentuk simetris.Dia tampan hari ini. Sampai didepan rumah, kami disambut oleh mama Shanaya.Aku biasanya memanggilnya dengan sebutan mama.Karena aku, Shanaya, Fabiola dan Katrin sudah berteman lama sejak kami duduk di bangku SMP. “Masuk aja Fi.Pestanya dibelakang.” Sahut mama Shanaya begitu aku dan Imam menyalaminya. Kupikir pestanya didalam rumah.Ternyata garden party. Diadakan di taman belakang rumah Shanaya yang cukup lebar. Usai acara tiup lilin ternyata di pesta ini Shanaya menghidangkan banyak makanan.Tapi sayangnya ada beberapa makanan yang tidak bisa kumakan karena aku alergi. Aku bergabung dengan Fabiola dan Katrin yang asyik berdiri didepan meja berisikan pudding penuh.Mereka asyik menikmati pudding cokelat.Aku jadi ingin memakannya. “Fi, ini enak loh.Cobain deh.”Katrin menyuapkan sesendok pudding cokelat kearahku.Aku membuka mulutku.Tapi sebelum aku memakannya, sebuah tangan menghantam sendok itu dengan sedikit keras.Membuat sendok itu terjatuh ke tanah.Aku dan Katrin terkejut.Begitu juga dengan Fabiola. “Imam, apa-apaan sih?” ucapku sedikit membentak kearahnya.Menurutku dia sudah keterlaluan. “Kamu lupa kalo kamu nggak bisa makan cokelat La?” jawabnya pelan. “Tapi nggak kaya tadi juga caranya.”Ucapku kesal. “Kamu aku panggil juga nggak liat.Jadi jangan salahin aku kalo aku gitu.”Jawabnya santai. Plak!! Satu tamparan keras dari tanganku mendarat dipipinya.Aku terkejut dengan perlakuanku barusan.Kupandangi tanganku yang membuat pipi kirinya menjadi memerah seperti itu. Dia menatap wajahku nanar. Aku memegang pipinya sambil berbisik “Imam, sorry.” “Iya..Iya udah nggak apa-apa.”Ucapnya singkat, selanjutnya dia pergi dari hadapanku.Aku jadi merasa bersalah. Dia kan sebenarnya memperhatikan kesehatanku. Tapi kenapa aku jadi gini? Katrin menepuk pundakku pelan.“Fi, maafin gue ya.Gara-gara gue nih jadi kaya gini.” “Yaudahlah Rin, udah terlanjur juga kan.” Sahutku sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru taman. Mencari-cari sosok Imam. Tapi dia tak terlihat sama sekali. Mungkin dia pulang. Imam sorry.. Aku berjalan menuju keluar rumah Shanaya. Fabi tadi berjanji akan mengantarkanku pulang. Tapi saat aku baru saja menginjakkan kaki diteras rumah Shanaya sosok Imam masih terduduk disana. Menangkupkan wajahnya di kedua telapak tangannya. “Imam.”Gumamku pelan.Kuraih kepalanya, mengelusnya pelan.Dia mengangkat wajahnya.Menatap wajahku, oh tidak mataku tepatnya.Seperti meyelami isi pikiranku. “Fi, gue duluan aja ya.”Fabi berbisik dibelakangku disambut dengan anggukan kecil dariku. “Udah selesai? Yaudah ayo, gue anterin lo pulang.” Hatiku sakit, tidak pernah selama kami berpacaran Imam memakai bahasa lo-gue kepadaku. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah motornya.Aku hanya mengikutinya dari belakang.Menundukkan kepalaku. “lo nggak bawa jaket atau apalah gitu? Ini udah malem.”Ucapnya dingin sambil memakai helm.Aku menggelengkan kepalaku pelan. Dia memberikan jaket biru yang sedari tadi bertengger manis di jok motornya kearahku. “kamu make apa?” ucapku pelan. “gue nggak mau dimarahin bokap lo, Cuma karena gue nganterin lo pulang dalam keadaan kaku kedinginan.” Sahutnya sambil menyalakan mesin motornya.Aku menurut saja. Saat itu aku terduduk di atas motornya.Wajahnya terlihat mengeras dan menegang.Aku ingin menanyakannya lagi.Tapi aku takut.Takut dia membentakku seperti tadi. Imam..kamu kenapa? “Pegangan.Aku buru-buru.”Aku tersentak kaget. Beberapa detik setelahnya aku bisa menguasai diri, walau dalam beberapa detik masih mencerna perkataannya barusan. Kulingkarkan kedua tanganku di pinggangnya.Dia melajukan motornya kencang.Kami sedang dalam perjalanan pulang, menuju rumahku.Dia adalah lelaki yang bertanggung jawab.Tadi siang dia yang membawaku pergi dan ini sudah malam, dia juga mengantarkanku pulang. Dia melajukan motornya sangat kencang, membuat aku mengeratkan lingkaran tanganku di pinggangnya.Membenamkan wajahku dibahunya yang tidak terlalu tegap.Wangi feromonnya merasuk kedalam hidungku.Kupejamkan kedua mataku.Meresapi keadaan yang sebenarnya tidak jarang kualami. Tak terasa motornya sudah berhenti, tepat didepan gerbang rumahku.Tapi aku benar-benar mengantuk.Malas sekali rasanya untuk membuka mataku.Dia sedikit memiringkan badannya untuk melihat keadaanku. “La.. Fila..udah nyampe.” Ucapnya pelan sambil sedikit menguncang kepalaku dengan tangan kirinya.Kulepaskan lingkaran tanganku dipinggangnya.Sedikit membetulkan posisi dudukku dan mengucek-ngucek kedua mataku. “kamu ngantuk? Mau aku anterin?” Imam..walau dalam keadaan marahpun kamu masih memperdulikanku. Aku sedikit menganggukkan kepalaku.Dia turun dari motornya dan membantuku turun.Selanjutnya dia membantuku berjalan menuju pintu rumahku. “Imam.Kamu masih marah sama aku?” aku mengucap pelan, takut dia marah lagi.Wajahnya kembali menegang. “Imam.Maafin aku.”Aku memelas. “Kita bicarain ini besok.Kamu masuk aja.Ini udah malem banget.Aku pulang dulu ya.”Imam, kamu kok gitu sih?Aku tak bisa berucap lagi kalau dia sudah begitu.Dia berbalik badan, berjalan meuju motornya. “Imam!Tunggu!” dia membalikkan badannya. Memasang wajah seperti menanyakan ‘ada apa?’ “Jaketnya?” aku sedikit mengacungkan ujung jaketnya yang kebesaran ditubuhku. “Pake aja dulu.” Dia berbalik badan lagi.Kupandangi bahunya dari belakang.Tak terasa air mataku menetes.Aku begitu bodoh.Sore itu aku benar-benar bodoh.Kubuka pintu rumahku setelah tak kulihat lagi motornya yang sudah berbelok ke perempatan jalan. Kurebahkan tubuhku dikasur.Memandangi langit-langit yang bintangnya sudah berkilauan.Bukan bintang asli. Bintang imitasi yang diberikan Imam beberapa bulan yang lalu. Karena aku sangat suka melihat bintang. Dan demi melihat indahnya bintang aku rela duduk dibalkon rumahku sampai jam 2 pagi. Dan esoknya tentu aku demam, juga tidak masuk kuliah.  Banyak hal yang aku lalui selama 2 tahun bersama dengan Imam.Membuatku sulit melupakannya, bahkan sampai sekarangpun aku masih mengingatnya.Dia paling sulit dilupakan.Tapi yah mau bagaimana lagi, dia bukanlah jodohku.Aku harus merelakannya walau kenyataannya isi hatiku tak sebanding dengan yang ada di pikiranku. Aku benar-benar ingat malam dimana Imam berkata kalau dia akan pindah ke Beijing bersama orangtuanya. Entah kenapa hari itu Imam mengajakku dinner. Padahal tak ada perayaan apapun dalam hubungan kami.Anniversary masih dua bulan lagi.Ulang tahunku sudah lewat.Ulang tahunnya juga sudah lewat. Saat itu aku menunggu Imam di ruang teve.Menontoni papa dan mas Ferdy yang asyik bermain PlayStation. Tak lama, kudengar suara bel dari luar. Aku buru-buru melesat keluar setelah sebelumnya menyelipkan kaki-kaki mungilku di flatshoes berwarna peach dan berpamitan dengan papa. Tampak sosok Imam yang tampan saat aku baru saja membuka pintu. “Udah siap?Kita pergi sekarang.”Ucapnya sumringah, dia langsung berbalik badan.Aku mengikutinya menuju keluar. Oh dimana motornya? Kulihat Imam sudah berdiri didepan mobil berwarna silver yang terparkir anggun di halaman rumahku. Dia membuka pintu dan mendahuluiku masuk ke mobil. Dia bahkan tak susah payah membukakan pintu mobil untukku. Aku memakluminya saja.Mungkin dia lupa. Kami tiba disebuah restoran Jepang. Imam mendahuluiku masuk ke restoran itu. Sedangkan aku mengikutinya dari belakang. Saat ini aku dan Imam duduk berhadapan. “La ada satu hal yang mau aku omongin kekamu.” Ucapnya setelah sekian menit kami berkelana dalam pikiran kami masing-masing. “Apa?” pikiranku menebak-nebak apa yang akan diucapkannya. “Lusa aku sama keluarga aku pindah ke Beijing.”Ucapnya berat. Aku bungkam.Tak bisa berkata-kata lagi. “Sorry kalo aku baru bilang ke kamu sekarang La.” Dia menundukkan kepalanya.Aku menundukkan kepalaku sedalam yang kubisa. “Fila. Sorry..” lirihnya pelan. Kuangkat kepalaku demi melihat wajah nanarnya. “Iya.Aku nggak apa-apa.Kita kan masih bisa LDR.”Ucapku sambil memaksakan sebuah senyuman, airmataku jatuh disaat yang tidak tepat seperti ini.“Aku udah nggak pengen ngapa-ngapain lagi.Kita pulang aja.” Imam mengangguk dan menuntunku menuju mobilnya. Didalam mobil aku tidak mengucapkan sepatah katapun padanya. Butiran bening terus saja menetes dari kedua mataku, membuah raut wajah Imam semakin merasa menyesal. “Fila.”Gumamnya pelan.Sepersekian detik berikutnya tubuhku hanyut dalam dekapannya yang hangat.Mungkin ini dekapan terakhirnya untukku. “I love you.” Gumamnya sambil menghapus kedua pipiku dengan ibu jarinya.Aku membalasnya dengan senyuman kecil. Sejak saat itu aku tak pernah bersama dengan Imam, tak juga pernah bertemu hingga detik ini. Itu adalah hal yang paling manis dan perpisahan paling menyakitkan yang pernah ada dihidupku. Tak mungkin selamanya aku menjalin hubungan dengan orang lain dalam baying-bayang Imam. Perlahan aku mencoba melupakannya.Walaupun sangat sulit untukku. Tiba-tiba lantunan lagu Marry You-nya Bruno Mars menggema di ruangan kamarku. Memecah lamunanku.Aku melirik handphone-ku.Meraihnya dan melihat siapa yang menelpon tengah malam seperti ini. “Ya?” ucapku malas. “Kok kamu belum tidur? Kalo kamu sakit gimana?” ucap seseorang diseberang sana. “kamu sendiri? Kenapa belum tidur?” “Yeh ditanya malah balik nanya. Aku ngecek doang, kalo diangkat kan berarti kamunya belum tidur.” Gelak tawa terdengar dari seberang sana. “Oh ya, besok jangan lupa ya.Fitting busananya jam 2 siang.Aku jemput kamu.Oke. Bye sayang.” Belum sempat aku menjawab, sambungan teleponnya sudah diputus. Alfa, tunanganku yang juga overprotective seperti Imam membuatku mudah melupakan sosok Imam dan mulai menerima Alfa didalam hidupku. Kumatikan lampu kamarku dan kutarik selimut yang sedari tadi menutupi kakiku.Tak terasa aku terlelap dalam buaian puteri tidur.
Posting Komentar